Tantangan Budaya Sebagai Jati Diri Kita

  • Whatsapp
Mustamin Raga (dok: Istimewa)

Refleksi Dies Natalis ke-65 Fakultas Ilmu Budaya UNHAS

Oleh Mustamin Raga
(Alumni Fakultas Ilmu Budaya Unhas)

PELAKITA.ID – Tulisan ini baru dapat saya rumuskan ketika saya kembali merenungkan sesuatu yang tampaknya sederhana: bahwa jati diri manusia—dan bangsa—bukan sekedar apa yang tampak hari ini, melainkan rangkaian panjang warisan nilai, pengalaman, dan luka sejarah yang membentuk kita dari generasi ke generasi.

Kita tidak sekadar hidup di atas tanah; kita hidup di atas ingatan. Dan ingatan itu bernama budaya.

Namun budaya hari ini sedang berada pada persimpangan paling menentukan. Ia ditarik oleh kekuatan global yang deras, dibenturkan dengan tuntutan zaman yang serba cepat, dan sering kali diseret oleh ambisi politik yang menggerus makna. Di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan mendasar: Akankah kita tetap mengenali diri kita sendiri?

1. Budaya yang Mulai Kehilangan Rumah

Kita sering menyebut budaya sebagai rumah jati diri. Tetapi rumah itu kini retak karena dua hal: modernitas yang tidak kita kuasai dan tradisi yang tidak lagi kita pahami.

Anak-anak tumbuh dengan bahasa asing yang mereka pelajari dari gawai, sementara bahasa ibunya—yang seharusnya menjadi suara jiwa—semakin dianggap kuno. Tarian tradisi disimpan sebagai dekorasi seremoni, bukan lagi sebagai napas kehidupan.

Nilai gotong-royong diganti transaksi, dan rasa malu—yang dulu menjadi pagar moral—kini dianggap hambatan kemajuan.

Padahal budaya bukan sekedar produk estetika. ia adalah sistem nilai yang membentuk cara kita memandang dunia. Ketika nilai itu rapuh, kita kehilangan arah. Kita tidak lagi tahu apa yang harus dipertahankan dan apa yang boleh berubah.

2. Tantangan Globalisasi yang Datang Tanpa Kompromi

Globalisasi menawarkan dua hal: peluang dan penyeragaman. Kita berlari mengejar peluangnya, tetapi sering lupa menyiapkan pagar untuk menjaga jati diri. Kita mengagumi budaya luar tanpa memilah nilai mana yang perlu diserap dan mana yang cukup kita hormati dari jauh.

Dalam dunia yang semakin terhubung, perbedaan bukan lagi sekat, tetapi ancaman picik jika tidak disikapi dengan kedewasaan. Kekayaan budaya bisa hilang hanya karena tergoda menjadi mirip. Kita pernah mendengar istilah “westernisasi”, tetapi kini lebih dari itu: kita sedang memasuki era homogenisasi, masa ketika dunia ingin serupa—makanan, pakaian, bahasa, bahkan cara berpikir.

Jika kita tidak kuat pada fondasi sendiri, kita bukan hanya akan kehilangan budaya, tetapi juga kehilangan cara kita memaknai hidup.

3. Generasi Baru dan Jarak Nilai

Generasi muda harusnya menjadi penjaga masa depan budaya. Namun realitasnya, mereka berjalan di tanah yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena dunia yang mendidik mereka berbeda. Mereka tumbuh dalam budaya instan, budaya klik, budaya kecepatan.

Tradisi yang membutuhkan kesabaran dianggap tidak relevan. Cerita leluhur yang memerlukan perenungan dianggap hanya mitos tanpa guna. Kearifan lokal yang dahulu memandu masyarakat kini bergeser menjadi perbincangan seremonial.

Kita tidak bisa menyalahkan mereka, tetapi juga tidak boleh menyerah. Tantangannya adalah bagaimana membuat budaya menjadi relevan dan bermakna, bukan sekadar menjadi arsip romantik.

4. Komersialisasi Budaya: Antara Pelestarian dan Eksploitasi

Ada momen ketika budaya justru hidup kembali karena dijual: tarian untuk turis, ritual untuk event, pakaian adat sebagai properti fotografi. Kita bersyukur budaya dikenal lebih luas, tetapi kita juga cemas ketika nilai-nilai luhur direduksi menjadi komoditas.

Ketika budaya dijadikan produk, makna bisa tergerus. Yang tersisa hanya bentuk, bukan ruh. Kita bisa kehilangan kedalaman tradisi hanya demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Di sinilah letak salah satu tantangan terbesar: menjaga agar budaya tetap hidup, namun tidak tercerabut dari nilai.

5. Politik Identitas dan Perebutan Warna Budaya

Budaya adalah rumah bagi semua. Tetapi kadang ia digunakan sebagai senjata politik untuk menyingkirkan sesama. Kita melihat bagaimana kelompok tertentu merasa berhak memonopoli makna budaya, seolah budaya hanya punya satu pemilik.

Padahal budaya lahir dari kerjasama, dari proses panjang saling mempengaruhi. Tidak ada budaya yang murni, semua adalah campuran pengalaman, perjumpaan, dan sejarah. Ketika budaya ditarik-tarik untuk kepentingan kekuasaan, maka jati diri berubah menjadi alat legitimasi. Dan itu sangat berbahaya.

6. Bagaimana Kita Menjaga Jati Diri?

Langkah pertama adalah kejujuran budaya—berani mengakui apa yang hilang, apa yang sedang berubah, dan apa yang perlu diperkuat. Kita terlalu sering terjebak pada romantisme masa lalu atau euforia masa depan, tanpa menyiapkan ruang bagi keduanya untuk berdialog.

Langkah kedua adalah pendidikan budaya yang tidak hanya menghafal, tetapi menghidupkan. Anak muda harus diajak memahami makna di balik setiap simbol, nilai di balik setiap tarian, filosofi di balik setiap cerita. Budaya bukan untuk dipajang; ia untuk dihayati.

Langkah ketiga adalah keberanian mengembangkan tradisi tanpa kehilangan karakter. Budaya boleh tumbuh mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan akarnya. Inovasi harus berangkat dari nilai, bukan dari keinginan meniru.

Langkah keempat adalah kolaborasi—antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya. Pelestarian bukan tugas satu pihak; ia adalah kerja bersama yang membutuhkan perhatian jangka panjang, bukan hanya proyek tahunan.

7. Kita dan Masa Depan Budaya

Jati diri bukan sesuatu yang kita temukan sekali lalu selesai. Ia adalah proyek panjang yang harus dirawat. Kita perlu keberanian untuk merayakan perbedaan, ketegasan untuk menjaga nilai, serta kebijaksanaan untuk menerima perubahan.

Budaya kita sedang menghadapi tantangan besar—lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya. Tetapi setiap tantangan adalah peluang untuk memikirkan kembali siapa kita sebenarnya.

Jika kita mampu melewati persimpangan ini, kita bukan hanya akan mempertahankan budaya, tetapi juga mematangkan jati diri sebagai bangsa.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah “apa budaya kita?”, tetapi “apa yang kita lakukan agar budaya itu tetap menjadi jati diri kita?”

Dan di situlah letak pekerjaan besar kita bersama.

Tamlanrea, 6 Desember 2025