Dua Perspektif dalam Dokumen Perencanaan Pembanguna

  • Whatsapp
Suasana di halaman Kantor Desa Laskap (dok: Istimewa)

Tulisan ini merupakan sintesa atas pemikiran dan tawaran Dr Sultan Suhab terkait perspektif perencanaan pembangunan daerah sebagaimana disampaikan pada sesi kelas Perencanaan Pembangunan Daerah oleh Kelas Pascasarjana Studi Pembangunan, 9 Mei 2026.

PELAKITA.ID – Dalam setiap dokumen perencanaan pembangunan, sesungguhnya terdapat dua cara pandang besar yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan: perspektif masa lalu dan perspektif masa depan.

Keduanya menjadi fondasi penting dalam menyusun arah pembangunan yang realistis, terukur, sekaligus visioner. Perencanaan pembangunan bukan sekadar daftar program atau tumpukan angka anggaran, melainkan jembatan antara pengalaman yang telah dilewati dengan cita-cita yang ingin diwujudkan.

Perspektif masa lalu berfungsi sebagai cermin evaluasi. Dari perspektif ini, pemerintah atau lembaga pembangunan melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh.

Pertanyaan pertama yang diajukan adalah: apa yang telah dicapai?

Pada tahap ini, berbagai capaian pembangunan diidentifikasi dan diukur, baik dalam bentuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun kualitas pelayanan publik. Capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan sekaligus bukti kerja pembangunan yang telah dilakukan.

Selanjutnya, perspektif masa lalu juga menelaah apa yang telah dilakukan. Artinya, seluruh program, kebijakan, dan kegiatan yang pernah dijalankan perlu dicatat dan dianalisis.

Evaluasi ini penting untuk mengetahui apakah strategi yang digunakan sudah tepat, apakah pelaksanaannya efektif, serta sejauh mana program-program tersebut memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah menghitung berapa anggaran yang telah digunakan. Dalam konteks pembangunan modern, akuntabilitas menjadi prinsip utama.

Karena itu, penggunaan anggaran harus dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan terukur. Analisis terhadap realisasi anggaran membantu menentukan efisiensi program sekaligus menjadi pelajaran untuk pengelolaan keuangan di masa mendatang.

Namun, pembangunan tidak pernah berjalan tanpa tantangan. Oleh sebab itu, perspektif masa lalu juga harus menjawab pertanyaan mengenai masalah apa yang masih dihadapi. Hambatan, kekurangan, ketimpangan, atau program yang belum berhasil harus diungkap secara jujur.

Kesadaran terhadap masalah inilah yang akan menjadi dasar perbaikan dalam tahap pembangunan berikutnya.

Di sisi lain, perspektif masa depan menjadi arah dan orientasi pembangunan.

Jika perspektif masa lalu berbicara tentang evaluasi, maka perspektif masa depan berbicara tentang visi. Pertanyaan pertama yang muncul adalah: apa yang akan dicapai? Pada tahap ini, pembangunan dirancang berdasarkan target-target yang ingin diwujudkan di masa depan, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, maupun kesejahteraan sosial.

Setelah tujuan ditetapkan, dokumen perencanaan harus menjelaskan apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di sinilah strategi, program prioritas, dan langkah-langkah kebijakan dirumuskan.

Perencanaan yang baik tidak hanya memiliki visi besar, tetapi juga memiliki peta jalan yang jelas mengenai bagaimana visi tersebut dapat diwujudkan.

Perspektif masa depan juga berkaitan dengan perhitungan berapa anggaran yang dibutuhkan. Setiap rencana pembangunan memerlukan dukungan sumber daya yang memadai.

Karena itu, estimasi kebutuhan anggaran harus disusun secara rasional dan terukur agar program yang direncanakan dapat dilaksanakan secara efektif.

Yang paling penting, perspektif masa depan harus menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang masih dihadapi.

Perencanaan pembangunan sejatinya bukan sekadar menyusun target, tetapi menghadirkan jawaban terhadap tantangan masyarakat. Solusi tersebut dapat berupa inovasi kebijakan, pendekatan pembangunan yang lebih inklusif, penggunaan teknologi, penguatan kelembagaan, maupun peningkatan partisipasi masyarakat.

Dengan demikian, dokumen perencanaan pembangunan pada hakikatnya merupakan perpaduan antara refleksi dan proyeksi. Ia melihat ke belakang untuk belajar dari pengalaman, sekaligus melihat ke depan untuk membangun harapan. Tanpa evaluasi masa lalu, pembangunan akan kehilangan pijakan. S

ebaliknya, tanpa visi masa depan, pembangunan akan kehilangan arah.

Karena itu, perencanaan pembangunan yang berkualitas harus mampu menjaga keseimbangan antara keduanya: belajar dari apa yang telah terjadi dan merancang apa yang ingin diwujudkan. Dari sanalah pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan, adaptif, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.