PELAKITA.ID – SETELAH juara umum dua kali berturut-turut, kini mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) membidik juara umum ketiga kalinya atau “hattrick”-meminjam istilah dalam sepakbola.
Pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-39 yang dilaksanakan 2-7 November 2026 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Target itu cukup realistis dan peluangnya sangat terbuka lebar. Apalagi di Pimnas kali ini Unhas berhasil meloloskan sebanyak 34 tim mahasiswa. Sekaligus menempatkan peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi dengan jumlah tim terbanyak yang lolos ke ajang tahunan ilmiah mahasiswa bergengsi tersebut.
Sebagai gambaran, mungkin Anda sudah tahu, Pimnas merupakan event lomba ilmiah tahunan yang menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mempresentasikan hasil kreativitas, inovasi, dan penelitian mereka.
Pencapaian itu, menurut saya, kejadian langka. Kok ada perguruan tinggi, di luar Jawa, yang bisa juara? Apalagi secara berturut-turut. Dan tahun ini bersiap menuliskan sejarah hattrick juara. Biasanya selama ini juaranya selalu didominasi perguruan tinggi dari Jawa. “Sungguh istimewa,” bisik saya dalam hati.
Karena itu saya menyebut para mahasiswa berprestasi ini sebagai “generasi emas” Unhas yang telah mengembalikan marwah akademik yang redup.
Dengan proses dan waktu panjang. Dan tak kalah penting mengikis stigma negatif mahasiswa Unhas yang cukup lama membuat pusing Jusuf Kalla, ketua alumninya masa itu. Saya mengistilahkan, perjalanan itu dari kultur kampus ke atmosfer akademik.
Sebenarnya, ada orang penting di balik layar yang “bertangan dingin” menghidupkan inovasi dan atmosfer akademik mahasiswa Unhas. Namanya: Prof Ruslin. Ia Wakil Rektor bidang akademik dan kemahasiswaan. Pria Bugis yang murah senyum, dokter gigi, kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan 2 Juli 1973.
Apa kuncinya? “Sinergi, komitmen dan membenahi manajemen program kreativitas mahasiswa,” ujarnya.
Ruslin sendiri sudah punya pengalaman managerial inovatif sebagai Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Pendidikan Unhas. Dimana rumah sakit itu menjadi salah satu RSGM Pendidikan terbaik di Indonesia.
Pengalaman lainnya, saat Ruslin mengelola atmosfer akademik di level fakultas. Saat ia jadi dekan FKG. Cukup banyak capaian yang dihasilkan. Bahkan ia termasuk salah satu dekan dengan prestasi terbaik di Unhas masa itu.
Rupanya Ruslin ingin menjadikan apa yang ia lakukan di fakultas itu ke skala universitas. Ditambah sentuhan inovasi dan kreativitas lainnya.
Ruslin sudah lama memendam pemikiran itu. Jangan-jangan sudah sejak lama pula dimatangkan dalam pembicaraan pribadi dengan koleganya Prof Jamaluddin Jompa, yang kelak menjadi Rektor Unhas. Sejak sama-sama berjuang memikirkan kampus riset dan atmosfer akademik di Unhas.

Rupanya konsep besar itu pula yang pernah diajukannya ke Rektor terpilih yang koleganya itu. Yakni setelah Ruslin ditunjuk sebagai Wakil Rektor Unhas sejak 2022 sampai sekarang.
Konsep itu sudah disetujui. Ruslin langsung berlari cepat. Bekerja sat set. Dengan dibantu anggota timnya – yang mau gak mau- ikut irama lari bosnya. Otaknya sudah penuh dengan rencana. Ia bukan type pejabat yang baru mengadakan rapat perencanaan setelah dilantik. Ia sudah punya konsep matang sejak belum dilantik.
Kalau ekosistem seperti ini terus berlangsung, jangan heran bila Unhas menjadi pelopor yang melahirkan hasil riset yang berdampak bagi masyarakat. Universitas tetap ramai. Wisuda tetap meriah. Laboratorium bisa semakin inovatif. Dan dari laboratorium yang ramai, lahir lompatan besar bagi kemajuan bangsa.
Ini pekerjaan tak ringan. Pun pertaruhannya berat. Tapi Unhas sudah punya modal dan pengalaman yang kuat. Sebagai juara bertahan, Unhas sangat termotivasi mempertahankan Piala Adikarta Kertawidya untuk ketiga kalinya.
“Dua kali juara umum tentu membanggakan sekaligus motivasi. Kami optimistis, dengan persiapan matang, kerja keras, dan pendampingan dosen yang baik, Unhas berpeluang untuk kembali meraih prestasi terbaik,” ujar Prof. Ruslin optimis.
___
Rusman Madjulekka









