PELAKITA.ID – Ini kisah tentang sebuah kota pada abad ke delapan. Pembaca #NarasiAno, izinkan saya menuangkan kopi pahit di gelas merahku, sebelum melanjutkan kisah sebuah kota yang pada malam hari tidak benar benar gelap, diterangi bukan hanya karena gemerlapnya cahaya lampu tetapi sebuah cahaya yang kelak akan menerangi ilmu pengetahuan di dunia.
Kota tersebut merupakan jantung dunia Islam pada zaman itu. Dipimpin oleh seorang tokoh yang tak hanya memikirkan tentang kekuasaan politik, bukan sibuk memperluas wilayah kekuasaan menggunakan pedang, akan tetapi dia memilih memperluas peradaban melalui ilmu pengetahuan.
Yang saya maksud tokoh tersebut adalah Khalifah Harun al-Rasyid.
Di bawah kepemimpinannya, di mendirikan pusat ilmu pengetahuan yang kemudian terkenal dengan nama Baitul Hikmah, pusat ilmu pengetahuan terbesar pada masanya.
Baitul Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan adalah salah satu pencapaian paling fantastik dalam sejarah intelektual manusia, sering disebut sebagai “permata” Zaman Keemasan Islam.

Di dalam gedung menjulang inilah tempat bertemunya berbagai peradaban. Keindahannya terletak pada koleksi buku-buku dari Yunani Kuno, Persia, India, Syria, dan Mesir yang dikumpulkan, diterjemahkan, dan dipelajari.
Ilmu Persia dikaji kembali, matematika dari India dipelajari dengan tekun oleh para ilmuan dari berbagai bangsa, mereka duduk bersama membicarakan tentang perhitungan, tentang bintang tentang angka angka, tentang makna kehidupan. Dari dalam gedung ini lahir fondasi ilmu matematika, astronomi, kedokteran, kimia dan filsafat.
Aljabar berkembang, rumah sakit modern dirintis, observatorium dibangun, metode ilmiah mulai dirumuskan secara sistematis.
Karya-karya yang disalin dan dikembangkan di Baitul Hikmah kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin yang memicu kebangkitan intelektual di Eropa,pemantik Renaisans. Warisan itu tidak hanya dirasakan oleh Barat tetapi jika kita di Indonesia sebagai umat Islam.
Malam boleh terus berganti, warga Baghdad menikmati temaram kota 1001 malam, tetapi para ilmuan di dalam Baitul Hikmah tiada henti menggoreskan penanya,lentera tetap dinyalakan yang kelak akan menjadi saksi lahirnya gagasan gagasan besar untuk mencitakan dunia yang lebih modern, melahirkan Eropa yang maju, tempat bagi kita di Indonesia saat ini berkiblat untuk belajar, mengagumi serta mungkin tunduk pada nya akan ilmu pengetahuan.
Padahal segala sumber ilmu Eropa, sumbu awalnya, sebagian besar berasal dari Baitul Hikmah. Dari Banghad, tempat Baitul Hikmah berdiri bersinar, memberi cahaya bagi dunia, indah dan jejaknya masih kita rasakan hingga detik ini.
Khalifah Harun al-Rasyid memahami bahwa kekayaan sejati bukanlah gedung tinggi yang megah, bukanlah wilayah kekuasan yang menyeberangi lautan dan angkasa,membangun peradaban bukan oleh banyak nya prajurit yang kuat,tetapi dari Ilmu.
Umat Islam hari ini harus sadar, ilmu pengetahuan modern bukanlah sesuatu yang asing dari sejarah kita.
Kunarasikan dengan singkat kisah ini bukan untuk berbangga semata, tetapi membangkitkan kembali semangat menuntut ilmu, berinovasi dan menghadirkan peradaban yang memberi manfaat bagi dunia dan kehidupan kita.
Akhirnya, saya ucapkan selamat menantikan sahur di hari ke 14 Ramadan 1447 H.
Dalam buku Bibel Quran dan Sains Modern karya Maurice Buacaille mendapat kan kisah dalam dunia Islam bahwa saat Nabi Muhammad SAW akan merampungkan Al Quran yang dicatat oleh Zaid bin Tsabit, hadir pula Malaikat Jibril.
Hal itu dilakukan oleh Rasulullah pada bulan suci Ramadan. Artinya, jika anda membaca Al Quran di malam Ramadan, bukan sekadar melafalkan ayat ayat tetapi mengulangi apa yang Nabi Muhammad SAW lakukan saat hendak rampungkan kitab yang isnya tentang kehidupan dunia dulu dan masa mendatang lau membayangkan , duduk Malikat Jibril di sampingmu.
#Seri11
#Ramadan1447H
NarasiAno, Tenang Dibaca, Kuat Dirasakan









