Ketum ISKINDO Riza Damanik: Indonesia Punya 36.000 Sarjana Kelautan, Saatnya Memperkuat Kontribusi bagi Bangsa

  • Whatsapp
M.Riza Damanik, kedua dari kanan bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Staf Ahli MKP, Hendra Yusran Siry dan Darwis Ismail,Waketum ISKINDO (dok: Pelakita.ID)

JAKARTA, PELAKITA.ID — Indonesia memiliki sumber daya manusia kelautan yang besar, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan kompetensi para sarjana tersebut dapat berkontribusi lebih luas dalam pengelolaan laut, pembangunan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), M. Riza Damanik, dalam sambutan pembukaan Kongres IV ISKINDO di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026, yang dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Riza menyebutkan, berdasarkan pendataan yang dimiliki ISKINDO, sedikitnya terdapat 36.000 alumni kelautan yang telah berkiprah di berbagai bidang. Mereka bekerja di pemerintahan, lembaga legislatif dan yudikatif, TNI, perguruan tinggi, sektor swasta, hingga dunia usaha.

Menurutnya, keberadaan para alumni tersebut merupakan modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat tata kelola dan pemanfaatan sumber daya kelautan. Potensi laut yang besar tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dikelola melalui inovasi, kebijakan yang tepat, serta dukungan sumber daya manusia profesional.

“Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah kita telah menyiapkan sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola atau mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi dan kesejahteraan bangsa,” demikian inti pesan Riza dalam sambutannya.

27 Perwakilan DPW Hadir, Perkuat Konsolidasi Nasional

Kongres IV ISKINDO menjadi momentum konsolidasi organisasi yang mempertemukan sarjana kelautan dari berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 27 perwakilan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) ISKINDO hadir dalam kegiatan tersebut, mencerminkan upaya memperkuat jejaring organisasi dari daerah hingga tingkat nasional.

Selain jajaran pengurus pusat dan wilayah, acara ini dihadiri unsur Dewan Penasihat dan Majelis Pertimbangan Organisasi ISKINDO, perwakilan lintas kementerian dan lembaga, serta kalangan akademisi.

Forum Dekan Kelautan se-Indonesia juga mengambil bagian, dengan 49 dari 60 perguruan tinggi yang diundang tercatat hadir, termasuk 29 dekan yang menghadiri kegiatan secara langsung.

Kehadiran unsur organisasi, pemerintah, dan perguruan tinggi memperlihatkan bahwa agenda penguatan sumber daya manusia kelautan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan ruang komunikasi yang berkelanjutan agar pendidikan, kebijakan, kebutuhan industri, dan persoalan pembangunan di daerah dapat saling terhubung.

Dalam sambutannya, Riza secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang meluangkan waktu untuk hadir. Ia mengingatkan bahwa pada periode pertama kepemimpinan Trenggono di Kementerian Kelautan dan Perikanan, menteri pernah meminta ISKINDO merekomendasikan alumni kelautan yang dinilai memiliki kapasitas untuk berkontribusi di kementerian.

Riza mengatakan, sejumlah nama yang direkomendasikan kemudian bergabung dalam lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia berharap kesempatan bagi alumni kelautan untuk berkontribusi dalam pembangunan sektor ini dapat terus diperluas.

Peluang di Pusat, Tantangan Rekrutmen di Daerah

Di balik perkembangan positif tersebut, Riza menyoroti tantangan yang dihadapi sarjana kelautan, terutama terkait kesempatan kerja dan ruang pengabdian di pemerintahan daerah.

Menurutnya, setelah terjadi perubahan kebijakan yang membatasi ruang kewenangan pengelolaan laut di daerah, peluang rekrutmen bagi alumni kelautan di sejumlah wilayah juga dirasakan semakin terbatas. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama agar kemampuan para sarjana kelautan tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan daerah.

Ia menggambarkan adanya perubahan pola kesempatan kerja: peluang di tingkat pusat relatif lebih terbuka, sementara ruang kontribusi di daerah cenderung berkurang. Karena itu, menurut Riza, perlu dipikirkan kembali bagaimana peran sarjana kelautan dapat dimaksimalkan sesuai kebutuhan dan kewenangan pemerintah daerah.

Isu tersebut penting karena pembangunan kelautan berlangsung di wilayah-wilayah yang berhadapan langsung dengan dinamika pesisir, sumber daya perikanan, perubahan iklim, serta tekanan terhadap ekosistem. Kehadiran tenaga profesional yang memahami karakteristik wilayah dan persoalan kelautan dibutuhkan untuk membantu merumuskan serta menjalankan kebijakan yang tepat.

Riza berharap kolaborasi antara ISKINDO, pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, badan usaha milik negara maupun daerah, sektor swasta, serta perguruan tinggi dapat membuka ruang pengabdian yang lebih luas bagi para alumni.

Dari Potensi Laut Menuju Kesejahteraan

Riza menegaskan bahwa tantangan pembangunan kelautan ke depan semakin kompleks. Keterbatasan sumber daya alam, perubahan iklim, dan tekanan terhadap ekosistem menuntut pendekatan pengelolaan yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Indonesia, menurutnya, tidak kekurangan potensi kelautan. Tantangan sebenarnya terletak pada kemampuan bangsa untuk mengoptimalkan potensi tersebut melalui tata kelola yang kuat, inovasi berkelanjutan, dan sumber daya manusia profesional.

Karena itu, ISKINDO berkomitmen memperluas kerja sama dengan kementerian dan lembaga, BUMN, BUMD, pemerintah daerah, sektor swasta, serta perguruan tinggi. Organisasi ini juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk mengembangkan jurnal akademik dan memperluas literasi kelautan.

Bagi Riza, penguatan pengetahuan dan jejaring profesi perlu berjalan bersama dengan perubahan cara pandang terhadap pemanfaatan laut. Peralihan orientasi pembangunan dari daratan menuju laut, katanya, tidak boleh sekadar memindahkan pola lama yang terbukti merugikan lingkungan ke ruang laut.

Pemanfaatan laut harus dilakukan dengan cara yang lebih adil dan bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem serta manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Pesan tersebut menempatkan sarjana kelautan bukan hanya sebagai tenaga ahli, tetapi juga sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dunia usaha, dan kebutuhan masyarakat. Dengan kompetensi yang tepat dan kolaborasi yang lebih kuat, para sarjana kelautan diharapkan mampu ikut memastikan bahwa kekayaan laut Indonesia benar-benar menjadi sumber kemakmuran bangsa.

Kongres IV ISKINDO pun diharapkan tidak berhenti pada agenda organisasi dan pemilihan kepemimpinan, melainkan menjadi titik penguatan komitmen bersama untuk memperluas kontribusi sarjana kelautan dalam pembangunan nasional.

Menutup sambutannya, Riza mengajak seluruh keluarga besar ISKINDO untuk menyatukan kekuatan dan bergerak bersama menjaga masa depan maritim Indonesia.

“Biru samudra membentang luas, kekayaan bahari tak akan habis. Mari bersatu bergerak tangkas, laut masa depan bangsa yang optimistis.”