Hattrick PIMNAS Unhas, Hakikat Keunggulan dan Ikatan ‘Komunitas Unhas’

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID
  • Mahasiswa tidak dibiarkan tumbuh sendiri dalam kompetisi, melainkan ditempatkan dalam sebuah proses pembelajaran yang terstruktur dengan keterlibatan dosen pendamping, pengelola kemahasiswaan fakultas, dan tim universitas.
  • Keberhasilan tiga tahun berturut-turut memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara visi Rektor, koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Muhammad Ruslin, serta kerja operasional Direktorat Kemahasiswaan di bawah Prof. Suhasman.

PELAKITA.ID – Sahabat penulis, Muhammad Rusman Madjulekka mengirim foto suasana dalam kereta. “Otw Pimnas Semarang,” begitu pesannya. Dia ke sana karena diundang oleh Wakil Rektor I Unhas, Muhammad Ruslin. Wajar, Rusman selama ini aktif menyebarluaskan kisah-kisah inspiratif dari sejumlah sosok di Rektorat.

Penulis bersama sejumlah alumni Kelautan Unhas sedang ada di Jakarta, bersua Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Irwan Meilano saat Rusman hadir di antara komuntas Unhas di Semarang. Dia bersua Muhammad Ruslin dan menjadi saksi bagaimana ‘para talena muda Unhas’ setia pada janji, menjadi juara di Pimnas gearan ke-38 ini.

Makna di baliknya

Bagi penulis atau bagi Rusman dan kita semua sebagai alumni atau cinta Unhas bahwa memang ada kebanggaan yang tidak selesai ketika piala diserahkan, medali dikalungkan, atau nama sebuah perguruan tinggi diumumkan sebagai yang terbaik.

Kebanggaan semacam itu justru menemukan maknanya ketika prestasi mampu mengubah cara sebuah institusi memandang dirinya, memperkuat kepercayaan komunitasnya, dan membuka jalan bagi kontribusi yang lebih luas. Inilah hakikatnya, ada dedikasi, trust dan iklim pendidikan yang sedang beroperasi dengan sehat.

Universitas Hasanuddin (Unhas) sedang berada pada momentum tersebut setelah kembali meraih Juara Umum Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 6 November 2026.

Tiga kali berturut-turut, setelah kemenangan pada PIMNAS ke-37 tahun 2024 dan PIMNAS ke-38 tahun 2025, Unhas menorehkan pencapaian yang tidak sederhana.

Hattrick ini bukan hanya tentang keberhasilan mahasiswa mengungguli peserta dari perguruan tinggi lain, tetapi juga tentang kapasitas sebuah universitas di luar Jawa untuk membangun tradisi keunggulan yang konsisten.

Di tengah sejarah panjang kompetisi akademik nasional yang kerap menempatkan perguruan tinggi di Jawa sebagai pusat dominasi, Unhas menunjukkan bahwa keunggulan dapat tumbuh dari mana saja ketika visi, tata kelola, dan kerja kolektif menemukan arah yang sama.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur, keberhasilan ini memiliki arti yang lebih luas daripada reputasi kampus.

Unhas adalah institusi pendidikan tinggi yang tumbuh bersama komunitasnya, menjadi ruang mobilitas sosial, tempat lahirnya gagasan, sekaligus sumber harapan bagi banyak keluarga.

Dari kemenangan kompetisi menuju budaya keunggulan

PIMNAS ke-39 memperlihatkan bahwa capaian Unhas bukan sekadar keberuntungan atau hasil dari satu angkatan mahasiswa yang kebetulan memiliki kemampuan istimewa.

Delegasi Unhas terdiri atas 34 tim dengan 166 mahasiswa yang berkompetisi dalam delapan skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Mereka meraih 15 medali setara emas, 5 medali setara perak, dan 8 medali setara perunggu dari kategori poster dan presentasi.

Angka-angka tersebut menggambarkan keluasan partisipasi sekaligus kemampuan mahasiswa mengembangkan gagasan, mengolah penelitian, dan mempertanggungjawabkan karya secara ilmiah.

Yang lebih menarik untuk dibaca adalah proses di balik capaian tersebut.

Direktur Kemahasiswaan Unhas, Prof. Suhasman, mengeaskan, pembinaan dilakukan melalui tahapan yang panjang, mulai dari sosialisasi, seleksi internal, pendampingan proposal, penguatan substansi karya, hingga persiapan presentasi.

Itu artinya, para mahasiswa tidak dibiarkan tumbuh sendiri dalam kompetisi, melainkan ditempatkan dalam sebuah proses pembelajaran yang terstruktur dengan keterlibatan dosen pendamping, pengelola kemahasiswaan fakultas, dan tim universitas termasuk komunitas Unhas seperti alumni dan keluarganya.

Di sinilah keberhasilan PIMNAS menjadi relevan sebagai pembelajaran tata kelola perguruan tinggi. Prestasi yang berulang membutuhkan sistem yang mampu bekerja melampaui pergantian angkatan, bukan sekadar semangat sesaat menjelang kompetisi.

Ketika proses pembinaan menjadi bagian dari kehidupan akademik, kreativitas mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai salah satu cara kampus menjalankan mandat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menyebut kemenangan tersebut sebagai bukti bahwa Unhas memiliki ekosistem akademik yang mampu melahirkan mahasiswa kreatif, inovatif, dan kompetitif.

Pernyataan ini penting karena menggeser makna kemenangan dari pencapaian individual menjadi keberhasilan institusional. Mahasiswa memang berada di garis depan, tetapi prestasi mereka tumbuh dari dukungan dosen, lingkungan belajar, sistem pembinaan, kepemimpinan, dan ruang akademik yang memungkinkan gagasan berkembang.

