PELAKITA.ID – Buku ini penulis beli di tahun 2007, saat bekerja di proyek ABD ETESP Fisheries dan berkantor di Kota Banda Aceh, sebagai Spesialis Pembangunan Sosial untuk proyek rehabilitasi perikanan Aceh-Nias. Buku ini belum sepenuhnya tuntas tapi selalu menarik untuk dibawa ke mana pun bepergian.
Kepada anda semua, penulis membagikan kata pengantar oleh penulisnya, Piotr Sztompka. Berikut paparannya.
___
Kajian perubahan sosial merupakan inti sosiologi. Hampir semua kajian sosiologi berkaitan dengan perubahan sosial.
Setiap teori ilmu sosial, apa pun titik tolak konseptualnya, tentu akan tertuju pada perubahan yang menggambarkan realitas sosial. (Haferkamp & Smelser: 1)
Isu perubahan sosial telah menjadi sasaran kajian sosiologi sejak awal kelahirannya. Sosiologi lahir pada abad 19 sebagai upaya memahami transformasi fundamental dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, yakni munculnya tatanan masyarakat urban, industrial dan kapitalis.
Piotr Sztompka
SOSIOLOGI PERUBAHAN SOSIAL
© 1993 Piotr Sztompka
Edisi Pertama, Cetakan Ke-3Judul asli: The Sociology of Social Change
Dialihbahasakan oleh: Alimandan
Diedit oleh: Tri Wibowo Budi Santoso
Di pengujung abad 20 ini, kita juga mengalami transisi radikal serupa, yakni dari kejayaan modernitas yang secara bertahap menjangkau ke seluruh dunia, menuju ke bentuk kehidupan sosial baru, yang masih meragukan untuk disebut pascamodern.
Kebutuhan untuk memahami perubahan sosial yang terus-menerus ini benar-benar dirasakan baik oleh orang kebanyakan maupun oleh para sosiolog.
Pada 1970-an tampak bahwa gambaran paling menonjol dari kehidupan kontemporer adalah langkah-langkah revolusioner perubahan sosial.
Segala aspek kehidupan kita dipengaruhinya, tak ada yang luput: seni, ilmu, agama, moral, pendidikan, politik, ekonomi, kehidupan keluarga, bahkan juga aspek terdalam dari kehidupan kita (Lenski & Lenski 1974: 3). Perubahan sosial revolusioner ini makin tampak jelas ketika kita bergerak makin dekat ke ujung abad 20.
Suasana kontemporer ini dilukiskan Giddens seperti berikut: Kita kini hidup di era perubahan sosial yang mengagumkan, yang ditandai oleh transformasi yang sangat berbeda dari yang pernah terjadi di era sebelumnya. Keruntuhan sosialisme Soviet, makin berkurangnya pembagian kekuasaan dunia atas dua blok, pembangunan sistem komunikasi global yang makin intensif, makin berjayanya kapitalisme ketika kesenjangan dunia makin parah dan meluasnya masalah ekologi. Semua persoalan itu menjadi tantangan ilmu sosial dan tantangan itu harus dihadapinya.
(1991: XV)
Tujuan buku ini adalah menyediakan peralatan intelektual dasar untuk menganalisis, menafsirkan, dan memahami perubahan sosial, terutama pada skala historis atau teori sosiologi-makro. Peralatan intelektual ini sebenarnya dapat dicari di tiga bidang utama:
Di dalam pemikiran berdasarkan akal sehat (common sense). Orang tentu mempunyai ide, gagasan dan bayangan longgar mengenai perubahan sosial sejak mereka mulai memikirkan kehidupan mereka sendiri.
Di dalam filsafat sosial dan politik, yang meningkatkan pemikiran berdasarkan akal sehat ke tingkat pencarian makna dan penerapan doktrin yang rasional.
Di dalam ilmu sosial, yang mulai menerapkan metode riset ilmiah berorientasi fakta untuk mengubah realitas sosial, mendapatkan konsep, model dan teori yang lebih tepat dan berdasarkan fakta empiris.
Kita hanya memusatkan perhatian pada kajian perubahan sosial berdasarkan pendekatan ilmiah semata, khususnya yang terdapat dalam disiplin sosiologi. Itu sebabnya buku ini diberi judul Teori Perubahan Sosial.
Selama hampir dua abad, sosiologi telah menumpuk sejumlah besar konsep, model dan teori tentang perubahan sosial dan selama itu pula pendekatannya telah berubah dengan sendirinya.
Lalu bagian mana yang harus dimasukkan ke dalam inventaris kita? Haruskah kita semata-mata memperhatikan kecenderungan paling mutakhir saja dan melupakan semua konsep, model dan teori yang tergolong sudah kuno? Jawaban tegasnya: tidak.
Salah satu kebijakan sosiologi paling berharga adalah doktrin historisisme. Untuk memahami fenomena kontemporer, kita harus melihat ke belakang, ke asal-usul dan proses yang menyebabkannya.
Pernyataan ini juga berlaku di bidang ide: mustahil dapat memahami pemikiran kontemporer tentang perubahan sosial tanpa mengenal konsep kuno yang membahas masalah yang sama dan teori kuno yang ingin ditentangnya. Kita akan mengikuti konsep ini. Namun, itu tak berarti bahwa tujuan kita hendak menelusuri silsilah intelektual, kaitannya dan rentetan semua teori perubahan sosial yang telah dikemukakan sejak lahirnya sosiologi.
Rancangan kita bukanlah menelusuri sejarah pemikiran perubahan sosial, tetapi menganalisis sosiologis secara sistematis. Karena itu, dengan melihat ke belakang, kita boleh memilih, mengabaikan konsepsi atau bahkan keseluruhan “aliran” yang telah terbukti mandek, yang menyebabkan kebuntuan perkembangan intelektual. Sebaliknya, kita hanya akan memerhatikan pemikiran teoritis yang masih hidup dan berpengaruh saja.
Kita pun lebih berupaya membuat membuat penjelasan sistematis ketimbang kronologis; kurang memerhatikan aspek batas waktu ketimbang logikanya.
Karena buku ini ditujukan kepada mahasiswa (meski tidak eksklusif), saya mencoba bersikap subjektif mungkin, dengan menyajikan setiap teori seperti apa adanya. Namun, tentu saja saya memiliki keyakinan teoritis sendiri.
Sebagai contoh, saya kebetulan meyakini adanya arah yang jelas dalam perubahan teori perubahan sosial yang berkembang melalui proses sosial yang sangat berbeda dari perkembangan secara mekanistis yang secara tak terelakkan terus meningkat. Menurut saya, perubahan teori perubahan sosial mengarah pada penekanan peran agen manusia, ketergantungan peristiwa dan keterbukaan masa depan.
Logika evolusi intelektual ini tercermin dalam susunan buku ini yang dimulai dari pendekatan klasik tentang perkembangan sosial dan disusul dengan penjelasan tentang teori keselarasan sosial sebagai hasil perkembangan terkini dalam memahami perubahan sosial kontemporer. Dalam memberikan penjelasan, saya berupaya bersikap “sedingin” dan subjektif mungkin.
Tetapi di bagian kesimpulan, pendirian saya akan terbuka. Bagaimanapun juga buku ini memuat pesan. Pandangan saya takkan dirahasiakan, tetapi justru terbuka untuk diteliti dan didebat secara kritis.
Bagian terbesar buku ini menyajikan dan menjelaskan teori sosiologi tentang perubahan. Argumentasinya sebagian besar tetap berada pada tingkat konsepsi dan wawasan. Fakta historis konkret hanya dimasukkan sejauh menyediakan ilustrasi bagi konsep, model dan teori perubahan sosial tertentu.
Karena itu pembaca akan mampu mempelajari secara tak langsung mengenai masyarakat kontemporer atau masyarakat masa lalu, hanya dengan menemukan fakta dan datanya.
Tujuan kita bukanlah untuk menghubungkan apa yang telah dan sedang terjadi, bagaimana dan ke mana arah perubahan sosial, tetapi lebih bermaksud menyediakan teropong untuk melihat sendiri dengan lebih jelas dan lebih jauh. Atau secara metaforis, saya ingin memasok bahasa, pola berpikir, membentuk imajinasi yang diperlukan untuk berpikir kritis dan membicarakan tentang perubahan sosial.
