PELAKITA.ID – Di sebuah sudut pesisir Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, terdapat sebuah desa menarik bernama Wringin Putih. Di tempat inilah kelompok pembudidaya udang Raja Vaname menjalankan aktivitas budidaya sekaligus upaya restorasi lingkungan secara terpadu.
Hendro Supeno, mewakili Kelompok Raja Vaname, menjelaskan bagaimana kolaborasi antara budidaya dan konservasi menjadi kekuatan baru bagi masyarakat pesisir setempat.
Kolam Bundar: Meningkatkan Kelangsungan Hidup Udang
Menurut Hendro, inovasi penggunaan kolam bundar merupakan bagian penting dari strategi budidaya mereka.
Kolam ini berfungsi sebagai tempat pencokolan atau pendederan awal untuk meningkatkan survival rate (SR) udang sebelum dipindahkan ke petak tambak yang lebih besar.
Dari kolam bundar berkapasitas sekitar 150 C, mereka menghasilkan sekitar 3 kuintal udang.Udang diperoleh setelah melalui proses pembudidayaan dengan survival rate hingga 100 persen saat dipindahkan ke kolam besar.
Temuan lapangan ini memberi pelajaran penting: semakin besar biomassa udang, kebutuhan oksigen meningkat sehingga dibutuhkan penambahan peralatan aerasi seperti pump jet sangat niscaya sebagai penungkit energi gerak.
Secara kelembagaan, kelompok Raja Vaname mengelola lima petak tambak secara bersama-sama untuk memperkuat kekompakan dan kapasitas anggotanya. Selain itu, masing-masing anggota juga memiliki petak pribadi, tetapi kegiatan inti tetap dilakukan secara komunal.
Dukungan Pemerintah dan Mitra: Menguatkan Kapasitas Kelompok
Dalam menjalankan kegiatan budidaya, kelompok ini tidak bergerak sendiri. Mereka mendapat dukungan teknis dan kelembagaan dari Dinas Perikanan Banyuwangi, serta bantuan penyediaan kolam bundar dari lembaga mitra, termasuk program-program pendukung yang melibatkan berbagai pihak seperti Yayasan Sinergi Akuakultur Indonesia.
Kolaborasi ini ikut mempercepat penguatan kapasitas kelompok dan memastikan kegiatan budidaya berjalan lebih efektif.
Selain sebagai kelompok pembudidaya udang, Raja Vaname juga terlibat aktif dalam kegiatan konservasi melalui organisasi KTH Makmur. Peran ganda ini membuat mereka tidak hanya fokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi kawasan pesisir.
Restorasi Mangrove: Komitmen Menjaga Lingkungan
Salah satu kegiatan konservasi yang dijalankan adalah penanaman mangrove. Restorasi mangrove di kawasan ini telah berlangsung sejak 1999, dan kini kembali diperkuat melalui dukungan pembiayaan dan kerja sama berbagai pihak.
Hingga saat ini, mereka mengelola kawasan restorasi seluas 4,1 hektare, yang ditanami beragam jenis mangrove seperti Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Avicennia.
”Dari keempat spesies tersebut, Sonneratia alba menjadi jenis yang paling adaptif dengan kondisi sedimen setempat sehingga tumbuh dominan di lokasi tersebut,” ucap Hendro.
Kelompok juga melakukan pembibitan mandiri untuk memenuhi kebutuhan penanaman, sekaligus memberi edukasi kepada masyarakat bahwa setiap spesies memiliki zona hidup yang tepat.
Proses restorasi yang dikerjasamakan dengan Konservasi Indonesia ini meliputi penyulaman, monitoring, hingga biaya operasional harian yang difasilitasi oleh program kemitraan. Tidak sedikit masyarakat yang terlibat sebagai tenaga lapangan, yang dibayar sesuai ketentuan dan kebutuhan kegiatan rehabilitasi.
Harapan Ekologis dan Sosial
Menurut Burhanuddin dari Konservasi Indonesia, program restorasi yang baru dimulai kembali sejak September tahun ini telah menunjukkan progres menjanjikan.
Dikatakan, dalam dua minggu terakhir, penanaman intensif telah dilakukan, dan masyarakat berharap kawasan ini kelak menjadi benteng alami pesisir, terutama menghadapi potensi bencana seperti abrasi dan gelombang ekstrem.
Selain itu, hadirnya satwa seperti burung tong-tong dan jenis burung lain di kawasan restorasi menjadi indikator bahwa ekosistem mulai pulih. Pemerintah desa juga menunjukkan dukungan penuh, memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan dan melibatkan masyarakat secara aktif.
”Untuk tambak seperti yang dikelola kelompok Raja Vaname ini, kami concern pada perbaikan IPAL, dan pemanfaatan limbah buangan tambak untuk kemudian menjadi wadah bagi tumbuhnya ekosistem mangrove,” kata Burhanuddin saat dikonfirmasi Pelakita.ID.
Kesadaran Baru Masyarakat Pesisir
Hendro menegaskan bahwa masyarakat kini semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan.
Kata dia, pengalaman besar seperti tsunami Aceh menjadi pengingat bahwa hilangnya benteng alam—seperti mangrove—dapat memperparah dampak bencana. Karena itu, kesadaran kolektif untuk menjaga pesisir terus tumbuh.
“Harapannya sederhana,” ujarnya, “agar kawasan ini tetap lestari dan menjadi contoh bagaimana budidaya dan konservasi bisa berjalan beriringan. Jika kondisi membaik, kami berharap dapat memperluas area penanaman dan memperkuat ekosistem pesisir di wilayah lain.”
Penulis Kamaruddin Azis









