PELAKITA.ID – Ingatlah betapa pentingnya kita menerapkan ihsan. Bahasa kita sekarang membumikan ihsan. Bagaimana ihsan itu bukan hanya dalam konsep, ihsan bukan hanya dalam teori, tapi ihsan bisa kita kejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ubudullah ka’annaka tarahu fa-in lam takun tarahu fa-innahu yarak. Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat Allah, tapi ingat kita tidak melihat Allah, ingatlah Allah yang akan melihat kita di mana pun kita berada
Demikian penggalan khutbah yang penulis kutip saat menjadi jemaah Jumatan di Masjid SMP Perguruan Cikini, 16 Oktober 2026.
Dikatakan khatib, uang yang kita hasilkan hari ini, seandainya ada uang haram, jangan pernah kita bawa ke rumah. Jangan pernah kalau ada uang haram yang kita hari ini produksi, yang kita ambil, yang kita kantongin, kita kasih makan anak kita, kita kasih makan istri kita. Kenapa? Karena akan berimbas kepada mereka berdua.
Anak kita akan sulit diajak mengaji, akan sulit diajak salat, akan sulit diajak menghafal Quran, akan sulit diminta untuk berdekat-dekat dengan masjid. Kenapa? Karena kita kasih makan anak kita dengan uang haram.
Istri kita akan menjadi istri yang begitu gampang membelanjakan uangnya untuk ini, untuk itu, dan sebagainya karena tidak tahu kalau selama ini sang suami memberikan uang dari barang yang haram, dari cara yang haram, dari prosedur yang haram.
Karena itu, hadis yang menyatakan kullu lahmin nabata min haramin fan naru awla bihi. Setiap daging dan darah yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka adalah tempat yang paling pantas buat orang itu.
Hadisnya, diriwayatkan oleh tujuh orang dari begitu banyak jalurnya. Hampir semua Kutubus Sittah, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Al-Imam Abu Dawud, Al-Imam An-Nasa’i, Al-Imam At-Tirmidzi, Al-Imam Ahmad, semua menuliskan hadis ini dari tujuh jalur.
Dan hadis ini sahih. Riwayat Imam Abu Dawud, ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyampaikan ini, maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam meneteskan air mata.
Kenapa? Betapa pentingnya apa yang kemudian kita lakukan, sementara apakah parameternya akhirat atau bukan akhirat?
Karena itu hadirin rahimakumullah, menjadi orang baik itu penting, tapi lebih penting lagi adalah menjadi orang baik yang menghasilkan sesuatu yang halal dan baik.
Bukan menjadi baik atau menjadi orang baik, tapi hasil yang kita hasilkan bukanlah dari hal yang haram, yang halal, tapi dari hal-hal yang haram.
Lalu kita belanjakan, kita sedekahkan ke mana-mana, padahal apa bedanya kita dengan orang-orang yang korupsi, lalu kemudian membagikan uangnya ke mana-mana?
Marilah kita jadikan kehidupan ini bahwasanya the good thing happen to the good man. Mengapa sesuatu yang baik itu sering terjadi kepada orang yang baik? Karena dia selalu punya parameter akhirat.
Lihat Mu’adz bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang membeli sumur rumah, sampai sekarang sumurnya masih ada.
Kenapa? Karena ketika beliau membeli, beliau mengangkat tangan ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bertanya, “Man yurid an yastariya hadzal bi’ra lahul jannah?” Siapa yang ingin membeli sumur rumah ini, baginya surga? Langsung diangkat tangan, “Ana ya Rasulullah, saya ya Rasulullah.”
Ketika ditanya, “Lima ya Utsman? Tastariya hadzal bi’r? Mengapa kau memberi sumur ini, wahai Utsman?” Apa yang beliau jawab, hadirin rahimakumullah, jawabannya singkat: li’anna jazahu al-jannah karena balasannya adalah surga.
Bagaimana Imam Muslim 16 tahun berkeliling-keliling di sebuah daerah Timur Tengah sampai kemudian ke Balkan dan sebagainya.
16 tahun mengumpulkan 7.000 hadis lebih yang sekarang tertulis dalam kitab Sahih Muslim. Ketika ditanya, “Mengapa engkau 16 tahun berputar keliling dunia?”
Lalu apa jawaban Imam Muslim? “Saya hanya ingin duduk berdampingan dengan Rasulullah di dalam surga.”
Hadirin, parameternya adalah akhirat. Mudah-mudahan khutbah Jumat yang saya sampaikan hari ini bermanfaat. Marilah kita jadikan uang yang kita hasilkan adalah uang yang halal.
Marilah yang kita lakukan parameternya adalah akhirat. Marilah semua yang dijalankan semuanya adalah indikasi kedepannya untuk akhirat kita.
Semoga bermanfaat. Hadakumullah wa iyyakum ajma’in. Barakallahu li wa lakum bil qur’anil ‘adzim wa nafa’ani wa iyyakum









