Program Kemitraan Wallacea II, YRCI menyelami teripang hingga ke Pulau Sapuka

  • Whatsapp
Andi Nur Apung (kedua dari kiri - inzet, saat menjadi narasumber) (dok: istimewa)

DPRD Makassar

“Perlu ada upaya yang kuat untuk mencari solusi alat tangkap yang ramah lingkungan, meminimalisir risiko kesehatan dan mulai mengalihkan ke praktik budidaya teripang,.” Andi Nur Apung, program manager Konsepsi Tangaya Project – YCRI.

PELAKITA.ID – Program Kemitraan Wallacea II yang dikelola Yayasan Burung Indonesia dan menggandeng LSM di Sulsel berhasil membuka mata para pihak tentang status, potensi dan ancaman deplesi komoditi ekonomis penting ini.

Selain ancaman kelangkaan itu, terbersit juga optimisme para pihak yang mendambakan pengelolaan berkelanjutan.

Read More

Kesan itu diperoleh setelah mengikuti paparan tim Yayasan Romang Celebes Indonesia (YCRI) yang sednag mendorong Keselarasan Pola Pemanfaatan, Konservasi dan Perdagangan Teripang Skala Kecil di Pulau Sapuka Liukang Tangaya (Konsepsi Tangaya) Pangkep, Sulsel.

YCRI menggelar lokakarya pengelolaan perikanan skala kecil, Jumat, 25/11/2022 dan dihadiri beberapa narasumber seperti Kadis KP Sulsel (Muhammad Ilyas dan Marhamah), BPSPL PRL KKP (Andi Jaya), BRIN (Dedy Adhuri) hingga akdemisi  FIKP Unhas(Andi Assir Marimba)  serta manager program YCRI untuk Konsepsi Tangaya Project, Andi Nur Apung.

“Tujuan lokakarya ini untuk mendapat masukan dari para pihak termasuk menjadi kesempatanj bagi kami untuk menyampaikan hasil  fasilitasi kami terkait pemanfaatan, konservasi dan perdagangan teripang selama melaksanakan Konsepsi Tangaya Project ini,” kata Awaluddin, direktur YCRI.

Program Wallacea II

Program Kemitraan Wallacea II sesuai penjelasan Burung Indonesia bekerja dengan cara mendukung organisasi masyarakat sipil untuk terlibat dalam aksi-aksi konservasi di biodiversity hotspot.

Burung Indonesia merupakan tim pelaksana regional (Regional Implementation Team) yang memimpin program hibah sekaligus membangun koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor pelestarian keragaman hayati di Wallacea.

Mengapa Wallacea? Wallacea ini menarik.  Ribuan pulau di kawasan Wallacea mendukung komunitas biologis yang sangat beragam dengan banyak spesies unik — lebih dari setengah spesies mamalia, 40 persen burung, dan 65 persen amfibi yang ditemukan di Wallacea, tidak dapat ditemukan di luar hotspot.

Kawasan perairan laut di Wallacea tidak memiliki spesies endemis sebanyak habitat terestrial, tetapi bersama dengan Papua, wilayah ini memiliki lebih banyak spesies laut daripada di lokasi mana pun di planet ini, dan membentuk jantung Segitiga Terumbu Karang/Coral Triangle.

Disebutkan, dari semua spesies laut di Wallacea, sebanyak 252 spesies diklasifikasikan sebagai terancam punah oleh IUCN, banyak di antaranya adalah spesies karang, yang rentan terhadap pemutihan / coral bleaching, sedimentasi dan polusi serta praktik penangkapan ikan yang merusak.

Aneka jenis terpiang yang dikoleksi masyarakat (dok: YCRI – Konsepsi Tangaya Project)

YRCI dan teripang Sapuka

Andi Nur Apung, program manager YCRI menyebut lokasi kegiatan mereka adalah di Kelurahan Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan. Keluraha ini terdiri dari 9 Pulau

Untuk sampai ke Sapuka, menurut Nur Apung, terdapat 4 akses  “Pelabuhan Laut Maccini Baji (Pangkep), melalui Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Pelabuhan Paotere Makassar serta Pelabuhan Bima dan Pelabuhan Lombok (NTB),” ujarnya.

Pihaknya memulai program pada bulan November 2021 lalu dengan menggelar apa yang disebut Sosialisasi. “Kita gelar sosialisasi proyek, studi pendahuluan, penyusunan profil  dan workshop desa,” ungkapnya.

