- Kongres IV ISKINDO menjadi titik awal untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, memperluas kerja sama riset, mendorong inovasi, dan membangun kontribusi profesional yang lebih terukur. Sarjana kelautan diharapkan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebijakan, serta mengubah hasil pemikiran menjadi manfaat bagi masyarakat.
- Pesan Menteri Trenggono mengarah pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana ilmu kelautan dapat membantu Indonesia menjaga laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan manusia yang bergantung padanya?
- Jawabannya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memerlukan dukungan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia profesional; perguruan tinggi perlu memastikan riset serta pendidikan relevan dengan tantangan nyata; sementara organisasi profesi perlu mempertemukan keahlian, pengalaman, dan kebutuhan lapangan.
PELAKITA.ID — Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menantang para sarjana kelautan Indonesia untuk memperluas kontribusi keilmuan mereka dalam menjawab persoalan kesehatan laut, tekanan terhadap ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurut Trenggono, besarnya potensi maritim Indonesia harus diikuti kemampuan menghasilkan pendekatan, inovasi, dan solusi yang dapat diukur dampaknya.
Pesan itu disampaikan Trenggono saat menghadiri pembukaan Kongres IV Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026.
Di hadapan para pengurus organisasi, dekan, akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi kelautan, ia mengajak komunitas keilmuan menjadikan pertemuan tersebut sebagai ruang berpikir bersama tentang apa yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan kelautan Indonesia.
Menteri mengapresiasi kehadiran kalangan perguruan tinggi dalam kongres. Baginya, pertemuan dengan para akademisi dan peneliti menjadi kesempatan untuk mendiskusikan persoalan laut secara lebih mendasar, mulai dari hubungan manusia dengan daya dukung bumi hingga kebutuhan merumuskan pendekatan baru untuk menjaga keberlanjutan ekosistem.
“Pertanyaan sesungguhnya bukan hanya apa yang kita pelajari, tetapi apa yang bisa kita lakukan dengan ilmu yang kita kuasai,” demikian inti pesan Trenggono dalam sambutannya.
Pertumbuhan Manusia dan Tekanan terhadap Ekosistem
Trenggono mengawali pandangannya dengan menyoroti pertumbuhan penduduk dan kegiatan ekonomi yang terus meningkatkan tekanan terhadap lingkungan. Sementara jumlah manusia dan kebutuhannya berkembang, daya dukung bumi memiliki batas. Ketidakseimbangan tersebut, menurutnya, menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan ekosistem.
Dalam konteks kelautan, tekanan terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari keterkaitan berbagai unsur ekosistem. Laut merupakan sistem kehidupan yang saling terhubung, dari organisme kecil hingga biota berukuran besar yang menjadi bagian dari rantai makanan dan dikonsumsi manusia.
Ia mengingatkan bahwa kawasan konservasi laut terbentuk melalui proses alami dan memiliki fungsi ekologis yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh manusia.
“Apabila tekanan aktivitas manusia terus meningkat dan ruang-ruang penting bagi kehidupan laut mengalami kerusakan, dampaknya dapat menjalar ke seluruh sistem ekologi,” ucapnya.
Karena itu, Trenggono mendorong para sarjana kelautan untuk mengembangkan pendekatan, temuan, dan variabel baru yang membantu menjaga alam sekaligus menekan dampak aktivitas manusia. Ilmu kelautan, dalam pandangannya, harus berperan dalam menemukan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan perlindungan ekosistem.
Pesan ini menempatkan perguruan tinggi dan organisasi profesi bukan hanya sebagai tempat pengembangan pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber gagasan dan solusi untuk persoalan nyata. Penelitian, pendidikan, dan praktik profesional perlu terhubung dengan kebutuhan pengelolaan laut yang berkelanjutan.

Dari Pengetahuan Menuju Dampak Ekonomi
Trenggono juga mempertanyakan bagaimana kontribusi ilmu kelautan dapat terlihat dalam pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Ia membandingkan sektor kelautan dengan sektor lain yang memiliki kegiatan ekonomi berskala besar, seperti pertambangan dan perkebunan, yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus menyerap tenaga kerja.
Pertanyaan yang ia ajukan kepada komunitas kelautan adalah bagaimana ilmu, teknologi, dan keahlian para sarjana dapat mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi kelautan dengan dampak yang lebih luas.
Potensi laut, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi peluang yang nyata, bukan hanya menjadi kebanggaan atas kekayaan alam Indonesia.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh dilepaskan dari keberlanjutan lingkungan. Peningkatan produksi dan pemanfaatan sumber daya laut harus mempertimbangkan kemampuan ekosistem untuk tetap berfungsi. Jika ekonomi terus dikejar tanpa menjaga fondasi ekologisnya, masyarakat justru akan menghadapi kerugian dalam jangka panjang.
Dalam konteks ini, Trenggono mengharapkan para akademisi dan peneliti membantu merumuskan ukuran keberhasilan yang jelas. Program dan kebijakan perlu dievaluasi berdasarkan hasil yang dapat dilihat dan diukur, baik dari sisi ekonomi maupun dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
Kesejahteraan Nelayan Menjadi Agenda Penting
Dalam sambutannya, Trenggono turut menyoroti kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir dan nelayan. Ia menyebut sekitar 10 juta orang berada dalam keluarga nelayan, sementara sekitar 3,2 juta nelayan menggantungkan hidup sepenuhnya pada kegiatan penangkapan ikan.
Tak hanya itu, terdapat puluhan juta penduduk yang tinggal di kawasan pesisir dan menghadapi beragam risiko serta persoalan penghidupan.
Ia membandingkan dukungan pembangunan yang selama ini tersedia bagi sektor pertanian dengan tantangan yang masih dihadapi masyarakat nelayan. Dalam pertanian, pembangunan bendungan, jaringan irigasi, pupuk bersubsidi, dan dukungan terhadap penyerapan hasil produksi telah menjadi bagian dari ekosistem pendukung kegiatan ekonomi.
“Pengalaman pembangunan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki dukungan bagi masyarakat pesisir. Ia menyampaikan bahwa pemerintah saat ini mulai mengoreksi pendekatan pembangunan desa-desa pesisir melalui pengembangan model yang dapat diuji dan dievaluasi,” sebutnya.
Trenggono berharap model tersebut dapat menunjukkan peningkatan kesejahteraan nelayan dan menjadi dasar bagi langkah yang lebih luas. Baginya, program pembangunan harus disertai ukuran keberhasilan yang jelas sehingga hasilnya dapat dinilai, diperbaiki, dan dikembangkan.
Pesan ini memberi ruang penting bagi kontribusi sarjana kelautan. Keahlian mereka dapat digunakan untuk membantu pemerintah memahami karakteristik wilayah, mengembangkan inovasi, memperkuat pengelolaan sumber daya, dan menilai dampak program pembangunan terhadap masyarakat pesisir.
ISKINDO Diharapkan Menjadi Ruang Gagasan dan Aksi
Di hadapan peserta kongres, Trenggono mempertanyakan apa yang sesungguhnya ingin dilakukan ISKINDO sebagai organisasi yang menaungi para sarjana kelautan.
Baginya, pertemuan organisasi semestinya tidak berhenti pada urusan kepengurusan, tetapi menjadi kesempatan untuk menghimpun pengalaman, pengetahuan, dan gagasan demi menjawab persoalan yang dihadapi Indonesia.
Pertanyaan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi ISKINDO. Dengan anggota yang berkiprah di pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha, penelitian, dan berbagai bidang profesional, organisasi ini memiliki jejaring yang dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan kompetensi para sarjana.
Kongres IV ISKINDO karena itu dapat menjadi titik awal untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, memperluas kerja sama riset, mendorong inovasi, dan membangun kontribusi profesional yang lebih terukur. Sarjana kelautan diharapkan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebijakan, serta mengubah hasil pemikiran menjadi manfaat bagi masyarakat.
Pesan Menteri Trenggono mengarah pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana ilmu kelautan dapat membantu Indonesia menjaga laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan manusia yang bergantung padanya?
Jawabannya membutuhkan kerja bersama. Pemerintah memerlukan dukungan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia profesional; perguruan tinggi perlu memastikan riset serta pendidikan relevan dengan tantangan nyata; sementara organisasi profesi perlu mempertemukan keahlian, pengalaman, dan kebutuhan lapangan.
Bagi ISKINDO, tantangan tersebut merupakan kesempatan untuk mempertegas perannya sebagai rumah bersama para sarjana kelautan sekaligus mitra pembangunan maritim Indonesia. Laut yang sehat dan masyarakat pesisir yang sejahtera perlu ditempatkan sebagai dua tujuan yang saling menguatkan, bukan sebagai pilihan yang harus dipertentangkan.









