Menulis Sejarah Rakyat sebagai Sebuah Gerakan

  • Whatsapp
Kegiatan diawali dengan Seminar Sejarah yang menghadirkan tiga pembicara. Ada Ita Fatia Nadia (Ruas), Muslimin AR Effendi (Unhas), dan Feby Triadi (peneliti Bissu).

PELAKITA.ID – “Sejarah itu bukan hanya yang ada di buku-buku pelajaran, yang kita pelajari di kampus dan sekolah. Namun juga kisah orang-orang biasa, yang ditulis berdasarkan pengalaman dan ingatannya,” jelas Ferdhiyadi, salah seorang Tim Historiografi Rakyat.

Ferdhy, begitu dosen Sosiologi UNM itu akrab disapa, berbicara dalam kegiatan Bincang Buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh, dan Ingatan, yang diadakan di Konsulat Kehormatan Prancis dan Alliance Francaise (AF) Makassar, Jalan Maipa Nomor 2, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujung Pandang, Ahad, 18 Oktober 2026.

Selain sebagai tim, Ferdhy juga menulis pengalamannya bersentuhan dengan Sungai Lebbae di Soppeng. Sungai yang dimanfaatkan warga dari generasi ke generasi, untuk berbagai keperluan, kini tidak bisa lagi diminum langsung karena tercemar oleh sampah, terutama sampah plastik.

Menurut Ferdhy, tulisan-tulisan sejumlah kawan dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara ini sebagai bentuk gerakan (movement) perlawanan terhadap penyusunan Sejarah Nasional Indonesia (SNI), yang disebut sebagai sejarah resmi.

“Seolah bahwa penulisan sejarah yang difasilitasi negaralah yang benar, yang resmi. Padahal penulisannya sarat dengan kepentingan politik penguasa,” demikian kritik yang dikemukakan Ferdhy.

Dia lalu menceritakan prosesnya. Historiografi rakyat dengan semangat perlawanan ini dibangun dengan perspektif dari bawah (history from below). Tujuannya, hendak menegaskan bahwa wargalah yang sejatinya pemilik pengetahuan.

Kegiatan diawali dengan Seminar Sejarah yang menghadirkan tiga pembicara. Ada Ita Fatia Nadia (Ruas), Muslimin AR Effendi (Unhas), dan Feby Triadi (peneliti Bissu).

Kemudian diadakan workshop dengan narasumber Usman Hamid (Amnesty Internasional Indonesia), Andi Achdian (sejarawan Unas), Dianah Karmilah (Koalisi Perempuan Indonesia), Muhiddin M Dahlan (Radio Buku dan Warungarsip), Abd Karim (BRIN), dan Subarman Salim (Gengdekol-PKBM Sulolipu).

Peserta bukan saja mendapat asupan ilmu dan pengetahuan dari para narasumber, tetapi juga mengunjungi lokasi bersejarah. Ada empat lokasi yang didatangi, yakni Goa Cempalagi, Museum La Pawawoi, Penjara Lama, dan Komunitas Bissu.

Tulisan-tulisan dalam buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh, dan Ingatan, cukup beragam dan mampu menyingkap persoalan yang dihadapi sosok-sosok yang diangkat dalam tulisan.

Subarman Salim, misalnya, menulis posisi komunitas Bissu di Bone yang kian tersingkir. Padahal sebelumnya Bissu punya posisi penting dalam tradisi dan budaya.

Begitupun dengan Oma Irama, yang memotret kehidupan panre bessi perempuan di Luwu. Ada isu gender yang mengemuka dari Santi, si panre bessi dalam kisah yang diangkat.

Sofyan Basri, yang tampil berbagi pengalaman dan pandangannya sebagai tim dan penulis, menilai penting kegiatan historiografi rakyat. Dosen Prodi Teknologi Pendidikan UNM, yang punya pengalaman profesional sebagai jurnalis itu mengatakan, penjajahan memang telah berakhir, begitu bangsa Indonesia menyatakan kemerdekannya.

“Hanya saja, sisa-sisa peninggalan kolonialisme masih terasa. Kita masih merasa rendah diri di hadapan peneliti, apalagi peneliti asing. Selama ini, tulisan mereka kita sebut sebagai sumber primer. Padahal mereka curi pengetahuan itu dari pengalaman dan cerita-cerita warga yang dijadikan objek penelitian,” papar Sofyan.

Kegiatan Bincang buku ini diadakan atas kerjasama komunitas Diskusi Buku Bareng dengan Alliance Francaise (AF) Makassar. Peminat diskusi terbilang antusias. Mereka datang dari kalangan mahasiswa dan penggiat literasi, baik di Kota Makassar maupun Kabupaten Gowa.

Muhammad Alif Hasyudi dari komunitas Diskusi Buku Bareng mengatur dinamika diskusi sebagai moderator. Komunitas ini merupakan bagian dari Komunitas Jalan Bareng, Ketua Komunitas Diskusi Buku Bareng, Oskar, sedangkan Ketua Komunitas Jalan Bareng, adalah Payyad. Keduanya hadir sepanjang kegiatan.

Rusdin Tompo yang diundang sebagai pembahas buku mengatakan, sesungguhnya kita merupakan bagian dari sejarah, menjadi saksi sejarah, dan merupakan pelaku sejarah. Bahkan, jangan-jangan, kata penulis dan penggiat literasi itu, kita menjadi korban dari sejarah.

“Bahasa dan pilihan diksi yang ditulis dalam sejarah, terkandung relasi kuasa, stereotipe, dan diskriminasi. Itu bukti bahwa kita jadi korban sejarah. Apalagi jika sejarahnya ditulis secara manipulatif, hanya fakta-fakta yang menguntungkan, ditulis sebagai legitimasi,” terang Koordinator Satupena Sulawesi Selatan itu.

Dia salut pada prakarsa yang dilakukan Tim Historiografi Rakyat yang mendokumentasikan pengalaman warga biasa, yang sesungguhnya terhubung dengan banyak peristiwa sejarah dan praktik kebudayaan.

Rusdin Tompo lantas berbagi pengalaman menulis kisah-kisah hidupnya di masa kanak-kanak, sebagai jurnalis, aktivis hak anak, dan penggiat literasi. Ditekankan, yang paling penting dari penulisan sejarah warga atau rakyat, adalah jujur pada fakta dan informasi yang ada.

Riset pada pengalaman lampau, dengan mengkonfirmasi pada orang, teman, orangtua, dan mereka yang dijadikan informan tetap perlu dilakukan. Argumentasi harus dibangun berdasarkan premis yang terukur, tetap logis, dan dapat menggambarkan hubungan sebab akibatnya.

“Saya malah mendorong setiap orang menulis sejarah dirinya, sebagai bentuk penguatan identitas dan penegasan dirinya yang otentik,” imbuh Rusdin Tompo menutup bahasannya. (*)