Romo Warno dan Kreativitas IKA Unhas yang Diidamkan

  • Whatsapp
Happy touring, Romo! (dok: Batom Domino PP IKA Unhas)

Di mata penulis, Suwarno ‘Romo’ Sudirman adalah sosok yang pandai mengubah sikap reaktif menjadi kreatif, diam-diam. Dia tak mengumbar dan melempar buah lobe-lobe di forum alumni, tapi lope-lope. 

PELAKITA.ID – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota dan kerasnya percakapan politik maupun organisasi, selalu ada sosok yang memilih berjalan tenang. Tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa.

Saat artikel ini dibuat pria itu sedang touring bersama kolega dekatnya. Tidak lama setelah pelaksanaan Mubes IKA Unhas yang berjalan sukses.

Dia, yang kita ceritai ini, tidak gemar tampil di depan, namun menjadi tempat orang-orang mencari arah dan kenyamanan.

Di lingkungan alumni Universitas Hasanuddin, sosok itu adalah Suwarno Sudirman—yang akrab disapa Romo Warno.

“Denun, besok saya buru-buru ke pelabuhan,” kata dia tiga hari lalu di Pegasus Coffee.

Moki ke mana?”

“Touring ke Jawa Timur sama tujuh orang teman,” balasnya.

***

Bagi sebagian orang, Romo mungkin dikenal sebagai pengelola Pegasus Coffee di Makassar. Namun bagi banyak alumni Unhas, terutama generasi yang tumbuh dalam kultur persahabatan lintas fakultas dan lintas angkatan, Romo lebih dari sekadar pemilik warkop.

Romo adalah alumni Smansa Makassar angkatan 85, atau empat tahun di atas penulis.

Ia adalah simpul pertemuan. Penjaga suasana. Orang yang membuat percakapan tetap hidup tanpa harus menjadi pusat perhatian.

Sebagai alumni Sosial Ekonomi Pertanian Unhas angkatan 1985, Romo ditempa oleh pengalaman panjang sebagai organisatoris dan aktivis LSM. Kini, di jajaran PP IKA Unhas, ia aktif mengurusi bidang keorganisasian—pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, keluwesan, dan kemampuan merangkul banyak karakter.

Yang membuat Romo istimewa bukan hanya pengalaman organisasinya. Melainkan karakter kreatif yang tumbuh secara alami dalam dirinya.

Kreativitas yang tidak selalu tampil dalam bentuk gagasan bombastis, tetapi hadir dalam cara berpikir, cara memperlakukan orang, dan cara menjaga komunitas tetap hidup.

Sedikitnya, ada lima ciri orang kreatif yang sangat melekat pada karakter Romo Warno.

1. Kreatif Selalu Mampu Menciptakan Ruang Pertemuan

Orang kreatif tidak selalu identik dengan seniman atau pencipta karya visual. Dalam dunia sosial, kreativitas sering hadir dalam kemampuan menciptakan ruang perjumpaan yang sehat.

Romo memahami bahwa ide-ide besar sering lahir dari percakapan santai. Karena itu, tempat-tempat seperti Kopisone, Pegasus, Enreco, hingga Red Corner bukan sekadar lokasi ngopi, melainkan arena bertemunya gagasan, jaringan, dan persaudaraan alumni.

Ia menjadikan suasana cair sebagai medium kolaborasi. Inilah bentuk kreativitas sosial yang jarang dimiliki semua orang.

2. Kreatif Lebih Banyak Mendengar daripada Bicara

Salah satu ciri paling penting dari orang kreatif adalah kemampuan menyerap banyak perspektif. Romo dikenal lebih sering mendengar ketimbang berbicara.

Dalam dunia yang dipenuhi orang ingin tampil paling benar, kemampuan mendengar adalah kecerdasan yang langka. Dari mendengar, seseorang memahami karakter manusia, membaca situasi, dan menemukan solusi yang tidak kaku.

Karena itu, ketika Romo akhirnya berbicara, kalimatnya sering terasa tajam dan mengena. Ia tidak berbicara untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk membuka kesadaran.

3. Kreatif Tidak Kehilangan Kerendahhatian

Banyak orang mengira kreativitas lahir dari ego besar. Padahal kreativitas yang matang justru tumbuh dari kerendahhatian.

Romo adalah tipikal orang Bugis yang memahami makna passompe—tradisi merantau yang mengajarkan adaptasi, ketangguhan, dan penghormatan kepada sesama. Ia tidak sibuk membangun citra, meski memiliki pengalaman organisasi yang panjang.

Kerendahhatian itulah yang membuat banyak orang nyaman berada di dekatnya. Orang kreatif sejati memang tidak merasa perlu menjadi pusat panggung setiap waktu.

4. Kreatif Selalu Menjaga Energi Muda

Di usia yang tidak lagi muda, Romo tetap aktif touring motor bersama kolega IKA Smansa 85 Makassar. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya hobi. Namun sesungguhnya, kemampuan menjaga semangat muda adalah bagian penting dari kreativitas.

Orang kreatif tidak membiarkan dirinya membeku oleh umur atau rutinitas. Mereka terus mencari pengalaman baru, menikmati perjalanan, membangun jejaring pertemanan, dan menjaga rasa ingin tahu terhadap hidup.

Touring bagi Romo bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi simbol kebebasan berpikir dan persahabatan yang terus bergerak.

5. Kreatif Mampu Menyatukan Banyak Karakter

Organisasi alumni sering diisi banyak ego, latar belakang, dan kepentingan. Di titik inilah kreativitas sosial diuji.

Romo memiliki kemampuan merangkul banyak orang tanpa membuat suasana menjadi tegang. Ia memahami bahwa organisasi yang sehat tidak dibangun hanya dengan aturan, tetapi dengan rasa nyaman dan saling menghargai.

Kemampuan menjaga “spirit kolaborasi riang gembira” ala IKA Unhas adalah bentuk kreativitas yang sangat bernilai. Sebab menyatukan manusia jauh lebih sulit daripada sekadar menyusun program kerja.

Pada akhirnya, Romo Warno memperlihatkan bahwa kreativitas tidak selalu harus tampil gemerlap.

Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: kemampuan menjaga persahabatan, membangun ruang dialog, mendengar dengan tulus, dan membuat orang lain merasa dihargai.

Justru tipe kreativitas seperti itulah yang paling dibutuhkan IKA Unhas hari ini—kreativitas yang memanusiakan organisasi.

Saya membayangkan Romo Warno akan geram saat membaca artikel ini. “Sambarang tong kau Nuntung,” serunya.

__
Denun, Tamarunang, 9 Mei 2026