Pelakita dan Upaya Menghidupkan Suara yang Sengaja Dilupakan

  • Whatsapp
Ilustrasi penulis, Muliadi Saleh (dok: by AI)

PELAKITA.ID – Kamaruddin Azis, yang akrab disapa Denun, adalah figur yang cukup dikenal di lingkaran literasi, komunitas, dan jejaring pembangunan lokal—khususnya di Sulawesi Selatan.

Ia bukan sekadar pendiri Pelakita. Ia adalah penganyam makna dari hal-hal yang kerap dianggap sepele: dari desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, dari pesisir yang tak selalu masuk peta kebijakan, hingga percakapan sederhana yang sering tak terdengar.

Denun melalui Pelakita yang dibangunnya bersama anak-anak Kelautan Unhas itu, memungutnya satu per satu, lalu merangkainya menjadi narasi yang hidup.

Bagi mereka, menulis bukan sekadar soal kata.

Menulis adalah cara menjaga yang nyaris hilang, merawat ingatan kolektif, dan memberi ruang bagi suara-suara kecil agar tidak tenggelam.

Melalui Pelakita, ia membangun lebih dari sekadar media. Ia merintis ruang tempat gagasan bertemu pengalaman; tempat data berdialog dengan rasa; tempat pembangunan tidak hanya dihitung dengan angka, tetapi juga dihayati sebagai cerita manusia.

Di sana, isu desa, lingkungan, kesehatan, hingga maritim tidak tampil sebagai statistik kering, melainkan sebagai kisah yang bernapas.

Denun sebagai salah satu pendiri Pelakita.ID, percaya bahwa perubahan dapat lahir dan tumbuh dari tulisan-tulisan yang setia hadir—meski tanpa sorot lampu dan panggung viralitas.

Barangkali itulah yang membuatnya tidak tergoda untuk berdiri di pusat keramaian. Ia justru memilih pinggiran—tempat suara-suara lirih sering kehilangan pendengar. Di sanalah ia bekerja: mengamati, menyerap, lalu menuliskannya kembali dengan kesabaran seorang perawat ingatan.

Bagi Denun, menulis bukan sekadar keterampilan. Ia adalah laku hidup.

Sebagai penulis, Denun tidak tergesa-gesa. Ia tidak memburu viralitas. Ia tidak tunduk pada ritme gaduh zaman. Tulisannya mengalir seperti percakapan yang jujur—kadang sederhana, kadang sunyi, tetapi selalu menyisakan ruang bagi pembaca untuk merenung. Ia tidak memaksakan kesimpulan; ia hanya membuka jalan.

Ada hal menarik dari sosok ini: ia tidak memisahkan antara berpikir dan merasakan. Dalam dirinya, data dan empati berjalan beriringan. Ia bisa berbicara tentang lingkungan, kesehatan, desa, dan maritim—namun selalu dengan manusia sebagai pusatnya.

Ia tidak sekadar mencatat fakta. Ia merawat makna.

Mungkin itulah sebabnya tulisan-tulisannya terasa hidup—karena ia tidak menulis dari jarak, melainkan dari kedekatan.

Di balik kesederhanaannya, Denun menyimpan keteguhan yang tidak selalu tampak. Ia percaya bahwa perubahan tidak selalu lahir dari gebrakan besar. Ada perubahan yang tumbuh dari konsistensi: dari tulisan yang terus hadir, dari cerita yang terus dirawat, dari keyakinan bahwa sekecil apa pun suara tetap layak didengar.

Ia bekerja tanpa banyak deklarasi. Ia berjalan tanpa banyak klaim. Namun jejaknya ada—pada kata-kata yang ditinggalkan, pada ruang yang dibangun, pada kesadaran yang perlahan tumbuh.

Maka, jika ingin memahami Denun, jangan mencarinya dalam sorotan. Carilah ia dalam tulisan-tulisan yang tampak sederhana namun menyimpan kedalaman; dalam cerita-cerita kecil yang memantulkan wajah besar kemanusiaan.

Di sanalah ia utuh: seorang penulis yang menjadikan kata sebagai jembatan, seorang penggerak yang memilih sunyi sebagai strategi, seorang perawat ingatan yang percaya bahwa dunia tidak hanya dibangun oleh mereka yang bersuara keras, tetapi juga oleh mereka yang setia menulis—tanpa lelah, tanpa pamrih.


Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”