PELAKITA.ID – JAKARTA — Kongres IV Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi pemikiran, memperluas jejaring keilmuan, serta mendorong kontribusi nyata sarjana kelautan dalam pembangunan sektor kelautan Indonesia.
Ketua Panitia Kongres IV ISKINDO, Niko Amrullah, mengatakan bahwa penyelenggaraan kongres dirancang tidak hanya untuk menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga membangun ruang kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi, dan masyarakat.
Menurutnya, ISKINDO memiliki posisi strategis sebagai jembatan yang menghubungkan kompetensi para sarjana kelautan dengan kebutuhan pembangunan. Karena itu, penguatan organisasi perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, dan mengembangkan usaha berbasis potensi kelautan.
“Kami berharap Kongres IV ISKINDO tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga melahirkan gagasan, memperkuat kolaborasi, dan mendorong langkah nyata yang memberikan manfaat bagi pembangunan kelautan Indonesia,” demikian pesan yang disampaikan dalam laporan ketua panitia.
Dalam penyelenggaraannya, panitia menyiapkan sejumlah agenda utama yang diarahkan untuk menjawab tantangan pengembangan sumber daya manusia dan tata kelola kelautan, sekaligus memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
Agenda pertama adalah serial webinar tentang sumber daya manusia dan tata kelola kelautan Indonesia. Forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan untuk mengidentifikasi tantangan pengembangan sumber daya manusia serta mendiskusikan tata kelola sektor kelautan yang lebih efektif, berkelanjutan, dan inklusif.
Agenda kedua berupa talk show bertema membangun ekosistem usaha dan lapangan kerja berbasis kelautan.
Melalui kegiatan ini, ISKINDO mendorong pembahasan yang lebih konkret mengenai bagaimana potensi ekonomi kelautan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha, kewirausahaan, dan lapangan kerja, terutama bagi generasi muda serta lulusan perguruan tinggi kelautan.
Penguatan ekosistem usaha tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah berperan dalam membangun kebijakan dan iklim usaha yang mendukung, perguruan tinggi menyediakan pengetahuan serta sumber daya manusia, sedangkan dunia usaha membuka ruang inovasi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja. Organisasi profesi diharapkan membantu mempertemukan kompetensi lulusan dengan kebutuhan sektor industri.
Agenda ketiga adalah ISKINDO Award, sebagai bentuk apresiasi terhadap individu maupun institusi yang telah menunjukkan dedikasi, menghasilkan karya, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta pembangunan sektor kelautan Indonesia.
Penghargaan tersebut diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi keluarga besar sarjana kelautan untuk terus berkarya dan berinovasi. Pengakuan terhadap kontribusi individu dan institusi juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya profesionalisme serta memperkuat semangat pengabdian dalam pembangunan kelautan nasional.
Sementara itu, agenda keempat adalah Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPK). Forum ini diarahkan untuk memperkuat jejaring akademik dan kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi, termasuk dalam pengembangan riset, peningkatan kualitas pendidikan, dan penyediaan masukan ilmiah bagi perumusan kebijakan kelautan.
Melalui FKPTPK, perguruan tinggi diharapkan memiliki ruang yang lebih kuat untuk menyelaraskan pemikiran akademik dan agenda penelitian dengan tantangan pembangunan. Kerja sama antarkampus juga penting untuk meningkatkan kualitas lulusan agar memiliki kompetensi yang relevan dengan dinamika sektor perikanan dan kelautan.
Libatkan 300 Peserta dan Berbagai Organisasi Profesi
Niko Amrullah menyampaikan bahwa kegiatan kongres diperkirakan dihadiri sekitar 300 peserta. Mereka terdiri atas perwakilan Dewan Pengurus Pusat ISKINDO, Dewan Pengurus Wilayah ISKINDO, mahasiswa kelautan dari berbagai perguruan tinggi, serta unsur pimpinan dan perwakilan perguruan tinggi.
Kegiatan ini juga melibatkan narasumber dari Kementerian UMKM dan BPJS Ketenagakerjaan, bersama tamu undangan dari unsur pemerintah dan lembaga. Kehadiran berbagai pihak tersebut diharapkan memperkaya diskusi mengenai pengembangan sumber daya manusia, peluang kerja, dan penguatan ekosistem usaha berbasis kelautan.
Sejumlah organisasi profesi turut hadir, di antaranya Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia, Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia, Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia, Konsorsium Teknik Kelautan, serta Persatuan Insinyur Indonesia.
Keterlibatan organisasi-organisasi tersebut mencerminkan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam menjawab tantangan pembangunan kelautan. Berbagai persoalan di sektor ini membutuhkan kontribusi keilmuan yang beragam, kerja sama antarlembaga, dan keterhubungan antara pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat serta dunia usaha.
Atas nama panitia, Niko menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyelenggaraan kongres, baik dalam bentuk pemikiran, tenaga, fasilitas, maupun dukungan lainnya. Ia juga mengapresiasi kerja seluruh anggota panitia yang telah mempersiapkan rangkaian kegiatan tersebut.
Menuju Kontribusi Nyata Sarjana Kelautan
Kongres IV ISKINDO diharapkan menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat peran sarjana kelautan dalam menjawab tantangan nasional. Penguatan jejaring profesi, kolaborasi riset, peningkatan kualitas pendidikan, serta perluasan peluang usaha dan kerja menjadi bagian penting dari agenda tersebut.
Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan yang berkembang dalam kongres dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama yang terukur. Hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi profesi perlu diterjemahkan menjadi program yang menjawab kebutuhan sektor kelautan sekaligus membuka ruang kontribusi lebih luas bagi generasi muda.
Dengan semangat tersebut, ISKINDO diharapkan semakin kokoh sebagai wadah profesional sarjana kelautan yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kompetensi, dan kebutuhan pembangunan. Kongres IV menjadi kesempatan untuk menyatukan kekuatan dan mendorong kontribusi yang berkelanjutan bagi kemajuan kelautan Indonesia.









