Setetes Madu dan Jejak Semesta: Madu sebagai Bioindikator Lingkungan

  • Whatsapp
Penulis bersua para kolega (dok: Istimewa)

Salah seorang dari mereka ternyata seorang pakar madu, seorang Guru Besar yang menekuni lebah bukan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai ilmu dan jalan hidup. Dialah Prof. Dr. Ir. Budiaman, M.P.

Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Awalnya hanya mengantar mereka menemui seseorang. Saya belum benar-benar mengenal siapa yang akan saya antar. Wajah-wajah baru, percakapan yang masih meraba. Hanya satu sosok yang sudah akrab sejak awal, Prof. Veny Hadju yang menemani mereka.

Perbincangan pun mengalir ringan, lalu perlahan mendalam. Hingga kemudian saya tersadar.

Salah seorang dari mereka ternyata seorang pakar madu, seorang Guru Besar yang menekuni lebah bukan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai ilmu dan jalan hidup. Dialah Prof. Dr. Ir. Budiaman, M.P.

Kalimatnya sederhana, namun menghentak kesadaran saya:

“Indonesia adalah surga lebah madu karena tanaman berbunga sangat melimpah. Sayangnya, anugerah itu banyak berguguran sia-sia karena masih kurangnya pemahaman cara pemanfaatannya.”

Ungkapan itu bukan keluhan, melainkan cermin. Indonesia, negeri tropis dengan musim berbunga yang hampir tak pernah putus sebenarnya menyediakan hamparan nektar tanpa akhir.

Dari hutan hujan, kebun rakyat, ladang pangan, hingga pekarangan rumah. Namun, seperti banyak berkah lain, ia sering hadir tanpa disadari nilainya.

Muliadi Saleh (dok: Istimewa)

Prof. Budiaman, dosen dan peneliti lebah di Universitas Hasanuddin, mengawali kariernya sebagai pengajar Fakultas Kehutanan dengan kepakaran ilmu serangga hutan.

Kecintaannya pada lebah tumbuh sejak 1989, saat ia masih mahasiswa. Sebuah pilihan yang kala itu dianggap ganjil—meneliti serangga yang lebih sering ditakuti daripada dipahami.

Baginya, lebah bukan hanya objek ilmiah, tetapi juga makhluk yang memiliki kedudukan spiritual. Ia mengingatkan bahwa lebah adalah satu dari sedikit makhluk yang disebut langsung dalam wahyu: Surah An-Nahl ayat 68–69, yang menjelaskan perintah Allah kepada lebah, tentang sarang, makanan, dan madu yang menjadi syifā’—penyembuh bagi manusia.

Di titik ini, sains dan iman bertemu, bukan untuk saling menegasikan, tetapi saling menguatkan.

Selama bertahun-tahun, Prof. Budiaman berhadapan dengan satu tantangan yang sama: persepsi publik.

Lebah dianggap berbahaya, menakutkan, dan harus dijauhi.

“Padahal lebah tidak akan menyengat selama kita tidak mengganggu ratunya,” ujarnya sambil tersenyum, seolah menertawakan ketakutan manusia yang sering lahir dari ketidaktahuan.

Puluhan tahun bergelut dengan lebah, ia tak hanya menghasilkan madu. Ia membangun sebuah ekosistem pengetahuan: bee bread, royal jelly, sabun, lilin aromaterapi, sampo, hingga praktik pengobatan alternatif dengan metode sengatan lebah.

Semua itu lahir dari satu keyakinan bahwa lebah bukan ancaman, melainkan mitra peradaban.

Dari titik inilah kesadaran saya bergeser. Lebah bukan hanya penghasil madu, dan madu bukan sekadar pangan atau obat. Ia adalah rekaman ekologis. Setiap tetes madu menyimpan jejak lanskap tempat lebah terbang.

Udara yang dihirupnya, bunga yang disinggahinya, air dan tanah yang menopang kehidupan di sekitarnya.

Madu, pada akhirnya, dapat dibaca sebagai bioindikator lingkungan. Penanda halus tentang sehat atau sakitnya sebuah ekosistem. Jika lingkungannya tercemar, madu akan membawa isyaratnya. Jika alam terjaga, madu pun berbicara tentang keseimbangan.

Dan saya menyadari, pertemuan hari itu bukan sekadar mengantar orang menemui seseorang.

Ia mengantar saya pada cara pandang baru bahwa di balik makhluk kecil bernama lebah, tersimpan pesan besar tentang bagaimana manusia seharusnya hidup lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih bersahabat dengan alam.
___
Muliadi Saleh:

Menulis Makna,  Membangun Peradaban”