Tingkat Kelangsungan Hidup Karang Samalona Capai 94,50%, Direktur ISMA Tegaskan Komitmen Konservasi Laut

  • Whatsapp
Berdasarkan Laporan Monitoring Akhir periode Agustus–November 2025, program ini berhasil mencatat Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) Absolut sebesar 94,50%.

PELAKITA.ID – Makassar, 9 Desember 2025 — Program konservasi terumbu karang melalui metode transplantasi di perairan Pulau Samalona, Makassar, yang merupakan kolaborasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Intan Sejahtera Utama (ISMA) dan Global Geoscience Indonesia (GGI) SCUBA, menunjukkan hasil signifikan.

Hasil tersebut sekaligus menjadi bekal menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan hidup yang semakin tidak mudah ke depan.

Berdasarkan Laporan Monitoring Akhir periode Agustus–November 2025, program ini berhasil mencatat Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) Absolut sebesar 94,50%.

Angka tersebut menunjukkan efektivitas metode transplantasi yang diterapkan dan didukung oleh pertumbuhan rata-rata 0,63 cm serta penambahan 3,30 cabang per fragmen.

Program konservasi terumbu karang melalui metode transplantasi di perairan Pulau Samalona, Makassar, yang merupakan kolaborasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Intan Sejahtera Utama (ISMA) dan Global Geoscience Indonesia (GGI) SCUBA, menunjukkan hasil signifikan.

Menanggapi capaian tersebut, Direktur Utama PT ISMA, Muhammad Irfan, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

“Kami sangat bangga melihat tingkat kelangsungan hidup sebesar 94,50% ini. Angka tersebut menjadi bukti bahwa investasi melalui program TJSL memberikan dampak positif dan terukur bagi lingkungan,” ujar Irfan.

“PT ISMA akan terus mendukung program rehabilitasi terumbu karang, karena bagi kami, kelestarian laut adalah bagian tak terpisahkan dari praktik bisnis yang berkelanjutan,” tegasnya.

Meski menunjukkan capaian yang menggembirakan, laporan akhir juga mencatat tekanan lingkungan pada November, ditandai dengan peningkatan 10% kasus Karang Mati/Memutih Parah (CCS 1). Kondisi ini dipicu kombinasi stres termal dan meningkatnya kekeruhan atau sedimentasi jelang musim hujan.

Program transplantasi karang di Pulau Samalona ini menegaskan pentingnya kemitraan multipihak dalam menjaga keanekaragaman hayati serta fungsi ekologis terumbu karang, yang menjadi aset vital kawasan Coral Triangle.

Mudasir Zainuddin, Penanggung Jawab program transplantasi dan monitoring sekaligus Ketua Jaringan Adopsi Karang Indonesia (JARI), menekankan pentingnya respons adaptif terhadap dinamika lingkungan tersebut.

“Tingkat kelangsungan hidup yang tinggi ini harus dipertahankan. Peningkatan pemutihan parah adalah peringatan mengenai kerentanan ekosistem kita. Ke depan, kami merekomendasikan penyesuaian strategi, termasuk penentuan waktu transplantasi yang lebih optimal dan perbaikan mikrohabitat untuk menjaga kualitas perairan,” jelas Mudasir.

Sementara itu, Ketua GGI SCUBA, Zulqarnain, mengapresiasi sinergi seluruh pihak dalam program ini.

“GGI SCUBA berkomitmen untuk melaksanakan monitoring berbasis data ilmiah dan pemeliharaan yang ketat. Kolaborasi dengan ISMA, dengan implementasi teknis di bawah kepemimpinan Bapak Mudasir, menjadi model efektif dalam memastikan kelestarian lingkungan laut Indonesia,” ujarnya.

Program transplantasi karang di Pulau Samalona ini menegaskan pentingnya kemitraan multipihak dalam menjaga keanekaragaman hayati serta fungsi ekologis terumbu karang, yang menjadi aset vital kawasan Coral Triangle.