Unhas Ukir Sejarah, Hattrick Juara Umum PIMNAS

  • Whatsapp
“Alhamdulillah, dengan persaingan yang ketat kami bisa membuktikan hasil dari proses panjang yang sudah dijalani adik-adik mahasiswa kita,” ujar Prof. Muhammad Ruslin, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, sesaat setelah pembacaan keputusan dewan juri yang menetapkan Unhas sebagai juara umum PIMNAS ke-39.
Laporan Rusman Madjulekka dari Semarang

PELAKITA.ID – SEMARANG. Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mencatatkan sejarah dalam kompetisi ilmiah mahasiswa tingkat nasional. Setelah dua tahun berturut-turut meraih gelar juara umum, mahasiswa Unhas akhirnya mengukuhkan pencapaian hattrick pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang berlangsung di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jumat (6/11/2026).

Dalam kompetisi ilmiah bergengsi tersebut, delegasi mahasiswa Unhas berhasil mengumpulkan 15 medali emas, 5 medali perak, dan 9 medali perunggu dari seluruh kategori poster dan presentasi yang diperlombakan.

Raihan ini sekaligus mengantarkan Unhas kembali ke puncak kompetisi nasional yang mempertemukan karya-karya terbaik mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Pencapaian tersebut bukan sekadar kemenangan, tetapi juga realisasi target yang telah dicanangkan sebelumnya. Di balik keberhasilan itu, terdapat proses panjang pembinaan, pendampingan, penguatan riset, dan persiapan intensif yang dijalani para mahasiswa sebelum berlaga di panggung PIMNAS.

“Alhamdulillah, dengan persaingan yang ketat kami bisa membuktikan hasil dari proses panjang yang sudah dijalani adik-adik mahasiswa kita,” ujar Prof. Muhammad Ruslin, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, sesaat setelah pembacaan keputusan dewan juri yang menetapkan Unhas sebagai juara umum PIMNAS ke-39.

Kegembiraan Prof. Ruslin tampak jelas setelah pengumuman tersebut. Ia terus menerima ucapan selamat dari kolega dan sesama pimpinan perguruan tinggi yang turut menyaksikan keberhasilan Unhas mempertahankan gelar juara umum untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

“Pak Rektor Unhas juga langsung video call memberikan ucapan selamat atas prestasi ini,” tuturnya, menggambarkan suasana haru dan kebanggaan atas pencapaian yang menjadi catatan penting bagi perjalanan akademik Unhas.

Pada PIMNAS ke-39 tahun ini, Unhas meloloskan 34 tim yang melibatkan 166 mahasiswa. Jumlah tersebut menempatkan Unhas pada peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi dengan jumlah tim terbanyak yang berhasil lolos ke ajang ilmiah tahunan tersebut, setelah Universitas Gadjah Mada (UGM).

PIMNAS merupakan kompetisi puncak Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mempresentasikan hasil kreativitas, inovasi, dan penelitian mereka.

Ajang ini sekaligus menjadi arena pembuktian kapasitas akademik, kemampuan berpikir kritis, serta daya saing mahasiswa di tingkat nasional.

Bagi Prof. Ruslin, keberhasilan meraih hattrick memiliki makna lebih luas daripada sekadar mempertahankan gelar juara.

Prestasi tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mempertegas kemampuan Unhas bersaing dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa yang selama ini kerap mendominasi kompetisi PIMNAS.

“Sungguh terasa istimewa karena yang kami kalahkan bukan perguruan tinggi ecek-ecek,” ujarnya dengan nada optimistis.

Ruslin menyebut mahasiswa yang berhasil mengukir prestasi tersebut sebagai “generasi emas” Unhas.

Menurutnya, capaian ini menjadi momentum untuk mengembalikan marwah akademik universitas yang dibangun melalui proses panjang, sekaligus mengikis stigma negatif yang selama ini melekat pada mahasiswa Unhas.

Keberhasilan tersebut, lanjutnya, bukanlah hasil yang diperoleh secara instan. Ada pembinaan yang berkelanjutan, penguatan kapasitas mahasiswa, serta upaya membangun budaya akademik yang menempatkan kreativitas dan prestasi sebagai bagian penting dari kehidupan kampus.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Unhas, Prof. Suhasman, menegaskan bahwa pencapaian juara umum PIMNAS merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, terutama mahasiswa, dosen pembimbing, dan pendamping yang terlibat aktif dalam seluruh tahapan persiapan.

“Selain kolaborasi dan sinergi, juga kedisiplinan yang kami tanamkan agar mereka, para mahasiswa, tidak kembali kepada setelan pabrik,” katanya.

Suhasman menjelaskan, sebelum mengikuti PIMNAS, para mahasiswa menjalani pembinaan intensif dan karantina dalam waktu yang cukup panjang. Proses tersebut dilakukan untuk memperdalam substansi riset, mempertajam kreativitas, serta mematangkan kesiapan mereka menghadapi kompetisi.

Dikatakan, keberhasilan pembinaan mahasiswa Unhas juga tidak terlepas dari pengalaman manajerial dan inovatif Prof. Ruslin. Ia mencontohkan kiprah Ruslin ketika menjabat Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Pendidikan Unhas, yang berhasil membawa rumah sakit tersebut menjadi salah satu RSGM pendidikan terbaik di Indonesia.

Pengalaman Ruslin dalam membangun atmosfer akademik juga terlihat ketika ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unhas. Berbagai capaian berhasil ditorehkan selama masa kepemimpinannya, menjadikannya salah satu dekan dengan prestasi terbaik di lingkungan Unhas pada periode tersebut.

Kini, Unhas memiliki modal pengalaman, sistem pembinaan, dan tradisi prestasi yang semakin kuat. Keberhasilan meraih tiga gelar juara umum secara berturut-turut menjadi pijakan penting bagi universitas untuk menjaga konsistensi keunggulan mahasiswa dalam kompetisi ilmiah nasional.

Sebagai juara bertahan, Unhas pun semakin termotivasi untuk mempertahankan Piala Adikarta Kertawidya pada penyelenggaraan PIMNAS tahun depan. Tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan gelar, tetapi memastikan budaya inovasi dan keunggulan akademik terus tumbuh di kalangan mahasiswa.

Hattrick PIMNAS menjadi bukti bahwa kerja keras, kolaborasi, kedisiplinan, dan pembinaan yang berkelanjutan dapat mengantarkan Unhas mencetak sejarah. Lebih dari itu, prestasi ini menjadi penanda bahwa generasi muda Unhas memiliki kapasitas untuk bersaing, berinovasi, dan mengharumkan nama almamater di panggung nasional.

(Rusman Madjulekka, Semarang)