Habibie Prize, Kiprah Prof JJ dan Dedikasi untuk Ilmu Pengetahuan Dasar

  • Whatsapp
ILustrasi
  • Habibie Prize menjadi salah satu instrumen untuk membangun iklim tersebut. Penghargaan ini mengirimkan pesan bahwa riset bukan sekadar aktivitas akademik di ruang laboratorium atau publikasi ilmiah, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
  • Penghargaan kepada Prof. Jamaluddin Jompa mengingatkan bahwa kemajuan universitas tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, publikasi, atau reputasi institusi, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam membangun tradisi intelektual dan memperluas batas pengetahuan.
  • Penghargaan ini juga memiliki dimensi regenerasi. Kehadiran ilmuwan yang memperoleh pengakuan nasional dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa, peneliti muda, dan generasi akademisi berikutnya untuk menekuni riset secara serius. Bahwa tradisi keilmuan tidak hanya dibangun melalui fasilitas, tetapi juga melalui keteladanan dan pengakuan terhadap kerja intelektual.

PELAKITA.ID — Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., akan menerima Habibie Prize 2026 pada bidang Ilmu Pengetahuan Dasar. Penghargaan ini bukan sekadar pengakuan atas capaian akademik seorang guru besar, tetapi juga penghormatan terhadap perjalanan panjang pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi kemajuan bangsa.

Penganugerahan Talenta Unggul Habibie Prize 2026 dijadwalkan berlangsung Selasa, 10 November 2026, pukul 19.00 WIB di Gedung BJ Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta. Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., dijadwalkan memberikan sambutan utama dalam agenda tersebut.

Prof. Jamaluddin Jompa menjadi salah satu dari lima tokoh penerima penghargaan tahun ini.

Para penerima lainnya adalah Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi; Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D., bidang Ilmu Rekayasa; Prof. Burhanuddin Muhtadi, M.A., Ph.D., bidang Ilmu Ekonomi, Sosial, Politik, dan Hukum; serta Prof. Dr. Truman Simanjuntak, bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan.

Penghargaan kepada Prof. Jamaluddin Jompa menempatkan kontribusi keilmuan dari lingkungan perguruan tinggi Indonesia Timur dalam panggung apresiasi nasional.

Bagi Unhas, pengakuan tersebut sekaligus memperkuat posisi universitas sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Berawal dari gagasan BJ Habibie

Habibie Prize memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia.

Penghargaan ini pertama kali diselenggarakan pada 1999 oleh Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM-IPTEK), yang didirikan pada 12 Mei 1997 oleh Bacharuddin Jusuf Habibie bersama keluarga.

Gagasan dasarnya berangkat dari keyakinan BJ Habibie bahwa kemajuan bangsa harus ditopang oleh sumber daya manusia yang unggul, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemampuan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penghargaan ini dirancang untuk memberikan apresiasi kepada individu yang berjasa dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan serta teknologi yang inovatif dan berdampak signifikan bagi kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.

Sejak awal, penghargaan ini dikenal sebagai Habibie Award. Perubahan menjadi Habibie Prize merupakan bagian dari penguatan peran negara dalam memberikan apresiasi kepada talenta riset dan inovasi nasional. Pada 6 November 2020, Yayasan SDM-IPTEK dan Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN menyepakati penyelenggaraan penghargaan secara bersama. Sejak 2022, BRIN menjadi penyelenggara dengan dukungan LPDP.

Dengan demikian, Habibie Prize bukan sekadar penghargaan yang menggunakan nama seorang tokoh besar. Ia merupakan bagian dari cita-cita BJ Habibie untuk membangun tradisi keilmuan yang kuat, mendorong lahirnya ilmuwan unggul, dan memastikan bahwa pengetahuan memiliki peran nyata dalam kemajuan Indonesia.

Mengapa penghargaan ini penting?

Penganugerahan Habibie Prize memiliki arti penting karena ilmu pengetahuan dasar sering kali tidak langsung menghasilkan manfaat ekonomi yang terlihat.

Riset dalam bidang ini bekerja pada lapisan fundamental: menjelaskan fenomena alam, membangun teori, mengembangkan metode, dan menyediakan landasan bagi inovasi yang lebih aplikatif.

Kemajuan teknologi, kesehatan, lingkungan, energi, hingga industri tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan dasar. Karena itu, memberikan penghargaan kepada ilmuwan di bidang ini berarti memberikan pengakuan terhadap fondasi yang memungkinkan berbagai inovasi tumbuh dan berkembang.

Dalam konteks Indonesia, penghargaan semacam ini juga penting untuk memperkuat ekosistem riset yang berkelanjutan. Ilmuwan membutuhkan ruang untuk mengembangkan gagasan, dukungan terhadap penelitian, kolaborasi lintas disiplin, serta penghargaan yang layak atas kontribusi intelektual mereka.

Habibie Prize menjadi salah satu instrumen untuk membangun iklim tersebut. Penghargaan ini mengirimkan pesan bahwa riset bukan sekadar aktivitas akademik di ruang laboratorium atau publikasi ilmiah, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Penghargaan ini juga memiliki dimensi regenerasi. Kehadiran ilmuwan yang memperoleh pengakuan nasional dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa, peneliti muda, dan generasi akademisi berikutnya untuk menekuni riset secara serius. Tradisi keilmuan tidak hanya dibangun melalui fasilitas, tetapi juga melalui keteladanan dan pengakuan terhadap kerja intelektual.

Kebanggaan Unhas dan tanggung jawab akademik

Pimpinan dan sivitas akademika Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., atas penganugerahan Habibie Prize 2026.

Apresiasi tersebut menjadi wujud kebanggaan atas pengakuan Pemerintah Indonesia terhadap dedikasi dan kontribusi Prof. JJ dalam pengembangan ilmu pengetahuan dasar, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Unhas, penghargaan ini juga membawa makna yang lebih luas. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun kapasitas akademik, menghasilkan pengetahuan baru, dan memperluas manfaat ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Prestasi seorang akademisi pada level nasional dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen institusi terhadap riset, pendidikan, dan pengabdian.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan, perguruan tinggi dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang relevan, kritis, dan berorientasi pada masa depan.

Dalam banyak kesempatan, secara berulang-ulang, Prof JJ menyatakan ke mdeia, perencana dan mitra strategis Unhas bahwa perubahan ke arah yang lebih baik untuk NKRI dimulai dari perencanaan pembangunan yang berbasis bukti, data dan informasi faktual. Sebab itulah hal mendasar yang bisa memetakan isu, strategi solutif dengan tepat dengan dimensi luas, dalam dan akuntabel.

Jadi, penghargaan kepada Prof. Jamaluddin Jompa mengingatkan bahwa kemajuan universitas tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, publikasi, atau reputasi institusi, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam membangun tradisi intelektual dan memperluas batas pengetahuan.

Habibie Prize 2026 pada akhirnya membawa pesan yang melampaui seremoni penganugerahan. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas kerja panjang ilmuwan, sekaligus pengingat bahwa bangsa yang ingin maju harus memberikan tempat terhormat bagi ilmu pengetahuan.

Selamat kepada Prof. Jamaluddin Jompa. Semoga penghargaan ini menjadi inspirasi bagi Unhas dan komunitas akademik Indonesia untuk terus menumbuhkan ilmu pengetahuan, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan kontribusi yang bermakna bagi masyarakat dan masa depan bangsa.

___
Penulis Denun