Dapatkah tujuan ini dipertahankan atas dasar praktis? Apa gunanya pengetahuan konseptual dan teoritis yang dikemukakan dalam buku ini? Disini kita harus menggunakan wawasan sosiologis penting lainnya, yakni prinsip yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang masyarakat manusia mempunyai akibat praktis langsung dan segera.
Apa yang dipikirkan orang tentang perubahan sosial sangat besar perannya dalam mendorong orang untuk bertindak, dan karena itu sangat besar pengaruhnya terhadap jalannya perubahan sosial beserta prospeknya.
Dalam hal ini, memperkaya pengetahuan mengenai perubahan secara praktis sama artinya dengan menciptakan perubahan. Gagasan tentang perubahan menjadi sumber ide untuk memperkenalkan perubahan.
Semakin banyak sumber daya yang tersedia, semakin beragam konsep, model dan teori yang tersedia, akan semakin mendalam dan semakin kritis penguasaannya, semakin disadari tindakan yang akan dilakukan, baik tindakan sehari-hari rakyat biasa maupun tindakan aktor kolektif seperti: kelompok tugas, organisasi, gerakan sosial, pemerintah, dan sebagainya. Luasnya cakupan dan kedalaman imajinasi sosiologis merupakan faktor penting yang menentukan nasib masyarakat.
Premis yang dikemukakan di atas menjadi pedoman logika dan konstruksi internal buku ini.
Bagian I menjelaskan konsep fundamental, yang menjadi standar untuk studi perubahan, seperti perubahan sosial itu sendiri, proses sosial, pembentukan sosial, kerangka historis dan sebagainya. Juga dibahas konsep yang lebih banyak diperdebatkan seperti: kemajuan sosial, waktu sosial, tradisi historis, modernitas dan globalisasi.
Bagian II membahas tiga pandangan teoritis tentang sejarah manusia yang meninggalkan pengaruh terkuat terhadap imajinasi kemasyarakatan dan sosiologis, menyediakan kerangka konsepsi dan penafsiran tentang perubahan sosial di kalangan orang kebanyakan maupun para sosiolog. Pandangan teoritis yang dimaksud adalah: evolusionisme, teori lingkaran sejarah dan materialisme historis.
Ketiga pandangan ini dibahas dalam bentuk yang ortodoks, ekstrem, serta dalam bentuk pandangan yang lebih terbuka. Akan ditunjukkan juga bahwa, meskipun menghadapi berbagai kritik, ketiga pandangan teoritis itu tetap berpengaruh kuat terhadap pemikiran kontemporer, memberikan landasan berpikir menurut akal sehat dan tetap bertahan dalam karya sosiologis dengan formulasi baru.
Tetapi dalam jangka panjang, teori sosiologis tampaknya semakin jauh meninggalkan pandangan historis umum itu dan semakin mendekati analisis waktu dan tempat terjadinya perubahan sosial yang lebih konkret, yang dihasilkan oleh aktor individual atau kolektif yang dapat dikenali.
Kecenderungan ini dianalisis di Bagian III yang melacak gerakan teoritis baru yang menentang paham developmentalism dan mengarah ke teori yang saya sebut teori keselarasan sosial (Sztompka, 1991b).
Teori ini bersumber dari dua kecenderungan teoritis yang berpengaruh: teori agen (agency) dan sosiologi-sejarah. Ini menawarkan pendekatan alternatif keempat dalam studi perubahan sosial.
Pendekatan ini menggantikan ketiga pendekatan tradisional terdahulu dan menyediakan peralatan analisis paling memadai untuk menafsirkan transformasi masyarakat kontemporer.
Dalam kerangka pendekatan ini, terbuka peluang untuk studi khusus mekanisme perubahan konkret maupun studi peran berbagai jenis agen dalam membantu perubahan.
___
Ditulis dari buku Sosiologi Perubahan Sosial, Piotr Sztompka
