Tidak Ada Solusi Ekologis Tanpa Solusi Sosial : Membalut  Duka dan Luka Sumatera

  • Whatsapp
Muliadi Saleh, ilustrasi bersama genangan (dok: Istimewa)

Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Bumi tidak lagi berbisik melalui angin yang lembut atau gemericik sungai yang tenang. Ia kini berbicara melalui banjir yang menyapu rumah-rumah, melalui tanah yang merosot membawa serta pohon, batu, dan kenangan.

Alam berbisik sebagai peringatan, ratapan, dan kejujuran yang lama diabaikan manusia. Yang kita saksikan di Sumatera bukan sekadar bencana; itu adalah cermin yang memperlihatkan retaknya hubungan kita dengan bumi sekaligus retaknya hubungan kita satu sama lain.

Hutan yang hilang tidak hanya berkisah tentang pohon yang tumbang, tetapi tentang manusia yang tersudut oleh hidup yang keras. Sungai yang meluap bukan sekadar fenomena air, melainkan pantulan dari tata kelola yang rapuh dan keputusan pembangunan yang sering lebih patuh kepada kepentingan sesaat daripada hikmah jangka panjang.

Dalam setiap bencana ekologis tersimpan bencana sosial yang lebih dalam. Kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan ruang, hingga hilangnya solidaritas yang dulu menjadi tulang punggung bangsa ini.

Realitas itulah yang terasa bahwa tidak mungkin ada solusi ekologis sebelum kita membenahi cara kita hidup sebagai masyarakat. Ekologi adalah kitab besar yang memuat jutaan ayat alam, namun manusialah yang membaca dan menafsirkannya. Selama struktur sosial belum lurus, selama hati masyarakat belum sembuh, halaman-halaman alam akan terus menggugurkan peringatannya.

Agama mengajarkan bahwa bumi adalah amanah. Al-Qur’an mengangkat manusia sebagai khalifah—bukan penguasa sewenang-wenang, tetapi penjaga yang lembut, pengelola yang arif. Maka setiap gunung yang dirusak tanpa hikmah, setiap pohon yang dicabut tanpa rasa syukur, setiap sungai yang dijadikan muara sampah kehidupan, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah itu.

Dalam pandangan agama, rusaknya bumi bukan hanya persoalan ekologis, melainkan juga kesalahan moral dan sosial.

Selama masih ada orang yang terpaksa tinggal di lokasi rawan bencana karena ia miskin, selama masih ada keluarga yang kehilangan rumah karena tata ruang lebih memihak modal daripada keselamatan, maka kerusakan alam akan terus menemukan jalannya.

Kita membutuhkan keadilan sosial agar bumi bisa bernapas kembali. Kita membutuhkan tata ruang yang menimbang keselamatan manusia sebagai pusatnya. Kita membutuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah ibadah panjang yang tidak berhenti di masjid atau gereja, tetapi berlanjut pada perilaku sehari-hari—dari cara kita memperlakukan pohon, hingga bagaimana kita memperlakukan sesama.

Para sufi telah lama mengingatkan bahwa bumi adalah cermin jiwa manusia. Jalaluddin Rumi berkata, “Apa yang kau lakukan pada bumi, kau lakukan pada dirimu sendiri.”

Ibn ’Arabi menulis bahwa alam adalah tubuh besar, dan manusia adalah detak jantungnya. Jika detak itu kacau, maka seluruh tubuh pun ikut bergetar. Ketika Sumatera menangis, sesungguhnya yang bergetar bukan hanya tanah di sana, tetapi juga hati bangsa ini. Air bah yang menyapu desa-desa bukan hanya membawa lumpur, tetapi membawa pesan paling dalam: sembuhkan hubungan kalian satu sama lain, maka alam pun akan sembuh bersama kalian.

Sufi-sufi besar mengajarkan bahwa empati adalah cahaya pertama dalam kegelapan bencana. Mereka berkata bahwa hati yang hidup tidak akan sanggup melihat saudaranya tenggelam dalam derita tanpa bergerak menolong.

Maka inilah saatnya kita menjadi bangsa yang lebih banyak merangkul daripada menghakimi. Inilah saatnya kita hadir—dengan doa, dengan tindakan, dengan keikhlasan. Janganlah kita menambah beban mereka yang sedang berduka dengan komentar yang melukai. Janganlah ujian mereka menjadi ajang untuk saling menyalahkan. Kesedihan tidak membutuhkan hakim; ia membutuhkan pelukan.

Sumatera hari ini memanggil seluruh anak negeri untuk kembali menjadi saudara dalam makna yang paling jernih. Tidak ada daerah yang terlalu jauh, tidak ada penderitaan yang bukan milik kita. Duka mereka adalah duka bangsa.

Dan dari ratapan ekologis inilah harapan harus dibangun—harapan bahwa kita masih sanggup berubah, masih sanggup menata ulang relasi kita dengan alam dan dengan sesama. Bumi akan pulih bila manusianya saling memulihkan. Bangsa akan kuat bila persaudaraan lebih lantang daripada perpecahan.

Dan setelah segala kata dan tindakan yang mampu kita upayakan, biarlah hati kita menghantarkan doa paling tulus untuk kebaikan saudara-saudara kita di sana, dan agar bangsa ini tetap kuat dan menjaga persaudaraannya.