PELAKITA.ID – Demonstrasi di Indonesia ibarat “musim hujan” politik: hampir selalu datang, tak pernah tepat waktu, namun selalu membawa guncangan yang tak bisa diabaikan.
Jalanan yang dipenuhi massa, spanduk dengan kata-kata tajam, serta pekikan tuntutan keras kepada pemerintah adalah pemandangan klasik demokrasi. Namun, jika ditelisik lebih dalam, fenomena ini dapat dibaca melalui bingkai religius: bahwa Tuhan pun kerap memberi shock therapy kepada umat-Nya yang lalai, sebagaimana tercatat dalam teks-teks suci.
Shock Therapy dalam Tradisi Religius
Dalam literatur keagamaan, teguran Ilahi terhadap kelalaian umat sering hadir melalui peristiwa besar yang mengguncang.
Al-Qur’an menyebutkan: “Dan Kami tidaklah mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan, agar mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (QS. Al-A’raf: 94)¹.
Tradisi Yahudi-Kristen pun sarat dengan pola serupa. Kisah banjir besar pada zaman Nuh atau kehancuran Sodom dan Gomorah adalah narasi klasik shock therapy Ilahi: bukan kehancuran total, tetapi “alarm keras” agar manusia kembali pada etika dan keadilan².
Tuhan, dalam kebijaksanaan-Nya, memiliki cara unik—dan jujur saja, cukup ekstrem—untuk membangunkan umat-Nya dari kelalaian yang panjang.
Demonstrasi sebagai Alarm Sosial
Jika shock therapy Ilahi diwujudkan melalui bencana alam atau peristiwa sejarah besar, maka dalam konteks modern Indonesia, demonstrasi dapat dibaca sebagai shock therapy sosial.
Demo lahir karena kanal aspirasi formal macet, dialog politik tidak efektif, dan rasa keadilan yang tercederai.
Ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan, ketika para buruh memadati pusat kota, itu bukan sekadar “ulah kolektif” yang ingin macet-macetan gratis, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dalam tata kelola negara³. Seperti teguran Ilahi, demo hadir karena kelalaian penguasa dalam membaca suara rakyat.
Dialektika Religius-Politis: Amanah dan Kekuasaan
Konstitusi Indonesia menegaskan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar kehidupan bernegara. Namun, politik sering berjalan jauh dari nilai tersebut.
Korupsi, politik transaksional, hingga absennya keadilan distributif adalah paradoks nyata antara cita-cita moral dan praktik politik⁴.
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan adalah amanah. Nabi Muhammad SAW menegaskan: “Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin rakyat lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari-Muslim)⁵. Maka, ketika rakyat turun ke jalan, mereka tidak hanya menuntut hak sipil, tetapi juga mengingatkan pemimpin akan bobot amanah yang diembannya.
Shock Therapy sebagai Jalan Koreksi
Shock therapy dalam bentuk demo bukan sekadar ancaman bagi stabilitas politik, tetapi peluang koreksi.
Sayangnya, sering kali pemerintah lebih sibuk menghitung jumlah pot bunga yang rusak di jalan ketimbang membaca substansi tuntutan rakyat. Padahal, sebagaimana dalam narasi religius, teguran keras hadir bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan.
Jika negara gagal membaca demo sebagai tanda koreksi, siklus krisis sosial hanya akan berulang. Bukankah lebih baik mendengar suara rakyat di jalanan daripada mendengar suara IMF di ruang rapat darurat?
Penutup: Seruan Moral Bangsa
Refleksi ini menegaskan bahwa demonstrasi adalah bagian dari dialektika moral bangsa. Sama seperti shock therapy Ilahi, demo hadir untuk mengingatkan, mengguncang, dan pada akhirnya menyelamatkan. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu membaca teguran itu dengan arif, bukan dengan paranoia atau represi.
Jika suara lembut diabaikan, suara lantang di jalanan akan bergema. Dan bila itu pun diabaikan, sejarah menunjukkan bahwa teguran Tuhan bisa hadir dengan cara yang jauh lebih keras.
Tentang Penulis:
Rizkan Fauzie adalah alumni Program Studi Mekanisasi Pertanian, Universitas Hasanuddin. Ia aktif dalam kajian keislaman, etika sosial, dan budaya religius di masyarakat pedesaan maupun perkotaan.
