Dampak Perubahan Iklim di Indonesia, KLH: Ancaman Nyata bagi Pangan, Air, Kesehatan, Energi, dan Ekosistem

  • Whatsapp
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Cengkerama Iklim bertema “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI” yang diselenggarakan oleh Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Selasa (2/6/2026), di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Irawan Asaad, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Perubahan Iklim pada Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia membagikan infografik terkait “Dampak Perubahan Iklim” di depan peserta KKN Program Kampung Iklim di Universitas Hasanuddin, 2 Juni 2026. Berikut paparannya.


PELAKITA.ID – Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia pada abad ke-21.

Dampaknya tidak lagi bersifat prediktif atau sekadar ancaman masa depan, melainkan telah dirasakan secara nyata dalam berbagai sektor kehidupan.

Mulai dari menurunnya produktivitas pertanian, berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya penyakit sensitif iklim, terganggunya sistem energi, hingga kerusakan ekosistem pesisir dan daratan.

Sebagai negara kepulauan tropis dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai yang sangat panjang, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Berbagai wilayah mengalami dampak yang berbeda sesuai karakteristik geografis dan sosial-ekonominya. Namun secara umum, perubahan iklim mempengaruhi lima sektor prioritas, yaitu pangan, air, kesehatan, energi, dan ekosistem.

Indonesia dalam Zona Risiko Iklim Tinggi

Indonesia saat ini berada pada kelompok negara dengan tingkat risiko iklim yang tinggi. Data kejadian bencana hidrometeorologi menunjukkan bahwa sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan perubahan pola cuaca dan iklim.

Distribusi kejadian bencana hidrometeorologi terdiri atas:

  • Banjir: 32 persen
  • Angin kencang: 30 persen
  • Longsor: 21 persen
  • Kebakaran hutan dan lahan: 10 persen
  • Kekeringan: 5 persen

Peningkatan frekuensi dan intensitas bencana tersebut berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dampak perubahan iklim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan dapat mencapai penurunan antara 6 hingga 30 persen apabila tidak diantisipasi melalui langkah adaptasi yang memadai.

Selain meningkatkan risiko bencana, perubahan iklim juga berdampak pada penurunan suplai pangan, berkurangnya habitat mangrove, degradasi lahan, erosi, peningkatan penggunaan pendingin ruangan (AC), serta gangguan terhadap ketersediaan air.

Dampak pada Sektor Pangan

Sektor pangan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.

Pada komoditas utama seperti padi dan jagung, produktivitas diperkirakan menurun sekitar 1,37 persen per tahun. Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan pola musim, peningkatan suhu udara, kekeringan, serta meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman.

Di berbagai wilayah Indonesia, produksi padi berpotensi mengalami penurunan antara 13 hingga 23 persen. Penurunan serupa juga terjadi pada berbagai komoditas hortikultura.

Untuk sektor buah-buahan dan sayuran:

  • Produktivitas buah diperkirakan turun 35 persen atau sekitar 75 persen pada beberapa wilayah rentan.
  • Produktivitas sayur dapat menurun sekitar 20 hingga 25 persen.

Komoditas perkebunan juga menghadapi risiko besar akibat perubahan iklim. Secara keseluruhan, dampaknya diperkirakan dapat menurunkan kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional hingga sekitar 3,94 persen.

Sektor peternakan dan perikanan juga tidak luput dari dampak perubahan iklim.

Kenaikan suhu perairan, perubahan arus laut, serta peningkatan kejadian cuaca ekstrem berpotensi menurunkan produktivitas hingga sekitar 20 persen pada tahun 2050.

Dampak pada Sektor Air

Ketersediaan air menjadi salah satu isu paling krusial dalam konteks perubahan iklim. Indonesia memang memiliki potensi sumber daya air yang besar, namun distribusinya tidak merata.

Potensi ketersediaan air baku nasional diperkirakan mencapai sekitar 3,9 × 10¹² meter kubik per tahun. Namun perubahan pola curah hujan menyebabkan sebagian wilayah mengalami kelebihan air pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau.

Perubahan iklim diperkirakan menyebabkan:

  • Penurunan pasokan air sekitar 5,5 hektometer kubik per tahun.
  • Penurunan ketersediaan air hingga sekitar 1.200 meter kubik per tahun di berbagai wilayah rentan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat, tetapi juga oleh sektor pertanian, industri, dan pembangkit listrik tenaga air.

Secara ekonomi, gangguan pada sektor air diperkirakan dapat menurunkan PDB nasional sekitar 0,35 persen hingga 0,43 persen.

Selain itu, terdapat potensi penurunan dukungan sektor sumber daya air terhadap target pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebesar 35 persen apabila langkah adaptasi tidak dilakukan secara efektif.

Dampak pada Sektor Kesehatan

Perubahan iklim juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat melalui peningkatan penyakit sensitif iklim.

