Achille Mbembe dan Pemikiran ‘Earthly Community’

  • Whatsapp
Achille Mbembe Source: https://www.financialafrik.com/
  • Ia dikenal karena kritik tajamnya terhadap kolonialisme, rasisme struktural, dan cara kekuasaan global membentuk kehidupan manusia.
  • Mbembe mengingatkan bahwa banyak kelompok di dunia masih berada dalam kondisi “dikorbankan” oleh sistem global yang menyingkirkan mereka dari akses terhadap kehidupan yang layak.
  • Selain itu, dalam gagasan terbarunya tentang Earthly Community, Mbembe mengajak dunia untuk membayangkan demokrasi yang melampaui manusia saja—suatu sistem yang mempertimbangkan keberlangsungan ekologi dan relasi yang lebih adil dengan planet tempat kita hidup.

PELAKITA.ID – Achille Mbembe, lahir pada 1957 di Otélé, Kamerun, adalah salah satu pemikir politik, sejarawan, dan cendekiawan publik paling berpengaruh dari Afrika.

Ia dikenal karena kritik tajamnya terhadap kolonialisme, rasisme struktural, dan cara kekuasaan global membentuk kehidupan manusia.

Saat ini, Mbembe menjabat sebagai profesor riset di Wits Institute for Social and Economic Research (WiSER), Universitas Witwatersrand, Johannesburg, serta Direktur Foundation for Democracy Innovation.

Latar akademiknya sangat mengesankan. Ia meraih gelar PhD di Sorbonne dan DEA di Sciences Po, Paris. Mbembe pernah mengajar di universitas ternama dunia seperti Columbia, Yale, Duke, hingga Harvard.

Ia juga menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Geschwister‑Scholl‑Preis untuk Critique of Black Reason dan Holberg Prize 2024 atas kontribusinya terhadap ilmu sosial dan filsafat.

Pemikiran Utama Mbembe

Postcolony dan Kekuasaan
Karyanya yang terkenal, On the Postcolony (2000), memberikan analisis baru tentang bagaimana kekuasaan dijalankan di Afrika pascakolonial. Mbembe menjelaskan bagaimana warisan kolonial masih memengaruhi politik, ekonomi, dan identitas budaya di benua tersebut.

Necropolitics
Dalam konsep Necropolitics, Mbembe memperluas gagasan Michel Foucault tentang biopower. Ia menyoroti bahwa kekuasaan modern bukan hanya mengatur kehidupan, tetapi juga menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang dianggap layak mati. Ia memperkenalkan istilah deathworlds, yaitu kondisi di mana kelompok tertentu hidup dalam situasi seperti “mayat hidup” akibat penindasan atau pengabaian sistemik.

Critique of Black Reason
Di buku ini, Mbembe menguraikan sejarah konstruksi “Blackness” sebagai instrumen dehumanisasi oleh kolonialisme dan kapitalisme. Ia menantang cara berpikir global yang masih menyimpan bias rasial, terutama dalam sistem ekonomi dan politik dunia.

Ekologi, Teknologi, dan Solidaritas Baru

Dalam karya-karya terbarunya seperti The Earthly Community dan Brutalisme, Mbembe membahas krisis iklim, kapitalisme digital, dan pentingnya solidaritas lintas spesies untuk menyelamatkan bumi. Ia menyerukan visi pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan planet dan keadilan ekologis.

Warisannya dalam Arena Pembangunan

Mbembe memberikan kontribusi penting dalam memperluas wacana pembangunan agar lebih kritis terhadap neokolonialisme. Ia mengecam hubungan pascakolonial yang masih memelihara ketimpangan antara negara bekas penjajah dan jajahan, terutama dalam konteks Afrika dan Eropa.

Melalui kepemimpinannya di CODESRIA pada akhir 1990-an, ia mendorong lahirnya teori sosial yang berakar pada pengalaman Afrika, bukan hanya mengandalkan kerangka Barat.

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan yang peka terhadap ras, identitas, dan sejarah kolonial. Dengan konsep Necropolitics,

Mbembe mengingatkan bahwa banyak kelompok di dunia masih berada dalam kondisi “dikorbankan” oleh sistem global yang menyingkirkan mereka dari akses terhadap kehidupan yang layak.

Selain itu, dalam gagasan terbarunya tentang Earthly Community, Mbembe mengajak dunia untuk membayangkan demokrasi yang melampaui manusia saja—suatu sistem yang mempertimbangkan keberlangsungan ekologi dan relasi yang lebih adil dengan planet tempat kita hidup.

Mengapa Pemikiran Mbembe Penting?

Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, pemikiran Mbembe memberikan perspektif segar dalam melihat pembangunan.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan bukan sekadar soal pertumbuhan ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga tentang keadilan historis, akses setara terhadap sumber daya, dan pengakuan atas identitas budaya.

Dengan wacana pembangunan yang masih sering didominasi kerangka global utara,

Mbembe mengajak kita untuk meninjau ulang hubungan kekuasaan yang diwariskan kolonialisme. Ia menekankan bahwa pembangunan sejati memerlukan transformasi mendasar—bukan hanya pada struktur ekonomi, tetapi juga pada cara kita memandang hidup, kematian, dan masa depan bumi.

Achille Mbembe meninggalkan warisan intelektual yang tajam dan relevan.

Ia menantang kita untuk berpikir ulang tentang demokrasi, kekuasaan, dan pembangunan—seraya membayangkan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh makhluk hidup di planet ini.