Pelajaran Inspiratif dari Model Tambak Semi-Intensif ala Ahmad Toyib di Karangrejo Banyuwangi

  • Whatsapp
Pak Ahmad bersama Asdep Pengembangan Budidaya Kemenko Pangan Cahyadi Rasyid di lokasi tambak semi intensifnya (dok: Pelakita.ID_

PELAKITA.ID – Penulis berada di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, mengunjungi tambak udang milik Pak Ahmad Toyib nan inspiratif pada Kamis, 11 Desember 2025.

Di lokasi ini, ia menerapkan pendekatan budidaya udang semi intensif dengan kombinasi teknologi sederhana, manajemen air yang ketat, dan pengurangan bahan kimia.

Pendekatan ini membuat tambaknya berbeda dari banyak tambak lain di wilayah tersebut.

Ukuran Kolam, Kepadatan, dan Manajemen Panen Parsial

Kolam yang kami lihat memiliki luas sekitar 300 m², dengan kepadatan tebar awal 350 ekor per meter persegi.

Pada umur 48 hari, kepadatan dinilai sudah terlalu tinggi sehingga Pak Ahmad melakukan panen parsial bertahap sebanyak enam kali—setiap parsial mengurangi sekitar 20–25 persen populasi.

Panen udang usia 68 hari (dok: Pelakita.ID)
Model inovasi skimmer milik Pak Ahmad Toyib (dok: Pelakita.ID)

Setelah 68 hari pemeliharaan, kepadatannya tinggal 93 ekor per meter persegi, dan udang telah mencapai size 45 atau sekitar 45 ekor per kilogram. Dengan ukuran seperti ini, rencana panen sudah mulai diperhitungkan.

Untuk pemasaran, sebagian hasil panen biasanya diambil oleh pelanggan tetap atau supplier, dan sebagian lainnya diserap oleh Koperasi Mina Bangkit Bersama, koperasi yang menaungi para petambak di wilayah tersebut.

Pakan, Koperasi, dan Biaya Operasional

Untuk kebutuhan pakan, Pak Ahmad bekerja sama dengan koperasi. Sebagian biaya operasional ditanggung sendiri, sementara sebagian lainnya bisa didukung oleh koperasi. Model seperti ini membantu meringankan beban petambak kecil yang masih membutuhkan modal kerja berkelanjutan.

Teknologi Tambak: Protein Skimmer & ORP Monitoring

Salah satu keunikan tambak ini adalah penggunaan protein skimmer, alat untuk mengangkat material organik dari permukaan air. Prosesnya: air permukaan diambil, dioksidasi dalam tabung, lalu dikembalikan ke kolam. Busa yang terbentuk membawa keluar partikel organik, sehingga kualitas air lebih stabil dan kebutuhan bakteri tambahan menjadi lebih sedikit.

Teknologi ini mulai digunakan sejak 2022, dan pengembangannya turut diteliti oleh Prof. Suprapto dari Pacitan yang menulis tesis tentang efektivitas skimmer pada tambak semi intensif semacam ini.

Selain skimmer, Pak Ahmad juga menggunakan parameter ORP (Oxidation Reduction Potential) sebagai indikator kualitas air. Penggunaan ORP masih jarang ditemukan di tambak semi intensif lainnya, sehingga ini menjadi pembeda dalam pengelolaan tambaknya.

Kualitas Air, Pakan, dan Pendekatan “Hampir Organik”

Dalam percakapan, Pak Ahmad menegaskan bahwa ia berusaha mengurangi penggunaan bahan kimia. Pakan yang digunakan juga diatur sedemikian rupa agar tidak memperburuk kualitas air. Pendekatan ini membuat praktik budidayanya mendekati organik, meski belum sepenuhnya memenuhi standar produksinya.

Di sisi lain, pengelolaan kualitas air masih mengandalkan kincir sebagai alat utama sirkulasi dan aerasi.

Konsekuensinya, biaya listrik bisa mencapai Rp 35 juta per siklus, sebuah angka yang cukup berat terutama bagi petambak seperti dia.

Tantangan inilah yang membuka peluang gagasan tentang pemanfaatan energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional.

Pelajaran Penting

Kunjungan ke tambak ini memberikan beberapa catatan penting:

  1. Manajemen air dan pakan adalah kunci utama keberhasilan budidaya semi intensif.

  2. Penerapan teknologi sederhana seperti protein skimmer terbukti mampu menjaga kualitas air sekaligus mengurangi kebutuhan bakteri.

  3. Pendekatan minim bahan kimia membuat hasil budidaya lebih sehat dan potensial dikembangkan sebagai produk premium.

  4. Biaya listrik masih menjadi tantangan besar, sehingga inovasi energi terbarukan patut dipertimbangkan untuk mendukung keberlanjutan usaha tambak rakyat.

Praktik budidaya Pak Ahmad menunjukkan bahwa kombinasi pengalaman lokal, teknologi adaptif, dan kemauan untuk belajar dapat menghasilkan tambak yang produktif sekaligus lebih ramah lingkungan.

Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID