Kompas Gelar FGD Kampung Nelayan Merah Putih, Hadir Menko Zulhas, MKP Trenggono hingga Kepala BRIN

  • Whatsapp
Para peserta FGD KNMP di Menara Kompas, Senin, 19 Oktober 2026 (dok: Pelakita.ID)

Poin-Poin Kritis FGD Kompas.id | Menara Kompas, Senin, 19 Oktober 2026

Menara Kompas, Senin, 19 Oktober 2026

PELAKITA.ID – Berdasarkan catatan Pelakita.ID yang hadir pada FGD Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) oleh Kompas.ID ditegaskan bahwa KNMP adalah program transformasi kawasan pesisir, bukan sekadar pembangunan infrastruktur atau pemberian bantuan alat tangkap.

Pembahasan mencakup ketahanan pangan, keberlanjutan sumber daya ikan, penguatan ekonomi nelayan, industrialisasi perikanan, pembiayaan, tata kelola koperasi, hingga evaluasi program.

MKP, Sakti Wahyu Trenggono (dok: Pelakita.ID)

1. Gagasan utama Kampung Nelayan Merah Putih

  • Mengubah pola bantuan menjadi pembangunan ekosistem usaha perikanan terpadu. Program tidak berhenti pada pemberian kapal, alat tangkap, atau bantuan modal, tetapi membangun sarana pendukung kegiatan nelayan dari hulu hingga hilir.

  • Meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah fasilitas yang dibangun, tetapi dari peningkatan pendapatan, produktivitas, kualitas hasil tangkapan, dan taraf hidup keluarga nelayan.

  • Memperkuat kedaulatan dan ketahanan pangan nasional. Perikanan dipandang sebagai salah satu penopang kebutuhan protein masyarakat sekaligus bagian penting dari kemandirian ekonomi bangsa.

  • Membangun model kampung nelayan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Fasilitas yang dibangun harus menjawab persoalan konkret, seperti kesulitan memperoleh es, bahan bakar, perbaikan kapal, penyimpanan ikan, dan akses pasar.

  • Mendorong pembangunan kawasan pesisir yang lebih layak huni. Perbaikan ekonomi harus berjalan bersama peningkatan sanitasi, akses air bersih, kesehatan, dan kualitas lingkungan permukiman.

  • Menerapkan pendekatan tematik sesuai karakteristik wilayah. Setiap kampung nelayan memiliki kondisi sumber daya ikan, budaya, kebutuhan infrastruktur, dan karakter usaha yang berbeda sehingga tidak bisa ditangani dengan model seragam.

2. Ketahanan pangan dan kedaulatan ekonomi

  • Pangan bukan hanya persoalan ketersediaan makanan. Pangan juga berkaitan dengan martabat, kedaulatan, produktivitas, dan ketahanan suatu negara.

  • Ketergantungan pada impor dapat melemahkan produsen domestik. Jika kebutuhan pangan dipenuhi melalui impor secara berlebihan, petani, peternak, dan nelayan dalam negeri berisiko kehilangan pasar dan pendapatan.

  • Perikanan memiliki posisi strategis dalam penyediaan protein nasional. Potensi laut dan perikanan Indonesia perlu dikelola agar menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

  • Potensi sumber daya alam harus diikuti kemampuan mengolah dan menciptakan nilai tambah. Kekayaan laut tidak otomatis membuat nelayan sejahtera apabila teknologi, industri, pembiayaan, dan tata kelolanya belum berkembang.

  • Program KNMP perlu diarahkan pada hasil yang terukur. Kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan perlu diterjemahkan menjadi indikator yang dapat dievaluasi, bukan hanya target pembangunan fisik.

3. Keberlanjutan sumber daya ikan harus menjadi prasyarat

Salah satu isu penting dalam FGD adalah risiko peningkatan kapasitas penangkapan ikan tanpa mempertimbangkan daya dukung sumber daya.

  • Penambahan kapal tidak boleh dilakukan secara seragam. Di wilayah yang telah mengalami tekanan penangkapan tinggi, penambahan kapal justru dapat memperparah persaingan dan menurunkan pendapatan nelayan.

  • Daya dukung sumber daya ikan harus dihitung sebelum menentukan kapasitas usaha. Potensi produksi, kondisi stok ikan, biaya melaut, harga jual, dan kebutuhan pendapatan nelayan perlu dianalisis bersama.

  • Pengelolaan perikanan membutuhkan data stok ikan yang mutakhir. Dalam diskusi disampaikan pentingnya mengaktifkan kembali kajian stock assessment untuk menjadi dasar kebijakan penangkapan.

  • Pengawasan kapal dan aktivitas penangkapan harus diperkuat. Pemanfaatan sistem pemantauan kapal, termasuk Vessel Monitoring System (VMS), diperlukan untuk mendukung pengawasan dan transparansi kegiatan penangkapan.

  • Penangkapan ikan terukur harus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah asal. Pelabuhan pangkalan, tenaga kerja, aktivitas pendaratan, dan perputaran ekonomi perlu diupayakan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

  • Kebijakan penangkapan harus sesuai dengan karakter perairan tropis. Keanekaragaman spesies ikan di Indonesia membuat penghitungan stok dan pengaturan kuota lebih kompleks daripada di negara yang perikanannya didominasi satu spesies.

  • Peningkatan kapasitas tangkap harus dibarengi pengendalian. Tujuannya bukan semata-mata menangkap ikan lebih banyak, melainkan memastikan sumber daya tetap tersedia dan usaha nelayan bertahan dalam jangka panjang.

4. Infrastruktur KNMP harus menjawab kebutuhan operasional nelayan

Dalam paparan mengenai pengembangan model kampung nelayan, disampaikan bahwa fasilitas dibangun berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di lapangan. Contoh yang dibahas mencakup kampung nelayan di wilayah kepulauan dengan sekitar 86 kapal dan lebih dari 400 keluarga.

Fasilitas yang menjadi bagian dari ekosistem KNMP antara lain:

  • Pabrik es: memastikan nelayan memperoleh es tanpa harus pergi ke pusat kota.

  • Bengkel kapal: memudahkan perbaikan mesin dan kapal sehingga waktu tidak produktif dapat dikurangi.

  • SPBUN atau fasilitas pengisian bahan bakar nelayan: membantu memenuhi kebutuhan BBM untuk melaut.

  • Cold storage: menjaga kualitas ikan dan memberi kesempatan bagi nelayan untuk mengatur waktu penjualan.

  • Kios atau toko kebutuhan melaut: mempermudah akses terhadap perbekalan dan logistik.

  • Fasilitas pendukung aktivitas ekonomi: memperkuat rantai pasok dan distribusi hasil perikanan.

  • Ruang aktivitas penyuluhan: menjadi tempat interaksi nelayan dengan penyuluh dan pendamping untuk membahas masalah usaha.

Poin penting: Infrastruktur perlu dipandang sebagai satu kesatuan. Pabrik es tidak akan optimal jika tidak ada pengelolaan, pasokan energi, pengguna, dan sistem distribusi yang memadai. Begitu pula cold storage membutuhkan akses pasar dan pengelola yang mampu menjaga operasionalnya.

5. Industrialisasi dan pengolahan hasil perikanan

FGD juga menyoroti kesenjangan antara potensi produksi perikanan Indonesia dan kemampuan industri dalam mengolah hasil tangkapan.

  • Pengolahan ikan perlu menjadi agenda strategis. Peningkatan produksi harus diikuti kemampuan mengolah hasil tangkapan menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

  • Industri pengolahan perlu dikembangkan di wilayah penghasil ikan. Pembangunan industri di kawasan terdepan, termasuk wilayah kepulauan, dapat mengurangi kebutuhan mengirim seluruh hasil tangkapan ke Jawa.

  • Standar mutu menjadi syarat peningkatan daya saing. Penanganan ikan sejak di kapal, proses penyimpanan, pengangkutan, hingga pengolahan perlu diperbaiki agar memenuhi standar pasar.

  • Teknologi rantai dingin perlu disesuaikan dengan lama perjalanan melaut. Kapal yang beroperasi selama berminggu-minggu membutuhkan sistem pengawetan dan pengendalian suhu yang lebih baik.

  • Kemitraan dengan perusahaan dapat mendorong perbaikan mutu. Standar pembelian dari industri dan pasar dapat menjadi insentif bagi nelayan untuk memperbaiki kualitas ikan.

  • Nilai tambah harus dinikmati masyarakat di daerah. Industri pengolahan berpotensi menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan mengurangi kesenjangan pembangunan antardaerah.

  • Indonesia perlu membangun keunggulan kompetitif perikanan. Riset, teknologi, inovasi produk, dan konsistensi kebijakan dibutuhkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.

6. Akses pembiayaan dan permodalan nelayan

Persoalan pembiayaan muncul sebagai salah satu hambatan penting dalam pengembangan usaha perikanan.

