Menjajah atau Membodohi: Dua Wajah Penaklukan atas Bangsa Sendiri

  • Whatsapp
Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Ekologi Sosial (DokL Istimewa)

Membodohi bangsa sendiri juga berarti menjauhkan rakyat dari kemampuan membaca realitas. Bahasa dipelintir, sejarah dipotong, dan kebenaran dipersempit agar selaras dengan kepentingan sesaat. Rakyat diajak bangga, tetapi tidak diajak berpikir. Diajak bersorak, tetapi tidak diajak menilai.

Oleh: Muliadi Saleh
Esais reflektif dan pemerhati sosial-kebudayaan

PELAKITA.ID – Penjajahan selalu mudah dikenali. Ia datang dengan kekuasaan asing, senjata, dan hukum yang tidak lahir dari rahim rakyat. Tanah dirampas, tenaga diperas, martabat diinjak.

Dalam penjajahan, penderitaan terlihat jelas, musuh mudah dikenali, dan perlawanan menemukan arah.

Namun sejarah modern mengajarkan satu kebenaran pahit yang lain: wajah penaklukan yang lebih sunyi, berumur panjang, dan jauh lebih sulit dilawan. Yakni ketika sebuah bangsa dibodohi oleh bangsanya sendiri.

Menjajah bangsa sendiri berarti menguasai sumber daya dan memusatkan kekuasaan. Membodohi bangsa sendiri berarti mematikan kesadaran, menumpulkan daya kritis, dan mengaburkan kebenaran. Penjajahan merantai tubuh, sementara pembodohan mengikat pikiran. Yang satu melukai secara kasat mata, yang lain menggerogoti dari dalam—perlahan, nyaris tak terasa.

Antonio Gramsci menyebut mekanisme ini sebagai hegemoni: ketika kekuasaan tidak lagi dipaksakan, melainkan diterima sebagai kewajaran. Ketidakadilan tak lagi ditentang karena telah dianggap sebagai nasib. Ketimpangan tak lagi dipersoalkan karena dibungkus dengan bahasa “normal”, “rasional”, dan “realistis”.

Di titik inilah pembodohan bekerja paling efektif. Ia tidak melarang orang berpikir, tetapi membuat berpikir terasa melelahkan. Ia tidak membungkam suara, tetapi menenggelamkannya dalam kebisingan.

Informasi berlimpah, namun pengetahuan mengering. Fakta berserakan, tetapi makna tercerai-berai.

Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, mengingatkan bahwa pendidikan yang kehilangan daya kritis akan berubah menjadi alat penjinakan.

Pendidikan semacam ini tidak membebaskan manusia, melainkan membentuk kepatuhan. Ia melatih ingatan, bukan pemahaman; mencetak lulusan, bukan warga yang sadar.

Ketika sekolah hanya menjadi pabrik ijazah, ketika diskusi digantikan slogan, dan ketika pertanyaan dianggap ancaman, maka pembodohan bukan lagi kecelakaan. Ia menjelma menjadi sistem.

Membodohi bangsa sendiri juga berarti menjauhkan rakyat dari kemampuan membaca realitas. Bahasa dipelintir, sejarah dipotong, dan kebenaran dipersempit agar selaras dengan kepentingan sesaat. Rakyat diajak bangga, tetapi tidak diajak berpikir. Diajak bersorak, tetapi tidak diajak menilai.

Ironisnya, pembodohan kerap dilakukan atas nama stabilitas, pembangunan, bahkan nasionalisme. Padahal nasionalisme sejati justru tumbuh dari warga yang sadar, bukan dari massa yang pasrah. Bangsa yang kuat bukan bangsa yang diam, melainkan bangsa yang berani bertanya.

Berbeda dengan penjajahan, pembodohan jarang melahirkan perlawanan terbuka. Ia justru menumbuhkan kepasrahan kolektif. Penjajahan melahirkan pahlawan; pembodohan melahirkan penonton—sibuk menilai permukaan, tetapi abai pada akar persoalan.

Kemerdekaan politik bisa diraih melalui proklamasi. Namun kemerdekaan intelektual hanya lahir dari keberanian berpikir, membaca, dan meragukan—termasuk meragukan narasi yang disodorkan oleh kekuasaan sendiri.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang bebas dari penjajah asing, tetapi bangsa yang menolak untuk dibodohi. Sebab ketika akal sehat dirawat, ilmu dimuliakan, dan kebenaran dijaga, tidak ada kekuasaan yang mampu menaklukkan—baik dari luar maupun dari dalam.

Dan barangkali, pertanyaan paling jujur yang perlu kita ajukan hari ini bukanlah siapa yang pernah menjajah kita, melainkan: sejauh mana kita membiarkan diri kita dibodohi oleh bangsa sendiri?