OBROLAN BILIK SEBELAH: Mendayagunakan semangat ‘Masyarakat Sastra Tamalanrea’  di era disrupsi

  • Whatsapp
Foro bersama setelah aksi alumni membaca puisi di Gedung FIB Unhas (dok: K. Azis)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Kita bisa sepakat di sini: dunia yang mengalami disrupsi seperti banyak disangkakan periset, pakar, filsuf hingga influencer dunia mewujud pada sekurangnya empat gejala.

Apa saja gejala dan penggambarannya?

Pertama, ambivalensi ucapan dan janji-janji perubahan yang menerapkan standar ganda. Ambivalensi bisa menjelma pada kebijakan, aksi dan pernyataan di depan publik.

Ada pemimpin yang mengatakan desa kita perlu melindungi produk UMKM dalam desa, kita perlu jaga swasembada beras dan garam. Tapi di sisi lain dia memasukkan produk desa lain dan tak peduli jerit tangis warganya.

Kedua, dunia yang disrupsi, dimana ada ketidakpastian masa depan. Resesi, krisis, perubahan iklim, perang, pandemi. Kita seperti kehilangan kekuatan untuk membaca peta jalan keselamatan dan menyiapkan logistik masa depan.

Ketiga, dunia yang disrupsi karena adanya kerentanan sosial, ekologi, ekonomi. Yang kaya makin kaya, yang miskin didera penyakit aneh. Ebola, Aids hingga Covid-19.

Tapi mengapa pula semakin banyak orang yang pamer punci-pundi dan abai pada warga di belakang istananya? Saat yang lain mengais-kais makanan di sisi restoran cepat saji? Atau yang mengantri beras di ujung senja?

Keempat, dunia yang rumit bak Gerak Brown. Kita tidak tahu simpul masalahnya di mana, dan siapa yang bisa diikuti saran solusinya. India beli minyak Rusia dikira sekutu oleh Uni Eropa dan Paman Sam. Indonesia beli benda elektronik dari China, di-bombe‘ sama Biden.

Sosodara, pada tingkat regional dan lokal, kita menyaksikan hal serupa. Korupsi dana desa, korupsi bantuan beras, hidup semakin susah dari waktu ke waktu. Orang-orang harus berinisiatif mencari jalan keluar. Juga alumni Unhas.

Pikiran kalut, hati gelap, tangan menyiksa, bukan sebaliknya. “Manusia macam apa itu?” kata Fidel Castro.

“Bisa jadi karena kita sudah tidak lagi menggunakan hati dan atensi kita untuk membantu sesama. Terlalu banyak yang ingin menonjol meski mengabaikan hati nuraninya, temannya, kolega seperjuangannya,” kurang lebih seperti itu obrolan saya dengan Ketua Harian IKA Unhas Sulsel, Harus Ar Raysid dan Dr Sakka Pati pada suatu sore di Plazgoz di jantung Kota Makassar sebelum Tetta Marwan Hussein dan Azis LBH merapat.

“Kita hidupkan lagi semangat Humaniora dari kampus?” ucapku sembari melanjutkan. “Kakak SP ini keren kalau baca puisi, saya saksinya saat kita reuni di FIB empat tahun lalu,” tambahku.

“Konkretnya, hidupkan lagi kesusastraan yang teraplikasi, seperti IKJ Jakarta itu. Mereka konkret. Berkesenian, teknis sekali dan memang ini dibutuhkan banyak orang,” balas Harun.

Pendek tanya, bisakah Kampus seperti Unhas yang punya Fakultas Ilmu Bahasa itu juga bisa melahirkan para pekerja seni, konten creator, pelaku sastra, aktif berkesenian dan tidak menjadi beban ketika selesai kuliah?

Lalu sampailah kami untuk menyampaikan di grup WA alumni Unhas ‘Kolaborasi Alumni Unhas’, dan kita sebut saja Obrolan Bilik Sebelah.

Apa itu?

Pertama, mari kita undang para pelaku sejarah kesusastraan Unhas Tamalanrea untuk memperkaya perspektif berkesenian dan kerja-kerja seni kita.

Mari kita menggelar karpet merah untuk para alena beliau seperti Muahry Wahyu Nurba, Sudirman Nasir, Hednragunawan S. Thayf, hingga Aslan Abidin. Mereka adalah icola para gegadis di zamannya, mereka pilar Masyarakat Sastra Tamalanrea yang moncer saat itu.

Sudi adalah akademisi FKM Unhas dan kiprahnya internasional. Hendra kini filsuf yang melahirkan banyak inspirasi. Muhary kini mengelola jurnal Magribi.ID, lalu Aslan jadi pengampu mata kuliah kesusastraan di UNM. Mereka hebat, mereka sahabat kita.

Kedua, mari mulai membuka ruang diskusi, menguak, mengidentifikasi faktor-faktor berpengaruh pada kerja-kerja sastrat kontemporer di Makassar dengan menggelar obrolan warung kopi yang sehat dan produktif. “Masa’ tiap hari sanging politik dibahas?” sungut Harun.

Ketiga, mari membuka ajang kecil tapi penuh makna: Semisak, Saweran Puisi di salah satu warkop ternama dan strategis di Makassar. Ayo Unhas!

Keempat, mari bersama membujuk kalau perlu buat hashtag dengan kata kunci, “Sastra Kampus Kembali” untuk menghidupkan kerna-kerja kreatif sastra sebagaimana IKJ dan lain-lain di Tanah Jawa survive menyambung nyawa mahasiswa dan alumninya.

Pak Harun, Sakka Pati, Tetta Marwan, Azis LBH, dan pembaca sekalian, “Apakah mendayagunakan aksi dan potensi sastra itu ngefek?”

Bisa, jika ini bisa dimulai saya kira kita bisa mengerem ketidakpastian global-lokal, kerentanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan kita semua, minimal dengan menghibur diri dengan puisi atau nyanyian meski ujung bedil di depan mata.

 

Denun
Tamarunang, 26 Januari 2023.

 

 

 

 

Related posts