  • Akses kredit untuk sektor perikanan dinilai masih terbatas. Dalam paparan disebutkan bahwa porsi kredit perbankan untuk sektor ini sangat kecil dibandingkan potensinya. Angka yang disampaikan dalam diskusi perlu diverifikasi kembali sebelum dikutip sebagai data resmi.

  • Nelayan membutuhkan pembiayaan yang sesuai dengan siklus usaha. Skema pembiayaan harus memperhitungkan biaya BBM, perbekalan, es, perawatan kapal, lama melaut, dan waktu penerimaan hasil penjualan.

  • Koperasi berpotensi menjadi penghubung pembiayaan dan kebutuhan produksi. Koperasi dapat membantu menyediakan perbekalan, bahan bakar, es, serta kebutuhan lain tanpa mengharuskan nelayan menanggung seluruh biaya awal secara mandiri.

  • Ketergantungan kepada pemilik modal perlu diatasi secara bertahap. Hubungan nelayan dengan pemilik kapal, pemberi pinjaman, atau pembeli perlu dibenahi agar nelayan memiliki posisi tawar yang lebih baik.

  • Pembiayaan harus mendukung produktivitas, bukan menciptakan utang yang tidak terkendali. Penyaluran modal perlu diikuti pendampingan usaha, pencatatan keuangan, dan mekanisme pembayaran yang realistis.

7. Koperasi sebagai penggerak ekonomi kampung nelayan

Koperasi diproyeksikan menjadi salah satu institusi penting dalam menjalankan kegiatan ekonomi di kawasan KNMP.

  • Koperasi perlu menjalankan kegiatan usaha yang nyata. Keberadaannya tidak cukup secara administratif, tetapi harus mampu menyediakan barang, jasa, dan pembiayaan yang dibutuhkan anggota.

  • Unit usaha perlu disesuaikan dengan potensi lokal. Kebutuhan nelayan di setiap daerah dapat berbeda, mulai dari BBM, es, logistik, pengolahan ikan, hingga pemasaran.

  • Pengelolaan profesional menjadi kunci keberlanjutan. Koperasi membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, sistem pembukuan, tata kelola transparan, dan mekanisme pertanggungjawaban.

  • Koperasi dapat memperkuat posisi tawar nelayan. Pengadaan kebutuhan melaut secara bersama dan pemasaran kolektif dapat membantu mengurangi biaya serta memperbaiki posisi negosiasi.

  • Model bisnis harus diuji berdasarkan kondisi lapangan. Kelayakan usaha, volume transaksi, biaya operasional, dan kemampuan membayar harus dihitung sebelum unit usaha dijalankan.

  • Pengelola khusus mungkin diperlukan. Dalam diskusi muncul gagasan mengenai kelembagaan yang secara khusus mengawasi operasional, memantau kinerja, dan memastikan fasilitas tidak terbengkalai.

8. Pemberdayaan dan partisipasi masyarakat

Salah satu kritik penting yang disampaikan dalam FGD berkaitan dengan partisipasi, informasi, dan transparansi pelaksanaan program.

  • Masyarakat harus dilibatkan sejak tahap perencanaan. Aspirasi nelayan perlu menjadi dasar pemilihan lokasi, jenis fasilitas, serta bentuk dukungan yang diberikan.

  • Informasi program harus mudah diakses. Masyarakat perlu mengetahui tujuan, anggaran, fasilitas yang akan dibangun, jadwal pelaksanaan, dan mekanisme pengelolaannya.

  • Transparansi harus menjadi bagian dari tata kelola KNMP. Informasi yang terbuka dapat mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat kepercayaan masyarakat.

  • Pemberdayaan tidak berhenti setelah pembangunan selesai. Nelayan, pengurus koperasi, dan pengelola fasilitas membutuhkan pelatihan serta pendampingan berkelanjutan.

  • Penyuluh dan pendamping harus memahami masalah nyata nelayan. Pendampingan perlu membantu memecahkan persoalan produksi, mutu ikan, pemasaran, kelembagaan, dan pengelolaan usaha.

  • Masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penerima bantuan. Keberlanjutan program akan sangat bergantung pada kemampuan warga mengelola dan memanfaatkan fasilitas.

  • Evaluasi harus membuka ruang bagi kritik. Masukan dari organisasi nelayan, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu menjadi bahan perbaikan program.

