Panduan Memilih Imam Peradaban, Siapa Pantas Rektor Unhas 2026-2029?

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Oleh: Muliadi Saleh. adalah penggerak literasi dan budaya, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin

“Apabila amanah disia-siakan, tunggulah kehancuran.”
— Hadis Riwayat Bukhari

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.”
— Nelson Mandela

PELAKITA.ID – Di atas tanah Anging Mammiri, di jantung Makassar yang sarat sejarah, berdiri megah sebuah kampus: Universitas Hasanuddin—titisan semangat perlawanan “Ayam Jantan dari Timur”, pahlawan yang tak pernah tunduk pada penjajahan.

Tahun 2026 yang sebentar lagi menjelang, kampus ini kembali menapaki fase penting dalam daur hidupnya: pemilihan Rektor baru untuk periode 2026–2030.

Ini bukan sekadar agenda rutin empat tahunan. Ini adalah ikrar kolektif untuk menentukan arah kapal besar bernama Unhas. Sebab, seorang Rektor bukan hanya nahkoda administratif. Ia adalah penjaga nurani kampus, pelayan ilmu, dan penafsir zaman.

19 Jejak Menuju Amanah

Statuta Unhas Pasal 26 menetapkan 19 kriteria utama bagi calon Rektor—bukan hanya administratif, melainkan juga etik dan spiritual: dari keimanan, integritas, dan kesehatan, hingga rekam jejak akademik serta moral.

Ia harus bebas dari jerat hukum, narkoba, dan pelanggaran etika.
Ia harus menempuh jalan ilmu hingga puncak—doktor dari kampus bereputasi.
Ia harus sehat lahir dan batin.
Ia harus beriman dan bertakwa.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
— QS. An-Nisa: 58

Kampus bukan perusahaan. Ia adalah “tanah suci” ilmu pengetahuan, tempat lahirnya pemimpin, pemikir, dan pembela kemanusiaan. Maka, Rektor bukan hanya harus cakap secara administratif, tetapi juga matang secara spiritual, sosial, dan intelektual.

Rektor Bukan Sekadar Gelar, Tapi Gema Nilai

“Pemimpin umatku adalah mereka yang mencintai umatnya dan dicintai oleh umatnya.”
— HR. Tirmidzi

Rektor Unhas sejati adalah dia yang:

  • Mengerti dinamika dan harapan mahasiswa,

  • Mengayomi dosen dengan empati,

  • Memahami peran dan fungsi civitas akademika,

  • Mampu berdiri tegak di tengah arus globalisasi—
    tanpa tercerabut dari akar budaya dan kearifan lokal.

Pandangan Masyarakat: Rektor Adalah Wajah Unhas

Dari luar pagar kampus, masyarakat memandang seorang Rektor seperti menatap wajah sebuah bangsa kecil.
Sikapnya mencerminkan marwah kampus.
Keputusannya menjadi ukuran nalar.
Kebijakannya membentuk ekosistem pengetahuan.

Alumni berharap, agar kampus tempat mereka pernah ditempa tetap memancarkan cahaya: Bukan hanya “maha besar” dalam bangunan tapi juga maha luhur dalam nilai. Bukan hanya “kampus merah” dalam warna jaket almamater dan semangat, tapi juga kampus meriah dalam prestasi.

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan. Amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
— Imam Ghazali

Kampus dan Tanggung Jawab Keumatan

Unhas bukan menara gading. Ia adalah menara kasih dan akal—menjulang dalam semangat ilmu, namun berpijak pada realitas sosial. Rektor 2026–2030 harus mampu menyambungkan “langit dan bumi”, langit idealisme akademik, Bumi realitas kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan sosial.

Kampus bukan tempat menjauh dari rakyat, melainkan ladang amal untuk menyemai masa depan bangsa. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” — HR. Ahmad

Pilihan yang Akan Dicatat Sejarah

Pemilihan ini akan dikenang. Bukan hanya karena siapa yang menang tetapi karena apa yang dibela, dan nilai apa yang diperjuangkan.

Jika kampus kehilangan orientasinya, jika Rektor hanya menjadi simbol kekuasaan akademik tanpa jiwa kerakyatan,
maka hilanglah ruh perjuangan Hasanuddin yang menjadi nama kampus ini. Semangat merah akan redup—dan hilang ditelan zaman.

Namun, jika yang terpilih adalah insan kamil, manusia yang utuh—berilmu, berakhlak, bersih, betani, dan bercahaya, maka Unhas akan tetap menjadi Hasanuddin masa kini dan masa depan, serta pelita Nusantara.

Doa dan Harap

Ya Allah, karuniakan pemimpin yang takut kepada-Mu lebih dari takut pada jabatan.
Yang memimpin dengan cinta, bukan ambisi.
Yang berjalan dengan ilmu, bukan siasat.
Yang menyatukan, bukan memecah.
Yang membawa kampus ini menjadi taman peradaban, bukan gedung kekuasaan.

“Ketika pemimpin kalian adalah yang terbaik di antara kalian, dan orang kaya kalian adalah yang paling dermawan, serta urusan kalian diselesaikan dengan musyawarah, maka bumi ini lebih baik bagi kalian.”
— HR. Hakim

Karena Rektor bukan hanya pemegang mandat administratif.
Ia adalah penyambung mimpi kolektif.
Ia adalah penafsir zaman.
Ia adalah penjaga akal dan akhlak dalam satu tarikan napas kampus.

Universitas Hasanuddin bukan sekadar tempat belajar.
Ia adalah tempat berkhidmat.
Dan khidmat tak boleh jatuh ke tangan yang salah.


Motto:
Muliadi Saleh, menulis untuk menginspirasi, mencerahkan, dan menggerakkan peradaban.