Bukti dan Riset tentang Dampak Perubahan Iklim terhadap Perikanan Indonesia

  • Whatsapp
Ilusyrasi es di kutub (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Perubahan iklim bukan lagi ancaman abstrak bagi sektor kelautan Indonesia.

Berbagai laporan internasional, riset akademik, hingga studi kasus lokal menunjukkan bahwa perikanan tangkap Indonesia sudah merasakan dampaknya—mulai dari pergeseran stok ikan, musim yang tidak menentu, hingga penurunan produktivitas dan pendapatan nelayan kecil.

Berikut rangkuman bukti ilmiah dan kebijakan yang telah disusun berbagai lembaga.

1. Laporan World Bank dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Salah satu rujukan utama adalah laporan World Bank berjudul “Hot Water Rising: The Impact of Climate Change on Indonesia’s Fisheries and Coastal Communities”.

Laporan ini menguraikan bahwa kenaikan suhu laut, peningkatan permukaan air, pengasaman laut, dan intensifikasi badai mengancam ekosistem pesisir Indonesia sekaligus stok ikan yang menjadi tumpuan ekonomi nasional.

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa sektor perikanan memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan (sumber protein masyarakat), perekonomian nasional, dan lapangan kerja. Karena itu, gangguan iklim diprediksi akan memberi dampak serius terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir.

World Bank juga menyarankan sejumlah strategi adaptasi, mulai dari penguatan tata kelola perikanan, investasi pada teknologi adaptif, hingga pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menyusun strategi adaptasi melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KP (BPPSDM) KKP. Dalam dokumen-dokumen kebijakannya, KKP mengakui bahwa perubahan suhu laut mendorong pergeseran stok ikan, terutama di laut tropis seperti Indonesia.

KKP juga aktif menggunakan riset dari kampus seperti IPB University untuk memperkuat dasar kebijakan, termasuk melalui webinar, pelatihan, dan kolaborasi riset.

2. Riset Akademik dari IPB University

Banyak temuan akademis memperkuat bukti ini. Salah satu peneliti IPB, Dr. Perdinan, mengungkap bahwa perubahan iklim menurunkan produktivitas laut melalui penurunan kadar klorofil-a, yaitu indikator utama kesuburan perairan dan kelimpahan ikan.

Ia juga menyoroti fenomena El Niño dan La Niña yang mengubah pola migrasi ikan. Banyak spesies ikan kini bergerak lebih jauh dan lebih dalam demi mencari suhu yang lebih stabil, sehingga memengaruhi lokasi dan waktu operasi penangkapan.

Riset IPB lainnya menegaskan pentingnya pendekatan adaptasi berbasis ekosistem serta insentif seperti Payment for Ecosystem Services (PES) untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan.

3. Analisis Kerentanan Perikanan di Tingkat Provinsi

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Marine Fisheries (IPB) menilai kerentanan sektor perikanan tangkap di berbagai provinsi Indonesia terhadap perubahan iklim.

Hasilnya menunjukkan bahwa Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo termasuk wilayah dengan indeks kerentanan paling tinggi.

Kerentanan ini ditentukan oleh tiga komponen: Exposure: paparan terhadap perubahan suhu, cuaca ekstrem, dan variabilitas iklim, Sensitivity: ketergantungan masyarakat pada sektor perikanan, Adaptive capacity: kapasitas adaptasi teknologi, ekonomi, dan sosial.

Studi ini menekankan bahwa kebijakan adaptasi harus dirancang berdasarkan karakteristik masing-masing provinsi.

4. Bukti Lokal dari Jawa Timur

Penelitian di Laut Jawa Timur oleh akademisi Universitas Dr. Soetomo menunjukkan keterkaitan kuat antara perubahan iklim dan produksi perikanan tangkap. Perubahan suhu permukaan laut, curah hujan, dan cuaca ekstrem terbukti memengaruhi hasil tangkapan nelayan, baik dari sisi jumlah maupun jenis ikan.

Temuan ini memperkuat argumen bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya bersifat nasional, tetapi juga sangat nyata pada skala lokal.

