Ibu adalah suara yang memanggil namanya, tangan yang membetulkan bajunya, dan pelukan yang membuat dunia terasa aman. Bagaimana mungkin ia memahami bahwa seseorang yang begitu dekat dengannya dapat pergi begitu jauh, bahkan ketika tubuhnya masih berada tepat di hadapannya?
PELAKITA.ID – Seorang anak kecil menatap ibunya yang terkulai di atas sepeda motor. Matanya mungkin mencari jawaban dari wajah yang begitu dikenalnya.
Ia belum mengerti mengapa ibunya diam, mengapa tubuh yang biasanya bergerak kini tak lagi menyahut, dan mengapa orang-orang mulai berdatangan dengan wajah cemas.
Barangkali ia ingin membangunkan ibunya, ingin bertanya mengapa perjalanan mereka terhenti, atau sekadar menunggu ibunya kembali tersenyum dan berkata, “Ayo, Nak, kita lanjutkan perjalanan.”
Sore itu, ada sesuatu yang tak mampu dipahami oleh hati kecilnya. Ia sedang menyaksikan sebuah perpisahan, tanpa mengerti bahwa dunia yang selama ini ia kenal sedang berubah untuk selamanya.
Di atas sepeda motor itu, sang ibu, Lu’lu Atunni’mah, 38 tahun, sedang menempuh perjalanan untuk membawa anak bungsunya berobat.
Ia seorang ibu yang telah lebih dahulu kehilangan suami, dan kini berjuang membesarkan empat anaknya.
Sore Sabtu, 17 Oktober 2026, sekitar pukul lima, perjalanan mereka terhenti di wilayah Slahung, Ponorogo, Jawa Timur.
Tubuhnya terasa sakit. Ia menepi, berharap dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, tak seorang pun tahu bahwa persinggahan itu akan menjadi akhir dari perjalanan hidupnya.
Sang ibu ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di atas sepeda motor. Warga berdatangan, pertolongan diupayakan, tetapi nyawanya tak lagi dapat diselamatkan.
Di tengah peristiwa yang begitu mendadak itu, ada seorang anak kecil yang mungkin belum memahami mengapa ibunya tak lagi bergerak. Ia belum mengenal bahasa kehilangan.
Anak itu belum tahu bahwa ada perpisahan yang tidak bisa diperbaiki dengan tangisan, panggilan, atau genggaman tangan sekecil apa pun.
Betapa getir membayangkan hati seorang anak yang belum cukup umur untuk memahami kematian, tetapi harus berhadapan dengan kenyataan yang begitu besar.
Baginya, ibu adalah tempat bertanya, tempat meminta, tempat mengadu ketika lapar, takut, atau terluka.
Ibu adalah suara yang memanggil namanya, tangan yang membetulkan bajunya, dan pelukan yang membuat dunia terasa aman. Bagaimana mungkin ia memahami bahwa seseorang yang begitu dekat dengannya dapat pergi begitu jauh, bahkan ketika tubuhnya masih berada tepat di hadapannya?
Kesedihan itu tidak berhenti pada seorang anak yang berada di atas boncengan. Di rumah, tiga saudaranya yang lain juga harus menerima kenyataan pahit: ayah mereka telah lebih dahulu berpulang, dan kini ibu yang menjadi tempat mereka menggantungkan harapan pun telah tiada.
Empat anak itu kehilangan kedua orang tua pada usia ketika kasih sayang semestinya masih menjadi pagar yang melindungi mereka dari kerasnya kehidupan.
Ada begitu banyak hal yang kelak mungkin mereka rindukan: suara ibu dari dapur, tegurannya ketika mereka berbuat salah, pertanyaannya tentang sekolah, hingga panggilan sederhana yang dahulu terdengar biasa, tetapi suatu hari akan menjadi sesuatu yang tak mungkin lagi mereka dengar.
Barangkali, bertahun-tahun kemudian, ketika mereka telah dewasa, kenangan tentang ibu akan datang melalui hal-hal kecil.
Melalui aroma masakan, suara sepeda motor yang melintas, atau perjalanan pulang yang mengingatkan mereka pada seseorang yang dahulu selalu berusaha membawa mereka menuju tempat yang lebih baik.
Bagi si bungsu, mungkin akan ada bagian dari kisah hidupnya yang hanya dapat ia kenali melalui cerita orang lain.
Ia mungkin tidak mampu mengingat seluruh kejadian sore itu, tetapi semoga kelak ia tetap dapat mengenal ibunya melalui kasih sayang yang ditanamkan dalam dirinya dan kebaikan yang diwariskan kepada saudara-saudaranya.
Dalam pandangan sufistik, kematian mengingatkan kita bahwa setiap perjumpaan di dunia berada dalam batas waktu yang tak pernah sepenuhnya kita ketahui. Namun, iman tidak mengharuskan manusia berhenti menangis.
Air mata bukan tanda lemahnya keyakinan; ia adalah bahasa cinta ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan kehilangan.
Kita boleh percaya bahwa sang ibu telah kembali kepada Allah, sembari tetap merasakan pedih yang ditinggalkannya. Sebab, menerima takdir bukan berarti meniadakan kesedihan, melainkan belajar merawat kehidupan di tengah sesuatu yang tak dapat kita ubah.
Kisah ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita pilu yang kita baca sambil mengusap dada, lalu kita lupakan ketika kabar lain datang menggantikannya.
Empat anak itu masih memiliki perjalanan panjang. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar santunan sesaat atau simpati yang ramai di media sosial.
Mereka membutuhkan keluarga yang mendampingi, lingkungan yang melindungi, pendidikan yang terjamin, serta orang-orang yang bersedia hadir ketika kerinduan kepada ayah dan ibu datang tanpa aba-aba.
Mereka juga berhak tumbuh tanpa menjadikan kisah kehilangan mereka sebagai tontonan publik.
Kita mungkin tak mampu mengembalikan ibu mereka. Kita tak dapat memutar kembali waktu agar perjalanan sore itu berakhir dengan kepulangan yang biasa.
Kita masih dapat melakukan sesuatu yang berarti: memastikan anak-anak itu tidak merasa ditinggalkan oleh seluruh dunia. Jika satu pintu kasih sayang telah tertutup oleh kematian, semoga banyak pintu lain dibukakan oleh kepedulian manusia.
Bagi penulis, yang paling menyedihkan bukan hanya ketika seorang ibu meninggal di atas sepeda motor, melainkan ketika anak-anak yang ditinggalkannya harus melanjutkan perjalanan hidup tanpa pelukan yang selama ini mereka kenal sebagai rumah.
Sore itu, sang ibu mungkin sedang berusaha membawa anaknya menuju kesembuhan. Ia tak pernah tahu bahwa perjalanan sederhana itu akan menjadi kenangan yang begitu panjang bagi banyak hati.
Di situlah kita perlu belajar memahami cinta: seorang ibu terus berusaha mengantarkan anaknya menuju kehidupan yang lebih baik, bahkan ketika dirinya sendiri sedang menanggung sakit.
Kini, biarlah doa mengantarkan sang ibu menuju keabadian. Biarlah kasih sayang manusia menjaga anak-anak yang ditinggalkannya.
Biarlah kita mengingat, bahwa ketika Allah memanggil seseorang pulang, masih ada amanah kemanusiaan yang dititipkan kepada mereka yang tetap tinggal.
Ya Allah, peluklah anak-anak itu dengan kasih sayang-Mu. Ketika mereka kelak mencari wajah ibu dalam kenangan, hadirkanlah orang-orang baik yang membuat mereka tetap percaya bahwa dunia belum kehilangan cinta.
— Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran









