Jelang Kongres ISKINDO, Pesan Trenggono untuk Sarjana Kelautan: Jangan Hanya Mencari Kerja, Ciptakan Lapangan Kerja

  • Whatsapp
Pesan tersebut disampaikan Trenggono ketika menerima kunjungan pengurus ISKINDO di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Desember 2021.
  • Ke depan, ISKINDO perlu memperkuat perannya sebagai organisasi profesi yang tidak hanya menghimpun sarjana kelautan, tetapi juga mampu memberikan pandangan kritis dan rekomendasi berbasis sains terhadap isu-isu strategis nasional.
  • Mulai dari kebijakan transisi energi, perdagangan karbon (carbon trading) dan pengembangan blue carbon, penerapan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL), hingga desentralisasi pengelolaan wilayah pesisir dan laut, semuanya membutuhkan keterlibatan sarjana kelautan yang memahami dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan tata kelola.
  • ISKINDO dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik, perumusan kebijakan, kebutuhan industri, dan kepentingan masyarakat pesisir agar pembangunan kelautan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjamin keberlanjutan dan keadilan.

PELAKITA.ID — Menjelang Kongres Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) pada 23–24 Oktober 2026, sebuah pesan yang disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono hampir lima tahun lalu layak kembali direnungkan.

Pesan itu sederhana, tetapi relevan bagi masa depan sarjana kelautan Indonesia: berhenti hanya berpikir tentang mencari pekerjaan, mulailah membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja.

Pesan tersebut disampaikan Trenggono ketika menerima kunjungan pengurus ISKINDO di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Desember 2021.

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu membahas sejumlah isu strategis, termasuk penciptaan lapangan kerja di sektor kelautan dan perikanan serta penerapan kebijakan penangkapan ikan terukur untuk menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dalam pertemuan tersebut, Trenggono menekankan pentingnya perubahan pola pikir anak muda, terutama mereka yang menempuh pendidikan tinggi di bidang kelautan. Menurut dia, keahlian akademik dan keterampilan teknis yang dimiliki para sarjana merupakan modal penting untuk menjadi wirausahawan.

“Sudah saatnya anak muda Indonesia, khususnya para sarjana di bidang kelautan, untuk mengubah mindset dari mencari ke menciptakan lapangan kerja,” demikian pesan Trenggono dalam unggahannya pada 16 Desember 2021.

Pernyataan itu bukan sekadar dorongan agar sarjana berani berbisnis.

Di dalamnya terkandung gagasan lebih besar tentang bagaimana pendidikan kelautan dapat berkontribusi langsung terhadap produktivitas ekonomi, penciptaan pekerjaan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Indonesia memiliki sumber daya laut yang luas, tetapi potensi tersebut tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menghubungkan pengetahuan tentang laut dengan teknologi, investasi, kebutuhan pasar, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Menteri Trenggono bersama Ketua Umum ISKINDO 2021-2026, M. Riza Damanik (dok: KKP)

Trenggono menilai peluang usaha terbuka di berbagai subsektor, mulai dari perikanan tangkap, budi daya, pemasaran hingga pengolahan hasil perikanan.

Ruang usaha itu dapat diisi oleh generasi muda yang memahami karakter sumber daya pesisir, memiliki kemampuan teknis, serta berani mengembangkan solusi terhadap persoalan nyata di lapangan.

Bagi sarjana kelautan, peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi usaha penyediaan benih dan sarana budi daya, layanan teknologi perikanan, pengembangan rantai dingin, pengolahan hasil tangkapan, pemasaran digital produk laut, hingga konsultasi lingkungan dan pendampingan masyarakat pesisir.

Berbagai peluang itu tentu memerlukan perencanaan bisnis yang matang, akses pembiayaan, kemitraan, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.

Dalam pertemuan dengan pengurus ISKINDO tersebut, Trenggono juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyediakan kemudahan perizinan berusaha dan akses pinjaman modal yang dapat dimanfaatkan untuk merintis maupun mengembangkan usaha.

Ia berharap semakin banyak anak muda mengambil peran sebagai wirausahawan untuk mendorong sektor kelautan dan perikanan menjadi lebih produktif dan modern, dengan produk yang memiliki daya saing lebih baik.

Kongres ISKINDO dan tantangan generasi baru sarjana kelautan

Besok, Jumat, 23 Oktober 2026, ISKINDO akan berkongres di Jakarta.

Menjelang Kongres ISKINDO 2026, pesan tersebut dapat menjadi bahan refleksi organisasi. Kongres bukan hanya ruang untuk memilih kepemimpinan baru dan merumuskan program kerja, melainkan juga kesempatan untuk mempertegas kontribusi sarjana kelautan dalam menjawab persoalan bangsa.

ISKINDO memiliki peluang untuk membangun ekosistem yang mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman profesional, kebutuhan industri, inovasi usaha, dan kepentingan masyarakat pesisir.

Organisasi profesi tidak cukup hanya menjadi tempat berhimpun para sarjana, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan gagasan dengan peluang, kompetensi dengan kebutuhan, serta inovasi dengan manfaat nyata.

Tantangan yang dihadapi generasi muda kelautan hari ini semakin kompleks.

Mereka dituntut memahami persoalan sumber daya dan ekosistem, tetapi sekaligus harus mampu membaca perubahan pasar, perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan arah kebijakan pembangunan. Kompetensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang bermutu, usaha yang berkelanjutan, serta solusi bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Karena itu, salah satu agenda penting ISKINDO ke depan adalah memperluas ruang tumbuh bagi wirausaha berbasis kelautan.

Ke depan, ISKINDO perlu memperkuat perannya sebagai organisasi profesi yang tidak hanya menghimpun sarjana kelautan, tetapi juga mampu memberikan pandangan kritis dan rekomendasi berbasis sains terhadap isu-isu strategis nasional.

Mulai dari kebijakan transisi energi, perdagangan karbon (carbon trading) dan pengembangan blue carbon, penerapan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL), hingga desentralisasi pengelolaan wilayah pesisir dan laut, semuanya membutuhkan keterlibatan sarjana kelautan yang memahami dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan tata kelola.

ISKINDO dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik, perumusan kebijakan, kebutuhan industri, dan kepentingan masyarakat pesisir agar pembangunan kelautan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjamin keberlanjutan dan keadilan.

Di tingkat implementasi, ISKINDO juga perlu ikut mengawal optimalisasi output Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) agar berkembang menjadi pilar ekonomi daerah, bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi keterlibatan sarjana kelautan dalam pendampingan, inovasi teknologi, penguatan kelembagaan, dan pengembangan rantai nilai perikanan.

Agenda ini dapat berjalan beriringan dengan penguatan kewirausahaan alumni melalui inkubasi bisnis, kemitraan industri, akses pembiayaan, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal, mulai dari perikanan tangkap dan budi daya hingga pengolahan, pemasaran, jasa lingkungan, dan ekonomi karbon biru.

Dengan demikian, Kongres ISKINDO semestinya menjadi momentum untuk merumuskan organisasi yang lebih relevan dengan tantangan zaman: berani bersuara dalam kebijakan, hadir dalam penyelesaian persoalan pesisir, serta mampu mengubah kompetensi sarjana kelautan menjadi inovasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Pesan Trenggono pada Desember 2021 itu tetap relevan untuk dibawa ke ruang Kongres ISKINDO pada Oktober 2026.

Laut Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar tenaga kerja terdidik; laut membutuhkan generasi sarjana yang berani mengambil inisiatif, membangun usaha, menciptakan inovasi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

___
Penulis Kamaruddin Azis