5. Musim Ikan yang Tidak Lagi Menentu

Laporan Kompas mencatat keluhan nelayan di beberapa wilayah, seperti Lombok Timur, bahwa pola musim ikan kini sulit diprediksi. Pergeseran arus dan suhu laut menyebabkan musim ikan yang biasanya stabil menjadi berubah-ubah, sehingga membuat hasil tangkapan tidak menentu dan pendapatan nelayan menurun.

6. Kerusakan Ekosistem Laut Tropis

Penelitian dari Universitas Maritim Nusantara (dipublikasikan di Kalibra Journal) menunjukkan bahwa kenaikan suhu dan pengasaman laut juga mengancam ekosistem kritis seperti terumbu karang, padang lamun, dan habitat ikan terumbu.

Ketika habitat ikan rusak, banyak spesies ekonomis kehilangan ruang hidup, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas perikanan jangka panjang.

7. Dampak Sosial terhadap Kesejahteraan Nelayan

Studi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) menemukan bahwa nelayan di Kabupaten Batang mengalami penurunan hasil tangkapan dan pendapatan hingga 50% akibat gelombang tinggi, curah hujan ekstrem, dan naiknya suhu laut. Penelitian ini merekomendasikan diversifikasi ekonomi untuk nelayan serta peningkatan layanan informasi cuaca real-time dari pemerintah.

Bukti ilmiah dan kebijakan menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap perikanan Indonesia nyata, signifikan, dan semakin meningkat.

Ancaman meliputi penurunan hasil tangkap, pola musim ikan yang makin sulit diprediksi, pergeseran stok ikan ke wilayah baru, kerusakan habitat penting, erugian ekonomi bagi jutaan nelayan kecil.

Pemerintah melalui KKP telah menyiapkan strategi adaptasi, namun tantangan masih besar. Adaptasi perubahan iklim membutuhkan pendekatan lintas sektor, kolaborasi ilmiah, dukungan kebijakan, serta pemanfaatan teknologi agar perikanan Indonesia tetap produktif dan berkelanjutan di masa depan.

Referensi Utama (Indonesia)

  1. World Bank / Kementerian Kelautan & Perikanan

    • Kaczan, D., Nurhabni, F., Cheung, W., dkk. Hot Water Rising: The Impact of Climate Change on Indonesia’s Fisheries and Coastal Communities. World Bank + KKP + University of British Columbia. World Bank+2Open Knowledge Warehouse+2

    • Kaczan, D., Nurhabni, F., Cheung, W. (2024). Blog “Peningkatan Suhu Air Laut: Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Perikanan”. World Bank. World Bank Blogs

    • World Bank: Indonesia Sustainable Oceans Program – Resources. Lihat laporan adaptasi dan kebijakan perikanan. World Bank

  2. Riset Akademik & Jurnal Nasional

    • Cintra, A. K. A., Setyobudiandi, I., & Fahrudin, A. (2017). “Analisis Kerentanan Perikanan Tangkap Akibat Perubahan Iklim pada Skala Provinsi”. Journal of Marine Fisheries. DOI:10.29244/jmf.8.2.223-233. IPB Journal

    • Cintra, A. K. A., Setyobudiandi, I., & Fahrudin, A. (2017). Kerentanan Perikanan Tangkap Akibat Perubahan Iklim (disertasi / laporan IPB). IPB Repository

    • Puspasari, R., Triharyuni, S., Alimi, T., Campbell, S. J., dkk. “Pengaruh ENSO terhadap Lingkungan Perairan dan Perikanan di Perairan Sulawesi Utara”. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan

    • Moegni, N., Rizki, A., & Prihantono, G. “Adaptasi Nelayan Perikanan Laut Tangkap dalam Menghadapi Perubahan Iklim” – Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan. Journal UMY

  3. Riset dari IPB University

    • IPB University. “Pakar IPB University Jelaskan Dampak Perubahan Iklim bagi Stok Ikan di Lautan” — artikel riset dan wawancara Dr. Perdinan.