Peningkatan suhu udara, perubahan curah hujan, banjir, dan kekeringan menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran berbagai penyakit, antara lain:

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Peningkatan suhu dan perubahan pola hujan menyebabkan populasi nyamuk vektor berkembang lebih cepat. Tren musiman kasus DBD menunjukkan peningkatan sekitar 12 persen.

Malaria

Perubahan iklim memperluas wilayah habitat nyamuk pembawa malaria. Tren tahunan menunjukkan peningkatan sekitar 19 persen, sementara tren musiman mencapai 36 persen dan sekitar 17 persen kasus terjadi pada kelompok rentan.

Diare

Kualitas air yang menurun akibat banjir maupun kekeringan meningkatkan risiko penyakit diare. Tren tahunan menunjukkan peningkatan sekitar 24 persen dan kasus pada balita meningkat sekitar 36 persen.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Perubahan suhu, polusi udara, serta kebakaran hutan dan lahan meningkatkan risiko ISPA. Tren tahunan menunjukkan kenaikan sekitar 27 persen dan tren musiman sekitar 31 persen, dengan 38 persen kasus terjadi pada balita.

Jika tidak diantisipasi, perubahan iklim dapat memperbesar risiko terjadinya bencana kesehatan masyarakat dalam skala besar dan meningkatkan beban sistem kesehatan nasional.

Dampak pada Sektor Energi

Perubahan iklim tidak hanya mempengaruhi sisi permintaan energi, tetapi juga ketersediaan dan keandalan pasokannya.

Fenomena cuaca ekstrem dapat merusak jaringan listrik dan infrastruktur energi. Banjir, badai, dan tanah longsor sering kali menyebabkan gangguan distribusi listrik yang berdampak pada aktivitas ekonomi dan pelayanan publik.

Di sisi lain, peningkatan suhu udara menyebabkan meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (AC), sehingga kebutuhan energi untuk pendinginan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Perubahan iklim juga berpotensi mengganggu pasokan energi sekitar 5,8 persen per tahun akibat gangguan terhadap sumber energi dan infrastruktur pendukung.

Saat ini total ketersediaan energi Indonesia diperkirakan mencapai:

  • 768,2 gigawatt-jam (GWh)
  • Setara 5.862 kWh per kapita

Namun jumlah tersebut baru mampu memenuhi sekitar 29,5 persen dari total kebutuhan penduduk Indonesia. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan ketahanan energi sekaligus pengembangan energi bersih dan terbarukan.

Ilustrasi

Dampak pada Ekosistem

Ekosistem menjadi salah satu sektor yang mengalami kerusakan paling signifikan akibat perubahan iklim.

Kenaikan muka air laut, peningkatan suhu laut, serta perubahan pola cuaca mengancam keberlanjutan berbagai ekosistem penting Indonesia.

Mangrove

Indonesia memiliki kawasan mangrove terbesar di dunia, namun sekitar:

  • 40 persen mangrove telah hilang.
  • 19 persen mangrove berada dalam kondisi kritis.

Kerusakan mangrove berdampak pada hilangnya perlindungan alami terhadap abrasi pantai, berkurangnya habitat biota laut, serta menurunnya kemampuan penyerapan karbon.

Terumbu Karang

Pemanasan laut menyebabkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) yang mengurangi produktivitas ekosistem pesisir dan sektor perikanan.

Dampak terhadap PDB nasional diperkirakan mencapai sekitar 18 persen.

Padang Lamun

Padang lamun yang berfungsi sebagai habitat ikan, penyerap karbon, dan pelindung pantai juga mengalami degradasi dengan dampak ekonomi sekitar 0,079 persen terhadap PDB.

Bioma Daratan dan Jasa Ekosistem

Kerusakan hutan, lahan gambut, dan berbagai bioma daratan lainnya berpotensi menurunkan jasa ekosistem hingga 14 persen, dengan dampak ekonomi yang diperkirakan berkisar antara 5 hingga 26 persen terhadap PDB nasional.

Kesimpulan

Perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan tantangan pembangunan nasional yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Dampaknya terasa pada ketahanan pangan, ketersediaan air, kesehatan publik, keamanan energi, serta keberlanjutan ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan dan ekonomi Indonesia.

Tanpa langkah adaptasi yang kuat, Indonesia berisiko menghadapi peningkatan frekuensi bencana, penurunan produktivitas ekonomi, kerusakan sumber daya alam, serta meningkatnya kerentanan sosial masyarakat. Karena itu, upaya adaptasi perubahan iklim harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan nasional maupun daerah, dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat secara luas.

Sumber: Adaptation Communication Indonesia (2022), Roadmap NDC Adaptation Indonesia (2020), berbagai laporan sektoral dan publikasi ilmiah periode 2015–2025.