PELAKITA.ID – Di antara hiruk-pikuk kendaraan yang lalu-lalang di perbatasan Sungguminasa–Makassar, berdirilah sebuah warkop yang tampaknya sederhana, tetapi menyimpan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Warkop EM, dengan kursi-kursi panjang dan meja panjangnya, menjadi ruang singgah bagi mereka yang ingin sejenak berjarak dari kebisingan kota.
Malam itu, penulis mampir. Bersua sahabat H. Anwar Usman dan istri Lieza. Saya datang bersama istri, DK.
“Cobaki ini kambing-kambingnya Daeng Nuntung,” kata Anwar Usman, biasa disapa Haji Tate.
“Wuih enak tawwa,” balas penulis sembari mengambil kambing-kambing kedua, ketiga, keempat.
Bagi Haji Tate, Warkop EM bukan hanya tempat singgah, tetapi tempat menenangkan hati. Rasa gurih kambing-kambingnya—yang hangat, empuk – kata istri saya ini gratis bede – dan menggugah selera—sering menjadi alasan untuk kembali.
Haji Tate menyebut warkop ini berdiri sejak tiga atau empat tahun lalu. Tempat yang juga banyak dikunjungi pejabat di Pemda Gowa termasuk anggota DPRD Gowa, bahkan dari Makassar.
“Belum lagi ubi goreng dan pisang goreng yang renyah dan manis alami,” tanggap aktivis literasi Gowa Mustamin Raga saat tahu kalau penulis pernah mampir di warkop itu.

“Enak kopinya, kopi Arabika,” tambah Mustamin atau biasa disapa Tomy Arga.
Tommy berujar dengan nada yang hampir seperti bisikan, “Ini tempat menepi yang baik.”
Dan memang demikian adanya. Di tengah ritme hidup yang kadang terlalu cepat, Warkop EM menghadirkan jeda—sebuah ruang untuk bernapas, tersenyum, dan berbagi cerita kecil yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Makna Warkop dalam Kebudayaan Kita
Warkop, dalam konteks Sulawesi Selatan, bukan sekadar tempat menjual kopi. Ia adalah ruang sosial, ruang publik, dan ruang silaturahmi yang terus bertahan dari zaman ke zaman.
Di sini, batas antara latar belakang sosial memudar. Tidak ada hierarki jabatan, tidak ada sekat formalitas; yang ada hanyalah manusia-manusia yang duduk berdampingan, berbagi cerita, dan kadang berbagi keresahan.
Ruang seperti ini sering disebut sebagai third place—tempat ketiga setelah rumah dan kantor—yang menjadi arena tumbuhnya identitas sosial. Di warkop, percakapan dianggap sebagai energi yang menghidupkan ruang. Ide-ide kecil sering lahir di sini; tawa ringan menjadi obat bagi lelah yang menumpuk; kadang sebuah keputusan penting pun diambil di meja kayu dengan secangkir kopi sebagai saksi.
Silaturahmi yang terjalin di warkop bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi jaringan yang memperkuat hubungan-hubungan kecil yang membentuk komunitas.
Banyak orang percaya bahwa silaturahmi memperpanjang umur; tetapi lebih dari itu, ia memperpanjang kesempatan—kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, atau sekadar menemukan teman baru.
Khusus di Sungguminasa, penulis kini punya dua titik ngopi yang asik. Pertama Coffee 36 tempat di mana penulis sering bersua teman semasa di Smansa Makassar, H. Lukman Naba yang juga anggota DPRD Gowa. Istri saya Daeng Ke’nang senang soto banjar dan pisang goreng di sini.
Mengapa Warkop EM Begitu Disukai
Keistimewaan Warkop EM tidak berdiri pada satu alasan saja, melainkan gabungan dari rasa, suasana, dan keramahan.
Menurut sejumlah kolega, menu yang disajikan jujur tanpa polesan berlebihan—kambing-kambing yang lembut, gorengan yang selalu fresh—menjadi magnet bagi pelanggan yang ingin menikmati makanan tanpa kompromi. Kopi arabikanya juga punya karakter yang khas: kuat, bersih, dan diracik dengan kesabaran.
Suasananya pun mengundang. Meja panjang memungkinkan obrolan ramai; bangku kecil menyediakan ruang bagi percakapan yang lebih intim.

Lokasinya yang strategis di batas kota menjadikannya seperti jembatan antara dua dunia—Makassar dan Sungguminasa—tempat pertemuan terjadi secara alami.
Pada akhirnya, seseorang kembali ke warkop bukan hanya karena rasa kopi atau makanan yang disajikan.
Ia kembali karena atmosfer, percakapan, dan rasa diterima. Warkop EM menawarkan sebuah ruang kecil yang merawat silaturahmi, menghadirkan kehangatan, dan menciptakan pengalaman yang personal.
Di batas kota, Warkop EM berdiri sebagai tempat menepi yang membingkai banyak kenangan. Setiap cangkir kopi membawa cerita, setiap gorengan punya penggemarnya sendiri, dan setiap pertemuan mengandung makna yang mungkin sederhana tetapi membekas. Dalam kehidupan yang serba cepat, ruang seperti ini bukan hanya penting—ia menjadi semacam oasis bagi siapa saja yang melewatinya.
Warkop EM bukan sekadar tempat berhenti. Ia adalah tempat berhenti sejenak untuk kembali menjadi manusia.
___
Tamarunang, 1 Desember 2025
