Humaniora | Bajo di Taka Bonerate

  • Whatsapp
Pulau Rajuni, pada sutua masa di musim kering (dok: K. Azis)

Kehidupan mereka di atas laut dan perahu adalah bentuk ekonomi adaptif—mobilitas tinggi, berbagi sumber daya, dan ketergantungan pada pengetahuan lokal.

PELAKITA.ID – Minggu pertama April 1995. Laut dipanggang musim kemarau, angin sepoi hanya sesekali menyentuh kulit kami, mahasiswa Kelautan UNHAS semester akhir, yang bersimbah peluh di atas rataan terumbu.

Di sisi timur Pulau Rajuni Kecil, kami bersiap merapat setelah perjalanan panjang selama 33 jam dari Pulau Barrang Lompo, Makassar.

Sebelum menjejak kaki, dari atas perahu tampak permukiman di sisi utara yang didominasi rumah panggung beratap seng dan anyaman daun kelapa.

Warna rumah nyaris seragam, kayu dan daun kering membentuk rataan yang harmonis. Beberapa perahu kecil bersandar di belakang rumah. Di sisi selatan, suasana berbeda: cat rumah variatif, beberapa rumah batu tampak lebih teratur, perahu kayu berbadan lebar berjejer rapi.

“Di utara Kampung Bajo, di selatan Kampung Bugis,” kata Muchsin Situju, pemandu kami.

“Ka dare’ni ye!” teriak seorang ibu dari kejauhan, segera menyampaikan kabar itu pada suaminya, Coang.

Mereka adalah pasangan suami-istri, anaknya ikut menjadi kru kapal yang membawa kami beserta bibit kima (kerang raksasa) dari Marine Station Barrang Lompo, Makassar.

Rumah panggung mereka diapit kantor desa dan Masjid Rajuni, siap menampung kami selama tiga bulan.

Malam harinya, puluhan warga Kampung Bajo berdatangan ke aula pertemuan desa. Kedekatan mereka dengan salah satu LSM yang sejak 1993 memfasilitasi penyadaran konservasi di Taka Bonerate mempermudah interaksi kami.

Pertemuan malam itu menjadi awal pengenalan pada dinamika sosial dan bahasa komunitas Bajo.

“Kime, sisillle’…” kata mereka saat kami memperlihatkan kima yang kami bawa. Sisille’ merujuk pada kima sisik lebih kecil. Inilah pengalaman pertama mendengar percakapan warga Bajo dalam bahasa ibu mereka, Baong Sama.

Di tengah sinar lampu pijar dari generator, mereka berbagi cerita tentang kima dan tradisi penangkapan. Kami, sebagai pendatang, disebut bagai.

Beberapa kata yang masih teringat: “bagai” (orang luar/pendatang), “palembe’” (kembali), “dangai”, “tikke” (berapa), “bidok” (kapal), “lepa” (perahu), “kano”, “bagal” (besar).

Di Rajuni Kecil, orang Bajo tetap menggunakan bahasa Bajo; di selatan, orang Bugis tetap menggunakan bahasa Bugis. Pertemuan malam itu dihadiri perwakilan dari kampung Bajo, di mana batas wilayah kedua komunitas dibatasi oleh masjid.

Dari timur Rajuni Kecil, tampak Pulau Tarupa Besar, di tenggara Rajuni Besar, Tinabo Kecil, dan Tinabo Besar.

Meskipun disebut Rajuni Besar, pulau itu sebenarnya lebih kecil dari Rajuni Kecil—disebut “Besar” karena menjadi titik pertama yang terlihat para pelaut mendekat.

Di utara tampak Latondu Besar, pulau terbesar dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, gugus yang mengikat lebih dari 21 pulau karang.

Komunitas Bajo di Taka Bonerate bermukim di Latondu Besar, Tarupa Besar, Rajuni Besar, Rajuni Kecil, Pasitallu Tengah, dan Timur. Pulau Jinato didominasi orang Bugis.

Kawin-mengawin antar-kampung tetap terjadi, menciptakan heterogenitas genetik dan sosial: sekitar 60 persen Bajo, 35 persen Bugis, 5 persen Selayar, sisanya Buton dan Flores.