Setelah itu, lanjut Nur Apung, dilakukan dengan mengembankan system pencatatan secara partisipatif (Log Pencatatan, serta memperkuat kapasitas dalam pengumpulan Data Series Teripang

“Berikutnya adalah pencatatan reguler pemanenan teripang dan melakukan update data teripang secara reguler,” ucapnya.

Selain itu menurut Nur Apung digelar pula FGD berseri terkait penyusunan aturan lokal masyarakat berdasarkan rekomendasi yang ditemukan pada profil perikanan.

“Kami juga menyusun pembelajaran selama proses, lessons learned, dan melakukan koordinasi dengan pemangku kebijakan dan aktor kunci di level kabupaten dan provinsi, termasuk lokakarya para pihak kunci dalam mendukung aksi pemanfaatan teripang skala kecil berbasis masyarakat,” terangnya.

Nur Apung menyampaikan setelah sekian waktu berproses hingga ujung fasilitasi program terdapat 3 capaian utama yang telah diperoleh. “Yang pertama adalah adanya profil perikanan teripang skala kecil di Pulau Sapuka,” sebutnya.

“Terdapat  kesepakatan Bersama dalam mendukung tata kelola pemanfaatan dan pengelolaan teripang secara berkelanjutan di Kelurahan Sapuka,” tambahnya.

“Kami melakukan pencatatan teripang  secara reguler dari Bulan Maret hingga Oktober 2022 , kami mencatat junlah tangkapan mencapai 1311 ekor untuk 13 jenis teripang,” ucapnya lagi.

Dia menyebutkan beberapa jenis teripang seperti poloso, cera-cera, binti, koro, gama, cera merah, lotong-lotong, talengko, donga, pisang-pisang, pandang, ballang ulu atau kapo, duyung dan bangkuli.

“Jika menghitung CPUE atau catch per unit effort dan MSY hasil perikanan teripang selama Maret hingga Oktober 2022 di pulau Sapuka dapat disebutkan selama 8 bulan, responden, nelayan teripang melakukan penangkapan, trip, sebanyak 595 kali trip dengan menghasilkan 473,8 kg hasil tangkapan teripang,” ungkapnya.

“Berdasarkan diagram MSY terlihat bahwa batas penangkapan lestari teripang di Pulau Sapuka pada bulan Juni sebanyak 88 upaya atau trip)dengan jumlah tangkapan 78 kg. Hasil tangkapan teripang mulai terjadi penurunan pada bulan juli dengan upaya 90 trip dengan jumlah hasil tangkapan menurun menjadi 70 kg,” papar Nur Apung.

Di ujung paparannya menurut Nur Apung, program ini tak mudah sebab ada beberapa tantangan seperti aksesibilitas yang terbatas dan jauh ke Pulau Sapuka.

Lokakarya pengelolaan perikanan skala kecil yang difasilitasi oleh Yayasan Romang Celebes Indonesia (dok: Istimewa)

“Juga faktor cuaca serta untuk masuk lebih dalam kita masih terkendala untuk menggali lebih banyak data karena kuatnya sistem Ponggawa Sawi atau patron client di masyarakat Sapuka,” sebutnya.

Pembelajran dan tindak lanjut

Bagi YRCI ada beberapa pembelajaran dan catatan untuk dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan atau siapapun yang tertarik menjadi bagian dalam pengelolaan komoditi seperti teripang ini.

“Profil perikanan teripang menjadi pintu masuk dalam mengorganisir nelayan teripang melalui pendekatan secara partisipatif seluruh elemen kunci di Pulau Sapuka,” ucapnya.

“Kedua, nelayan teripang masih sangat sulit meninggalkan kebiasaan penggunaan kompresor sebagai alat bantu penangkapan teripang, yang secara sadar diakui membahayakan kesehatan,” tambahnya.

“Perlu ada upaya yang kuat untuk mencari solusi alat tangkap yang ramah lingkungan, meminimalisir risiko kesehatan dan mulai mengalihkan ke praktik budidaya teripang,” sebut Nur Apung.

“Ada keinginan yang besar dari masyarakat dampingan untuk dikuatkan kapasitasnya terkait pengelolaan teripang, termasuk merekomendasikan praktek percontohan budi daya teripang berbasis masyarakat untuk mengatasi kelangkaan teripang,” pungkas Nur Apung.

 

Editor: K. Azis

 

Kontak Yayasan Romang Celebes Indonesia

Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Blok M No. 346. Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea. Kota Makassar. Kode Pos 90245. Provinsi Sulawesi Selatan

 

 

 

Related posts