Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan
PELAKITA.ID – Dingin menyapa dari ketinggian 1.200 meter, menelusup pelan lewat celah pinus yang menjulang di lereng Pegunungan Bawakaraeng.
Di sini, di sebuah lembah yang tertata oleh waktu dan batu kapur yang sunyi, kota kecil bernama Malino menyimpan kisah panjang: dari tapak sejarah kolonial, denyut spiritualitas, hingga janji masa depan yang ditenun melalui kampanye bertajuk Beautiful Malino.

Jejak yang Tertulis di Embun
Sejak awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda mencium pesona Malino sebagai tempat peristirahatan para pejabat.
Vila-vila berpilar kayu dibangun, jalan setapak dibuka melintasi hutan tropis, menjadikan Malino sebagai permata tersembunyi di Sulawesi Selatan. Namun, pesona itu hanyalah awal dari babak panjang lainnya.
Pada tahun 1946, Malino menjadi saksi sebuah konferensi bersejarah. Di ruang dingin sebuah vila tua, tokoh-tokoh bangsa menegosiasikan masa depan republik yang baru lahir. Keputusan-keputusan penting lahir di sana, perlahan seperti kabut pagi, namun menentukan arah republik ini.
Simfoni Ekologi di Setiap Lembah
Langit Malino tak pernah benar-benar biru. Ia selalu bercampur kabut—seperti puisi yang tak selesai ditulis. Dari udara basahnya tumbuh kebun-kebun hortikultura: stroberi, hortensia, mawar, dan wortel gemuk—hasil kerja petani pegunungan yang menjaga siklus alam dengan tangan dan intuisi.
Gunung Bawakaraeng tak hanya menjulang dalam lanskap, tapi juga dalam keyakinan. Bagi masyarakat setempat, ia adalah ruang spiritual—tempat ziarah, perenungan, dan ritus sakral.
Keanekaragaman hayati Malino—burung jalak suren, anggrek hutan, lumut epifit—menjadi bukti bahwa tempat ini bukan hanya indah, tapi juga vital bagi keberlanjutan.
Beautiful Malino: Lebih dari Sekadar Festival
Diluncurkan sebagai kampanye pariwisata pada 2017, Beautiful Malino mengusung konsep yang melampaui estetika bunga dan panggung musik. Ia adalah upaya kolektif untuk memulihkan identitas lokal dan merajut kembali relasi manusia dengan alam.
Setiap tahunnya, taman bunga tematik, pertunjukan seni, hingga pasar UMKM digelar dalam suasana yang membiarkan tradisi dan modernitas berdialog tanpa saling membungkam. Tarian etnik Bugis dan Makassar tampil tanpa kehilangan makna—memberi ruang perjumpaan antara warisan dan tren.
Pendekatan ekologis menjadi napas utama: pembangunan infrastruktur wisata diselaraskan dengan daya dukung lingkungan. Jalan setapak dari batu alam, pengelolaan limbah, serta pelatihan sadar lingkungan bagi pelaku wisata menjadikan Malino sebagai model mikro ekowisata yang tumbuh dari kearifan lokal.
Tantangan dan Asa Malino
Meski semilir dan tampak tenang, Malino berada di titik genting. Lonjakan jumlah pengunjung memberi tekanan pada kawasan hutan. Komersialisasi tradisi pun menjadi ancaman nyata. Jika tidak hati-hati, yang tersisa hanya lanskap indah yang kehilangan roh budaya.
Namun harapan tetap tumbuh. Pendidikan berbasis ekowisata, kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, dan akademisi mulai dirintis. Anak-anak muda terlibat aktif dalam pelestarian, mengembangkan peta wisata berbasis QR code, dokumentasi budaya, hingga pemantauan hutan dengan drone.
Malino Sebagai Ruang Kesadaran
Sebagaimana lanskapnya yang bergerak antara kabut dan terang, Malino hadir sebagai metafora: ruang pembelajaran tentang kesadaran bagaimana manusia seharusnya bersahabat dengan ruang hidupnya. Kemajuan tidak semata diukur dengan aspal dan beton, tetapi dari harmoni antara tradisi dan perubahan.
Di tempat di mana embun adalah bahasa dan angin membawa ingatan, Malino mengingatkan kita bahwa tempat-tempat kecil bisa menjadi pusat pembelajaran global—jika dijaga, didengar, dan dihormati.
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”