Bahasa Bajo, Baong Sama, memperlihatkan identitas mereka yang kuat. Kata Sama berarti bangsa atau kaum mereka, menandai komunitas internal.

Sementara bagai merujuk pada semua masyarakat lain, di luar orang Bajo, biasanya diikuti nama suku, misalnya bagai Mengkasar, bagai Sulaya’ (Selayar), bagai Palue’ (Flores).

Fenomena ini memperlihatkan identitas sosial yang eksklusif namun adaptif, sesuai konsep ethnolinguistic identity dalam antropologi (Fishman, 1999).

Dari perspektif sosiologi, komunitas Bajo menunjukkan stratifikasi sosial horizontal dan solidaritas berbasis kelompok (Sahlins, 1972).

Kehidupan mereka di atas laut dan perahu adalah bentuk ekonomi adaptif—mobilitas tinggi, berbagi sumber daya, dan ketergantungan pada pengetahuan lokal.

Dalam terminologi pembangunan pesisir (community-based coastal development), mereka adalah aktor utama dalam konservasi ekosistem terumbu karang, mangrove, dan perikanan berkelanjutan (Agrawal & Gibson, 1999; McGoodwin, 1990).

Eksistensi mereka mengajarkan bahwa kearifan lokal, identitas budaya, dan pengelolaan sumber daya saling terkait.

Tantangan ke depan adalah bagaimana pembangunan di pesisir tidak merusak pola hidup adaptif ini, melainkan memperkuat kapasitas masyarakat melalui pendidikan, partisipasi, dan akses ke teknologi yang relevan.

Dengan narasi ini, Taka Bonerate bukan sekadar gugusan pulau; ia adalah laboratorium hidup bagi studi antropologi maritim, sosiologi komunitas, dan pembangunan pesisir berkelanjutan.

Bajo bukan hanya penghuni laut, tetapi penanda bahwa identitas, lingkungan, dan strategi hidup saling berpaut—pelajaran bagi generasi kini dan masa depan.

Makna kekuatan Bajo

Di balik kehidupan sehari-hari komunitas Bajo, terlihat bentuk kekuatan lokal yang subtil namun efektif. Struktur sosial mereka tidak berpusat pada hierarki formal, tetapi pada praktik pengetahuan lokal dan kontrol atas sumber daya laut.

Perahu, pola migrasi, dan teknik menangkap ikan bukan hanya alat ekonomi, tetapi juga instrumen kekuasaan—mereka menentukan siapa yang memiliki akses terhadap ikan, kima, dan terumbu karang.

Dalam kerangka Foucault, kekuasaan tidak hanya berada di tangan negara atau institusi formal, melainkan tersebar melalui praktik-praktik sehari-hari yang mengatur hubungan antarindividu dan komunitas.

Komunitas Bajo mengekspresikan kekuatan ini melalui ritual, norma, dan bahasa mereka sendiri, yang menjaga identitas dan kesinambungan sosial tanpa terlihat seperti otoritas formal.

Namun, kekuasaan lokal ini juga menimbulkan ruang perlawanan. Kelas sosial dalam arti Foucauldian muncul bukan sebagai struktur kaku, tetapi sebagai titik interaksi antara praktik kekuasaan dan strategi resistensi.

Misalnya, generasi muda Bajo kadang menentang aturan orang tua atau pola tradisional dalam menangkap ikan, menuntut akses yang lebih merata atau metode baru yang lebih efisien.

Bentuk resistensi ini bukan sekadar penolakan, tetapi juga merupakan negosiasi berkelanjutan antara tradisi, identitas, dan adaptasi terhadap tekanan eksternal—seperti pengaruh LSM, kebijakan konservasi Taman Nasional, dan modernisasi.

Dengan demikian, komunitas Bajo adalah laboratorium hidup bagi konsep Foucault: kekuasaan selalu hadir dalam relasi sosial, dan resistensi adalah bagian inheren dari dinamika tersebut, menciptakan keseimbangan antara kontrol lokal dan inovasi komunitas.

___
Tamarunang, 21 September 2025