9. Kampung nelayan juga harus menjadi kawasan permukiman yang layak

Dalam perspektif organisasi nelayan dan pengelolaan kawasan pesisir, kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh hasil tangkapan dan pendapatan.

  • Sanitasi dan akses air bersih merupakan kebutuhan dasar. Kondisi lingkungan yang buruk dapat memengaruhi kesehatan keluarga nelayan sekaligus produktivitas kerja.

  • Masalah stunting dan kesehatan masyarakat pesisir perlu diperhatikan. Program ekonomi tidak dapat berjalan optimal jika kondisi kesehatan keluarga terabaikan.

  • Penataan permukiman harus terintegrasi dengan pembangunan ekonomi. Kawasan pesisir perlu memiliki lingkungan yang bersih, fasilitas dasar, dan ruang hidup yang layak.

  • Pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari pembenahan kampung. Keindahan kawasan dari kejauhan tidak cukup jika persoalan sampah dan kualitas lingkungan masih terjadi di tingkat permukiman.

  • Pembangunan fisik harus memperhatikan kebutuhan sosial masyarakat. Kampung nelayan merupakan ruang hidup keluarga dan komunitas, bukan semata-mata lokasi produksi perikanan.

10. Pendekatan pembangunan harus disesuaikan dengan karakter wilayah

FGD menegaskan bahwa masyarakat nelayan Indonesia memiliki karakteristik sosial, ekonomi, budaya, dan geografis yang beragam.

  • Kebutuhan nelayan di Jawa tidak selalu sama dengan wilayah timur Indonesia. Kepadatan kapal, jarak ke daerah penangkapan, akses pasar, dan infrastruktur pendukung berbeda antardaerah.

  • Pembangunan harus berbasis potensi dan masalah spesifik. Kampung yang membutuhkan fasilitas BBM belum tentu memiliki prioritas yang sama dengan kampung yang lebih membutuhkan pengolahan atau penyimpanan ikan.

  • Pendekatan sosial dan budaya harus diperhitungkan. Cara melibatkan masyarakat dan membangun kelembagaan perlu menyesuaikan kondisi setempat.

  • Tidak semua lokasi harus menerima paket fasilitas yang sama. Anggaran perlu dialokasikan berdasarkan kebutuhan dan kelayakan, bukan semata-mata keseragaman desain.

  • Kawasan kepulauan dan wilayah terluar memerlukan perhatian khusus. Kendala transportasi, energi, konektivitas, dan akses pasar harus menjadi bagian dari perencanaan.

  • Pengembangan kampung nelayan perlu menghubungkan ekologi, ekonomi, dan kelembagaan. Ketiganya merupakan fondasi agar kegiatan perikanan produktif sekaligus berkelanjutan.

11. Riset, teknologi, dan inovasi sebagai fondasi kebijakan

Paparan dari perspektif riset menempatkan pengelolaan sumber daya dan pengembangan teknologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari KNMP.

  • Data stok ikan diperlukan untuk menentukan kapasitas penangkapan. Tanpa data yang memadai, penentuan jumlah kapal dan target produksi berisiko tidak sesuai dengan kondisi sumber daya.

  • Riset perikanan perlu diperkuat dan dilakukan secara konsisten. Kebijakan harus didukung penelitian yang berkelanjutan, bukan hanya studi sesaat.

  • Teknologi harus menjawab persoalan operasional. Inovasi yang dibutuhkan mencakup sistem pemantauan kapal, informasi daerah penangkapan ikan, penanganan ikan, rantai dingin, dan pengolahan.

  • Teknologi pencarian ikan dapat meningkatkan efisiensi. Informasi mengenai lokasi ikan berpotensi mengurangi waktu pencarian dan biaya melaut, selama pemanfaatannya tetap sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

  • Inovasi harus diterapkan bersama penguatan kapasitas nelayan. Teknologi tidak akan efektif tanpa keterampilan pengguna, perawatan, dukungan teknis, dan pembiayaan.

  • Kemitraan perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan industri perlu diperluas. Kolaborasi diperlukan untuk mengubah hasil penelitian menjadi solusi yang bisa digunakan masyarakat.

  • Keunggulan produk harus dibangun melalui riset jangka panjang. Indonesia perlu mengembangkan produk perikanan yang memiliki daya saing dan nilai tambah di pasar domestik maupun global.

12. Target pembangunan dan agenda evaluasi KNMP

Dalam transkrip, perwakilan pemerintah memaparkan tahapan pembangunan dan rencana pengembangan KNMP. Angka-angka berikut merupakan target yang disampaikan dalam diskusi, bukan verifikasi independen atas realisasi di lapangan.

