Tren Lulusan Unhas dan Sinyal Lampu Kuning untuk Fakultas

  • Whatsapp
Ilustrasi penyelam yang merenung (image by AI)

Penulis mengetahui tren pendaftar calon mahasiswa Kelautan dan Perikanan dari tahun ke tahun. Ada yang tahu kecenderungan jumlah mahasiswa pendaftar untuk sejumlah Fakultas lain di Unhas dari tahun ke tahun? 

PELAKITA.ID – Penulis membuka website Pelakita.ID yang mengungkap jumlah peserta wisuda Universitas Hasanuddin bulan Desember 2025. Berdasarkan data jumlah wisudawan per fakultas, terlihat perbedaan yang cukup tajam antara fakultas dengan lulusan terbanyak dan paling sedikit.

Dari perbandingan itu, Fakultas Teknik menempati posisi teratas dengan 787 wisudawan, jauh melampaui fakultas lain.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Fakultas Teknik menjadi tulang punggung utama produksi lulusan, kemungkinan karena cakupan program studi yang luas (PPI, S1, S2, hingga S3), daya serap mahasiswa yang tinggi, serta persepsi kuat tentang relevansi lulusan teknik dengan kebutuhan dunia kerja.

Di posisi berikutnya terdapat Fakultas Kedokteran Gigi dengan 268 wisudawan, disusul Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (142 wisudawan) dan Fakultas Hukum (120 wisudawan). Kelompok ini menunjukkan fakultas-fakultas yang relatif stabil peminatnya dan memiliki citra profesi yang jelas di mata mahasiswa.

Pada lapisan menengah, jumlah wisudawan berada pada kisaran puluhan hingga seratus orang. Fakultas Kedokteran (100 wisudawan), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (79), Fakultas Ilmu Budaya (67), Fakultas Matematika dan IPA (55), Fakultas Pertanian (51), dan Fakultas Teknologi Pertanian (40) membentuk kelompok fakultas dengan output lulusan moderat.

Berikutnya. Fakultas Kesehatan Masyarakat (36), Fakultas Peternakan (35), Sekolah Pascasarjana (34), Fakultas Kehutanan (30), dan Fakultas Keperawatan (29) menunjukkan kecenderungan jumlah lulusan yang relatif kecil.

Lalu ada fakultas dengan jumlah wisudawan paling kecil, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan hanya meluluskan 23 wisudawan, dan yang paling sedikit adalah Fakultas Farmasi dengan hanya 5 wisudawan.

Lalu penulis ke periode Desember 2024

Berdasarkan data wisuda Desember 2024, terlihat bahwa Fakultas Teknik kembali menjadi penyumbang lulusan terbesar dengan 973 wisudawan, menempati posisi paling dominan dibanding seluruh fakultas lainnya.

Jaraknya sangat jauh dengan fakultas di peringkat berikutnya, yakni Fakultas Kedokteran Gigi (218 wisudawan) dan Fakultas Kedokteran (132 wisudawan). Dominasi Fakultas Teknik menunjukkan kuatnya basis mahasiswa, luasnya spektrum program studi, serta tingginya daya tarik bidang teknik di mata mahasiswa.

Fakultas-fakultas kesehatan dan profesi juga relatif stabil, mencerminkan kejelasan jalur karier dan permintaan pasar kerja yang konsisten.

Pada kelompok menengah, terdapat fakultas dengan jumlah wisudawan yang cukup seimbang, seperti Fakultas Ekonomi (112 wisudawan), Fakultas Keperawatan (109 wisudawan), Fakultas Hukum (88 wisudawan), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (80 wisudawan), Fakultas Matematika dan IPA (67 wisudawan), Fakultas Pertanian (62 wisudawan), dan Fakultas Ilmu Budaya (56 wisudawan), Fakultas Kesehatan Masyarakat (46 wisudawan).

Kelompok ini mencerminkan fakultas-fakultas yang memiliki tingkat keberlanjutan mahasiswa relatif baik, namun belum menunjukkan lonjakan signifikan. Posisi ini juga dapat dibaca sebagai “zona aman”, tetapi tetap memerlukan inovasi agar tidak mengalami penurunan jumlah lulusan di masa mendatang.

Sementara itu, fakultas dengan jumlah wisudawan paling sedikit patut mendapat perhatian khusus. Fakultas Kehutanan (24 wisudawan), Sekolah Pascasarjana (26 wisudawan), Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (32 wisudawan), dan terutama Fakultas Farmasi (12 wisudawan) berada di lapisan terbawah.

Perkiraan makna

Tentu saja gambaran di atas sangat kontekstual, bisa jadi ada Fakultas yang telah mewisuda mahasiswanya di periode sebelumnya. Mungkin di Desember 2025 sedikit, atau sangat sedikit, tapi di periode September 2025 atau sebelumnya jumlahnya lebih besar.

Rendahnya angka ini bisa mencerminkan keterbatasan daya tampung, ketatnya proses akademik, atau menurunnya minat mahasiswa baru.

Kekhawatiran penulis adalah jika tren ini berlanjut, fakultas-fakultas tersebut berisiko mengalami stagnasi struktural, sehingga diperlukan langkah strategis berupa penguatan kurikulum, promosi program studi, serta peningkatan relevansi dengan kebutuhan dunia kerja dan isu-isu masa depan.

Kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius terutama bagi Guru Besar, dosen di Fakultas terutama jajaran Dekanat.

Dugaan penulis, wisudawan berkurang atau nampak sedikit dari periode ke periode bisa jadi karena cerminan persoalan struktural seperti rendahnya jumlah mahasiswa aktif, ketatnya standar kelulusan tanpa diimbangi rekrutmen mahasiswa baru.

Atau, ini yang paling mengusik bagi penulis: menurunnya minat generasi muda asal sekolah menengah atas atau kejuruan untuk masuk ke sejumlah departemen yang sejatinya masih relevan dengan konteks Indonesia.

Disiplin Ilmu Keteknikan dan Ilmu Kesehatan masih terdepan, disusul Ilmu Sosial, Ekonomi dan Hukum. Ilmu-Ilmu Pertanian termasuk Kelautan dan Perikanan bagi penulis perlu menjadi atensi.

Secara keseluruhan, ranking jumlah lulusan ini menunjukkan bahwa kampus sangat bergantung pada beberapa fakultas besar, sementara fakultas-fakultas kecil berpotensi mengalami stagnasi jika tidak segera dilakukan intervensi strategis.

Mengapa Mahasiswa Berkurang dan Generasi Muda Kehilangan Minat?

Sebagai alumni yang menyelesaikan studi di pertengahan tahun 90-an, dan mengamati fenomena menurunnya jumlah mahasiswa, kemudian melemahnya inovasi, dan berkurangnya minat generasi muda terhadap sejumlah fakultas—terutama di kampus-kampus baru—bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.

Sudah lama penulis membaca gejala ini. Terlihat bahwa Ia merupakan akumulasi dari berbagai persoalan struktural, kultural, dan strategis yang dibiarkan berlangsung dalam waktu lama.

Intinya, ketika sebuah fakultas gagal berinovasi, dampaknya bukan hanya pada reputasi akademik, tetapi juga pada daya tariknya di mata calon mahasiswa dan relevansinya bagi masyarakat. Ini aspek internalnya.

Kalau dikaitkan ke aspek eksternal, misalnya atensi Pemerintah untuk mendorong tumbuh kembangnya program atau proyek-proyek bernuansa agroindustri atau agromaritim, bisa jadi akan faktor pemicu untuk generasi muda berlomba-lomba masuk ke disiplin Pertanian, Kelautan atau Perikanan, tapi kalau membaca situasi kontemporer nampaknya ini setali tiga uang. Tidak bisa dipungkiri ini juga berpengaruh.

Meski begitu, sepanjang departemen atau fakultas itu mash ada, selalu ada alasan untuk siapapun di fakultas itu, untuk berjuang menghidupkan harapan, membuka diri, atau melakukan ’ekspansi ’ pasar dengan lebih aktif.

Itu kalau mereka merasa akan kehilangan pekerjaan jika generasi muda sekolah tak lagi melirik departemen atau fakultas mereka.

Inovasi yang Mandek dan Budaya Akademik yang Stagnan

Selama satu bulan terakhir, penulis bertemu dengan banyak Guru Besar di Unhas, termasuk dengan Rektor Universitas Hasanuddin, penulis tiba pada satu premis, salah satu masalah paling mendasar adalah mandeknya inovasi akademik.

Banyak fakultas masih beroperasi dengan pola lama: kurikulum yang tidak diperbarui, pendekatan pengajaran yang monoton, serta riset yang berhenti pada publikasi jurnal tanpa dampak nyata.

Ketika dosen-dosen yang ada tidak didukung untuk mengembangkan gagasan baru atau ketika regenerasi akademik berjalan lambat, fakultas kehilangan energi kreatifnya. Kampus menjadi ruang administratif, bukan ruang intelektual yang hidup.

Situasi ini diperparah oleh beban dosen yang tidak seimbang. Tuntutan administratif, kewajiban pengajaran, dan tekanan publikasi sering kali menyisakan sedikit ruang untuk eksplorasi ide, kolaborasi lintas disiplin, atau keterlibatan dengan dunia nyata.

Akibatnya, inovasi menjadi slogan, bukan praktik.

Riset yang Terputus dari Dunia Nyata

Masalah lain yang krusial adalah lemahnya keterhubungan antara riset kampus dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Banyak hasil penelitian berakhir sebagai laporan atau artikel ilmiah yang tidak pernah diimplementasikan.

Ketika riset tidak menjawab persoalan nyata—baik sosial, ekonomi, lingkungan, maupun teknologi—kampus kehilangan relevansinya. Mahasiswa pun sulit melihat manfaat konkret dari apa yang mereka pelajari.

Kesenjangan ini menciptakan apa yang sering disebut sebagai “lembah kematian inovasi”, yakni kondisi ketika pengetahuan akademik gagal bertransformasi menjadi solusi praktis.

Tanpa kemitraan dengan industri, pemerintah, atau komunitas, fakultas sulit membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.

Hemat penulis, penurunan jumlah mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari cara generasi muda memandang masa depan. Hari ini, calon mahasiswa semakin rasional. Mereka mempertimbangkan dengan serius: apa manfaat kuliah di program studi tertentu?

Apakah ada prospek kerja yang jelas? Apakah biaya dan waktu yang dikeluarkan sepadan dengan hasilnya? Program studi yang dianggap tidak relevan dengan pasar kerja atau tidak menawarkan keterampilan praktis cenderung ditinggalkan.

Selain itu, kampus kini menghadapi persaingan yang jauh lebih luas. Kursus daring, pelatihan vokasi, bootcamp teknologi, hingga sertifikasi profesional menawarkan jalur alternatif yang lebih cepat dan fleksibel.

Jika universitas (departemen dan fakultas) tidak beradaptasi, mereka akan terus kehilangan calon mahasiswa.

Ketiadaan figur dosen yang inspiratif dan relevan dengan zaman juga memperburuk keadaan. Tanpa role model yang aktif berkarya, terlibat dalam inovasi, atau hadir di ruang publik, sulit bagi mahasiswa untuk membayangkan masa depan mereka melalui jalur akademik.

Maka fakultas tidak tumbuh, mahasiswa berkurang, dan kepercayaan publik menurun.

Ketidakseimbangan antara tridarma—pengajaran, penelitian, dan pengabdian—membuat fakultas kehilangan fokus. Tanpa dukungan kelembagaan yang kuat, dosen dan mahasiswa berjalan sendiri-sendiri.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Pertama, fakultas harus berani melakukan redefinisi relevansi. Kurikulum perlu dikaitkan dengan persoalan nyata dan kebutuhan masa depan, tanpa kehilangan kedalaman akademiknya.

Kolaborasi dengan industri, komunitas, dan pemerintah harus menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar proyek tambahan.

Kedua, ekosistem riset harus diperkuat. Regenerasi dosen, dukungan terhadap peneliti muda, kolaborasi lintas disiplin, serta insentif untuk riset terapan adalah kunci menghidupkan kembali inovasi.

Ketiga, pembelajaran perlu ditransformasikan. Metode aktif, berbasis proyek, dan kontekstual harus menggantikan pola pasif. Mahasiswa perlu dilibatkan sebagai subjek, bukan objek pendidikan.

Keempat, kampus harus membangun budaya yang inklusif dan menarik. Lingkungan akademik yang mendukung, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa akan meningkatkan rasa memiliki dan keterlibatan.

Terakhir, hubungan dengan pendidikan menengah perlu diperkuat. Minat terhadap ilmu dan kampus tidak muncul tiba-tiba di usia kuliah, tetapi dibangun sejak dini melalui paparan, inspirasi, dan pengalaman belajar yang bermakna.

Pembaca sekalian, kematian inovasi dan penurunan jumlah mahasiswa bukan takdir perguruan tinggi lama, yang barupun demikian, ia konsekuensi dari pilihan dan kebijakan yang tidak diperbarui.

Fakultas yang ingin bertahan harus berani berubah—bukan sekadar mengikuti tren, tetapi membangun kembali perannya sebagai ruang penciptaan pengetahuan, pemecahan masalah, dan pembentukan masa depan generasi muda.

Jika tidak, kampus akan terus ada secara fisik, tetapi mati secara intelektual.

___
Tamarunang, 24 Februari 2026