1 Februari 2026
Oleh Gladys Natalia B’A
PELAKITA.ID – Wakatobi — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin yang melaksanakan pengabdian di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kabupaten Wakatobi, berhasil menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan QRIS.
Kegiatan ini mengusung tema “Digitalisasi UMKM: Transformasi Warung Tradisional Menuju Pasar Modern Melalui QRIS” dan dilaksanakan pada Selasa (31/01/2026).
Program ini diinisiasi oleh salah satu mahasiswa KKN dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Gladys Natalia B’A, yang memberikan sosialisasi mengenai pentingnya sistem pembayaran digital di era modern. Kegiatan berlangsung sejak 10 Januari hingga 31 Januari 2026 dan dilaksanakan secara door-to-door di seluruh wilayah Desa Mola, disertai pendampingan langsung pendaftaran QRIS bagi pelaku UMKM setempat.
Latar belakang kegiatan ini berangkat dari kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, yang dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Di tengah arus digitalisasi, transaksi tunai perlahan mulai beralih ke sistem pembayaran modern. Salah satunya adalah QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), metode pembayaran yang praktis, efisien, dan semakin banyak digunakan oleh masyarakat luas.
Namun demikian, masih banyak pelaku UMKM di Desa Mola yang belum memahami secara optimal cara penggunaan QRIS. Melihat kondisi tersebut, Gladys selaku penanggung jawab program kerja berinisiatif menghadirkan kegiatan edukasi dan pendampingan agar UMKM mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sistem transaksi.
Antusiasme pelaku UMKM terlihat tinggi karena mereka tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga langsung terlibat dalam praktik pendaftaran dan penggunaan QRIS.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa QRIS merupakan solusi pembayaran yang aman, cepat, dan efisien. QRIS tidak hanya membantu pelaku usaha mengurangi risiko membawa uang tunai, tetapi juga memperluas akses pasar karena memudahkan pelanggan dalam bertransaksi. Selain itu, sistem ini mendukung transparansi keuangan usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan kredibilitas UMKM.
Mahasiswa KKN juga memperagakan langkah-langkah pendaftaran QRIS, cara memindai kode, hingga simulasi transaksi secara langsung. Beberapa pelaku UMKM bahkan mencoba mempraktikkan sendiri menggunakan ponsel mereka. Penyampaian yang santai dan komunikatif membuat suasana sosialisasi terasa interaktif dan mudah dipahami.
Pelaku UMKM diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan berbagai kendala yang mungkin dihadapi, mulai dari biaya administrasi, kestabilan jaringan internet, hingga keamanan transaksi digital.
Seluruh pertanyaan dijawab secara jelas sehingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai manfaat QRIS. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar masyarakat desa semakin melek teknologi, khususnya dalam penguatan ekonomi lokal.
“Wah, bagus sekali program seperti ini. Memang sudah lama kami, para orang tua penjual, menunggu kegiatan seperti ini, karena kami juga takut ketinggalan zaman,” ujar salah satu pemilik Toko Kelontong Matahari.
Sementara itu, Taufan, selaku Koordinator Desa (Kordes) Posko Mola Nelayan Bhakti, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing UMKM desa. Dengan pemahaman sistem pembayaran digital, pelaku usaha tidak hanya dimudahkan dalam transaksi, tetapi juga berpeluang memperluas pasar hingga ke luar daerah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T Gel. 115 Unhas berharap UMKM Desa Mola dapat lebih cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Penerapan sistem pembayaran modern diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
___
Penulis: Gladys Natalia B’A,
