Dr Abd. Rahman Bando dan inovasi di ranah pendidikan Kota Makassar (Bagian keempat)

  • Whatsapp
Dr Abd. Rahman Bando (dok: istimewa)

“Sudah luntur ini kultur, kita cenderung untuk saling mempermalukan. Orang Sulsel yang duduk di level nasional cenderung mau dipermalukan.” Dr Abd Rahman Bando

 

Read More

PELAKITA.ID – Selama tujuh bulan, Dr Rahman Bando pernah menjadi Kepala Dinas Pendidikan.

“Saya jadi Kadis mulai 14 Desember 2018. bersamaan pelaksanaan seleksi Sekda,” katanya.

“Yang menarik, waktu itu, selama satu bulan pertama, saya identifikasi dan mendata potensi kependidikan Kota Makassar,” jelasnya.

“Kita ada sekitar 240 ribu siswa, hampir 40 persen penduduk diurus satu dinas, sekitar 25 sampai 27 rbu murid TK dan 140 ribu anak SD dan sekitar 75 ribu anak SMP,” beber Rahman.

“Waktu saya datang, ada sekitar 499 SD, 363 SD Negeri dan 136 swasta waktu itu. SMP negeri cuma 45, swasta 160-an lebih, 163 kalau tidka salah. Tidak mungkin bisa alumni SD terserap semua. Total bisa mencapai 26 ribu, daya tampung untuk kelas I itu hanya 12 rribu, 14 ribu harus jadi ke swasta,” katanya.

Itu realitas pendidikan dasar dan menengah di Kota Makassar. Untuk lebih mendalaminya, Rahman menggiatkan kunjungan ke sekolah-sekolah.

“Setiap saya keluar rumah, saya hampir minimal 4-5 sekolah di Makassar,” katanya.

“Saya pasti menuju sekolah dulu, tujuannya mengubah mindset. Banyak orang kira Kadis itu duduk di kantor mengikuti rapat, menunggu kepala sekolah datang, tapi sebetulnya tugas saya ada di sekolah,” katanya.

“Dari situ, saya bisa membaca masalahnya,” ucapnya.

Rahman menemukan sekolah yang siswanya berjejal. Ruang sekolah menampung kapasitas di luar semestinya, tapi ada juga yang kelasnya nyaris kosong.

“Ini ada ide, saya menemukan ada 2 SD hanya 120 siswa, saya bilang ini inefisien, setiap satu SD dikelola oleh 10 orang, ada 6 guru kelas, tambah dua guru mata pelajaran, tambah satu bujang sekolah, tambah 1 kepsek, 10 orang. Saya gabung karena ini pemborosan,” katanya.

Rahman menyebut ada 1459 guru SD Negeri di Makassar dan kekurangan 492 orang guru SMP dari berbagai mata pelajaran.

“Dalam tempo 3 bulan setengah, saya lakukan re-grouping, mengelompokkan sekolah-sekolah, satu kawasan, satu lokasi, ada yang 4 SD di dalam, ada yang cuma 2 atau tiga, nah saya contohkan, ada sekolah Kompleks Lariangbangi, total siswa tidak cukup 700, saya gabung jadi satu Kepala Sekolah, langsung saya dirikan satu SMP, saya bilang, gabung sudah, di aturan itu, 28 bisa sampai 32 siswa malah,” paparnya.

Capaian Rahman adalah berdirinya SMP 46.

“Modalnya baliho, 1 x 1,5 hingga berdiri SMP Negeri 46. Itu tidak cukup 50 ribu bisa sampai ada sekolah baru,” katanya beranalogi tentang re-grouping yang efisien dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Berapa lama Rahman memfasilitasi itu?

“Tiga bulan setengah saya selesaikan, jadi SMP, buka dulu regulasinya, masak swasta bisa sewa dan kita punya gedung sendiri? Maka berdirilah itu sampai SMP 55, saya dirikan dengan pertimbangan jarak dan sebaran dimana penduduknya banyak,” jelasnya.

Rahman bangga, pada 2 Mei 2019, sekolah itu diresmikan.

“Izin lengkap, Wali Kota Makassar yang resmikan, tanggal 22 Juni 2019 sudah penerimaan siswa baru, tanggal 15 Juli sudah sekolah,” ucapnya.

Rahman menjadi pemimpin upacara pada hari pertama sekolah di SMP Maccini, Kecamatan Maassar.

“Sejak berdiri Kota Makassar, belum pernah ada sekolah negeri di Kecamatan Maakassar. Dengan kita, untuk level SMP dan SMA, dua langsung, 1500 siswa diterima untuk untuk 10 SMP, ini berarti ada 3000 anak Makassar yang bisa saja putus sekolah jika tidak ada sekolah baru ini.

“Apa yang kita lakukan itu diapresiasi oleh Mendikbud, Muhadjir Effendi. Saya video koneferesni, itu tentang sekolah tanpa anggaran,” ucapnya.

Banyak hal yang ada di benak Dr Abd. Rahman Bando jika dikaitkan Makassar ke depan. “

“Ke depan, banyak inovasi yang akan kita dorong. Terutama di Barombong, jauh betul itu kalau mau masuk SMP,” ucapnya.

“Jadi banyak inovasi, parisiwsta, perikanan. Harapan kita, pariwisata seperti Lantebung, jadi jadi blue print untuk pengembangan pariwisata, jangan selalu terkendala anggaran,” tambahnya.

“Sebelum saya pegawai, bahkan mahasiwa pun sudah berbisnis, kadang saya dilihat kawan bawa karung, mereka gensi bahkan tertawai saya, saya tidak menghabiskan waktu di kantin kampus tapi berjualan komoditi asal kampung halaman,” katanya.

Saat jadi pejabat di Makassar, Rahman menyerahkan bisnisnya ke keluarga.

“Kita tunggu laporan saja, tidak ada konflik, apalagi memang tidak ada hubungannya dengan tupoksi saya saat itu,” pungkasnya.

 

Tim Pelakita.ID

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *