PELAKITA.ID – Sorowako gerimis, teh manis yang penulis aduk mendadak pahit ketika kawan Darsam Belana bilang, jangan larut pada Ilmu Filsafat belaka. Coba pahami apa yang terjadi sampai muncul Socrates, Aristotles atau Plato.
Kata dia, coba cari tahu apa itu Sofis.
Betul sekali. Ketika kita berbicara tentang filsafat Yunani Kuno, biasanya nama-nama seperti Socrates, Plato, atau Aristoteles langsung muncul di benak.
Ternyata, jauh sebelum gagasan-gagasan mereka mendominasi wacana, ada satu kelompok pemikir yang memainkan peran penting dalam membentuk cara manusia memahami kebenaran dan pengetahuan, yaitu kaum Sofis (Sophists).
Siapa Kaum Sofis?
Kaum Sofis adalah kelompok pengajar keliling pada abad ke-5 SM, terutama di Athena. Mereka menawarkan jasa pendidikan dalam seni berbicara, retorika, logika, bahkan politik, dengan bayaran tertentu.
Tokoh-tokoh seperti Protagoras, Gorgias, Hippias, dan Prodicus termasuk Epicurus (ingat teori Hedonism) menjadi terkenal karena kecakapan mereka mendidik generasi muda Athena yang kelak banyak terjun ke dunia politik.
Berbeda dengan filsuf-filsuf lain yang mencari “kebenaran hakiki”, kaum Sofis lebih menekankan pada kemampuan praktis: bagaimana memenangkan argumen, bagaimana meyakinkan orang lain, dan bagaimana bertahan dalam persaingan sosial-politik.
Relativisme dan Kritik Filosofis
Salah satu gagasan terkenal datang dari Protagoras: “Manusia adalah ukuran segala sesuatu.”
Ungkapan ini melambangkan relativisme kebenaran: apa yang benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain.
Pandangan ini menantang ide tentang kebenaran universal yang kelak diperjuangkan Socrates dan Plato.
Tidak mengherankan, kaum Sofis sering dikritik. Plato menggambarkan mereka sebagai “penjual pengetahuan” yang lebih peduli pada bayaran daripada pencarian kebenaran.
Aristoteles pun menilai mereka terlalu fokus pada retorika, bukan substansi. Meski demikian, justru dari perdebatan inilah filsafat semakin berkembang.
Hubungan dengan Ilmu Filsafat
Kaum Sofis memberi kontribusi penting dalam sejarah filsafat, meskipun sering dianggap kontroversial:
Membuka Ruang Bagi Epistemologi
Relativisme mereka memaksa filsuf-filsuf besar untuk menjawab pertanyaan mendasar: Apakah kebenaran itu absolut atau relatif? Dari sinilah lahir diskusi panjang tentang teori pengetahuan (epistemologi).
Dalam upaya membantah kaum Sofis, Socrates mengembangkan metode bertanya-jawab kritis (dialektika) yang menjadi dasar filsafat kritis modern.
Menghubungkan Filsafat dengan Kehidupan Praktis
Meski dikritik, kaum Sofis menunjukkan bahwa filsafat tidak bisa dilepaskan dari kehidupan nyata: politik, hukum, dan pendidikan.
Ini memperluas cakupan filsafat, bukan hanya soal kosmos atau metafisika, tetapi juga kehidupan sosial.
Menariknya, warisan kaum Sofis masih terasa hingga sekarang. Dunia modern yang penuh dengan debat publik, media sosial, dan komunikasi politik menunjukkan betapa keterampilan retorika dan argumentasi tetap relevan.
Namun, pertanyaan klasik tetap sama: apakah kita mencari kebenaran, atau sekadar memenangkan argumen?
Pembaca sekalian, Kaum Sofis mungkin tidak selalu dipandang baik dalam sejarah filsafat, tetapi kehadiran mereka menjadi katalis lahirnya pemikiran besar.
Tanpa relativisme dan retorika Sofis, mungkin Socrates tidak akan mengembangkan metode dialektikanya, Plato tidak akan menulis dialog-dialognya, dan Aristoteles tidak akan menegaskan pentingnya logika.
Dengan demikian, kaum Sofis adalah bagian penting dari mosaik filsafat: mengajarkan kita bahwa filsafat tidak hanya soal mencari kebenaran yang absolut, tetapi juga soal bagaimana manusia berhadapan dengan keragaman perspektif, kepentingan, dan interpretasi.
__
Sorowako, 26 September 2025