Kepemimpinan dalam konteks ini bukan semata-mata soal mengarahkan organisasi agar mencapai target.

Kepemimpinan juga berkaitan dengan kemampuan membangun lingkungan yang membuat orang lain tumbuh, menemukan kepercayaan diri, dan menghasilkan sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit dicapai.

Dalam perjalanan Unhas, keberhasilan tiga tahun berturut-turut memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara visi Rektor, koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Muhammad Ruslin, serta kerja operasional Direktorat Kemahasiswaan di bawah Prof. Suhasman.

Marwah akademik dan kepercayaan komunitas

Dalam percakapan tentang prestasi Unhas, ada satu hal yang layak mendapat perhatian lebih: hubungan antara marwah akademik dan kepercayaan komunitas.  Ketika Unhas kembali menjadi juara umum PIMNAS, kebanggaan itu sesungguhnya juga milik komunitas yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan universitas.

Alumni, keluarga mahasiswa, mitra pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan warga yang berinteraksi dengan Unhas memiliki alasan untuk merasa bahwa institusi ini terus bertumbuh. Kebanggaan kolektif tersebut merupakan modal sosial yang penting, tetapi ia tidak akan bertahan hanya dengan mengandalkan seremoni dan pemberitaan kemenangan.

Kepercayaan harus terus dirawat melalui tindakan. Kampus yang berprestasi perlu semakin terbuka terhadap persoalan komunitasnya, semakin serius mendengarkan kebutuhan masyarakat, dan semakin mampu menghadirkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan.

Bagi Unhas, tantangan tersebut sesungguhnya sejalan dengan mandat tridarma perguruan tinggi. Pendidikan menghasilkan manusia yang memiliki kapasitas berpikir dan bertindak, penelitian mengembangkan pengetahuan serta inovasi, sedangkan pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang bagi pengetahuan untuk berinteraksi dengan realitas kehidupan.

Ketiganya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Karya mahasiswa yang berkembang melalui PKM dapat menjadi pintu masuk untuk mempertemukan kemampuan akademik dengan persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, kelautan, perikanan, dan teknologi yang dihadapi masyarakat.

Sebagai alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas, penulis menganggap gagasan tentang teknologi kelautan atau perikanan yang tidak hanya memperoleh medali, tetapi diterjemahkan menjadi solusi yang dapat digunakan nelayan.

Contoh-contoh tersebut bukan klaim tentang seluruh karya PIMNAS Unhas, melainkan gambaran arah yang patut dibangun agar prestasi akademik memiliki perjalanan lebih panjang setelah kompetisi berakhir.

Dari Indonesia Timur, Unhas memberi pesan tentang pemerataan keunggulan

Pencapaian tiga kali juara umum PIMNAS juga menyimpan pesan penting bagi pembangunan pendidikan tinggi di Indonesia.

Selama bertahun-tahun, persepsi tentang pusat keunggulan akademik nasional cenderung bertumpu pada perguruan tinggi yang berada di Jawa. Dominasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah, konsentrasi sumber daya, infrastruktur penelitian, dan ekosistem pendidikan yang telah berkembang lebih dahulu.

Keberhasilan Unhas mengubah cara pandang itu. Sebagai perguruan tinggi yang berada di Indonesia Timur, Unhas menunjukkan bahwa jarak geografis tidak harus menjadi batas bagi kualitas akademik.

Keunggulan dapat dibangun melalui sistem pembinaan, kepemimpinan yang konsisten, kerja lintas fakultas, dan keberanian menempatkan mahasiswa sebagai pelaku utama inovasi.

Yang pasti, posisi sebagai simpul pengetahuan tidak cukup dibangun melalui reputasi kompetisi. Ia membutuhkan kemampuan untuk menerjemahkan riset menjadi pengetahuan yang dapat digunakan, memperkuat jejaring dengan komunitas, serta memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan kawasan.

Prestasi PIMNAS memberikan modal kepercayaan, sedangkan dampak nyata bagi masyarakat akan menjadi ukuran keberlanjutannya.

Tantangan Unhas setelah hattrick PIMNAS bukan sekadar meraih gelar keempat. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa budaya keunggulan yang telah dibangun tidak mengorbankan kualitas proses pembelajaran, kesehatan mahasiswa, atau keberlanjutan kerja dosen pendamping.

Pembinaan intensif dan karantina yang dilakukan sebelum kompetisi perlu terus dievaluasi agar menghasilkan prestasi sekaligus pengalaman belajar yang sehat dan bermakna.

Di sinilah peran kepemimpinan Unhas menjadi semakin penting. Rektor, wakil rektor, direktorat kemahasiswaan, fakultas, dan dosen pendamping perlu menjaga agar prestasi menjadi bagian dari strategi pengembangan universitas secara menyeluruh. Kemenangan tidak boleh berhenti sebagai cerita tahunan, tetapi harus menjadi energi bagi pembaruan institusi.

Alumni dan komunitas Unhas juga memiliki peran dalam perjalanan tersebut. Mereka dapat menjadi mitra pengembangan riset, ruang pengujian inovasi, penghubung dengan dunia kerja, serta pendukung bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan gagasan menjadi karya yang berkelanjutan. Hubungan almamater dan komunitas akan semakin kuat ketika kebanggaan terhadap kampus diwujudkan melalui kontribusi bersama.

Hattrick PIMNAS telah menjadi sejarah bagi Unhas. Merawat sejarah itu agar menjadi warisan pengetahuan, kepercayaan, dan kebermanfaatan bagi komunitas adalah pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai.

Kamaruddin Azis
Founder Pelakita.ID dan MaritimePosts.com