100 titik Disebut telah selesai pada tahap pembangunan yang dibahas dalam FGD.  Sejumlah lokasi lainnya masih dalam proses penyelesaian. 136 titik pada akhir 2026 Target penyelesaian pembangunan yang disampaikan dalam diskusi. Juli 2027 Target agar seluruh 136 titik beroperasi dengan baik.

Ekspansi 2027–2028

Pemerintah menyampaikan rencana mengidentifikasi lokasi baru, dengan sasaran pembangunan yang lebih luas hingga ribuan titik. Angka dan jadwal akhir masih perlu dikonfirmasi.

Agenda evaluasi yang mengemuka meliputi:

  • Evaluasi kinerja lokasi yang telah dibangun. Pemerintah menyampaikan rencana evaluasi terhadap pelaksanaan program sebagai dasar penyempurnaan tahap berikutnya.

  • Verifikasi kesiapan lokasi baru. Seleksi perlu melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan pihak terkait.

  • Pemantauan operasional pascapembangunan. Fasilitas perlu dinilai berdasarkan fungsi, pemanfaatan, biaya operasional, dan manfaat ekonomi.

  • Penguatan kelembagaan pengelola. Perlu ada kepastian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas aset, operasional, pemeliharaan, dan evaluasi.

  • Pengukuran dampak terhadap pendapatan nelayan. Perubahan pendapatan, biaya melaut, harga jual, dan kualitas hasil tangkapan harus menjadi indikator penting.

  • Perbaikan mekanisme penganggaran dan pembayaran. Dalam diskusi turut disoroti persoalan keterlambatan pencairan termin kepada kontraktor, yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

  • Pengembangan program berdasarkan hasil evaluasi. Perlu dibedakan antara fasilitas yang telah selesai dibangun, fasilitas yang telah beroperasi, dan fasilitas yang benar-benar menghasilkan manfaat bagi nelayan.

13. Tantangan utama yang perlu diantisipasi

Aspek Tantangan
Ekologi Risiko tekanan penangkapan berlebihan dan keterbatasan data stok ikan
Ekonomi Biaya melaut tinggi, pendapatan tidak menentu, dan lemahnya posisi tawar nelayan
Infrastruktur Fasilitas berpotensi tidak optimal tanpa pengelola, energi, pemeliharaan, dan pengguna yang memadai
Industri Kapasitas pengolahan, standar mutu, rantai dingin, dan akses pasar masih perlu diperkuat
Pembiayaan Akses kredit terbatas dan ketergantungan pada pemilik modal
Kelembagaan Koperasi membutuhkan pengelolaan profesional dan model bisnis yang layak
Sosial Sanitasi, air bersih, kesehatan, serta kondisi permukiman pesisir
Tata kelola Partisipasi, transparansi anggaran, evaluasi, dan kejelasan tanggung jawab
Kewilayahan Perbedaan karakter sumber daya, budaya, dan infrastruktur antardaerah

Kesimpulan utama FGD

Kampung Nelayan Merah Putih perlu diposisikan sebagai program transformasi ekonomi dan sosial kawasan pesisir, bukan sekadar proyek pembangunan fisik.

Setidaknya ada lima agenda yang saling berkaitan:

  1. Menjamin keberlanjutan sumber daya ikan melalui data ilmiah, pengawasan, dan pengelolaan penangkapan yang sesuai dengan daya dukung perairan.

  2. Membangun ekosistem usaha perikanan terpadu dari penyediaan kebutuhan melaut, penanganan hasil tangkapan, pengolahan, hingga pemasaran.

  3. Memperkuat kelembagaan dan pembiayaan nelayan melalui koperasi yang profesional, akses kredit yang sesuai, dan kemitraan usaha.

  4. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir melalui sanitasi, air bersih, kesehatan, dan lingkungan permukiman yang layak.

  5. Memastikan keberhasilan melalui evaluasi terukur yang menilai fungsi fasilitas, peningkatan pendapatan, kualitas hasil perikanan, dan keberlanjutan pengelolaan.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan KNMP bukan hanya berapa banyak kampung yang dibangun, tetapi berapa banyak nelayan yang menjadi lebih sejahtera, berapa besar nilai tambah yang tinggal di daerah, dan seberapa baik sumber daya ikan dapat dipertahankan untuk generasi berikutnya.