Pekan lalu, dia nampak riang gembira di antara peserta Kompetisi Domino yang digelar Batom Domino IKA Unhas demi perayaan Mubes IKA Unhas. Dia berpasangan WR 1 Unhas, Prof Ruslin dan berbagi skor 1-1 dengan penulis. Porei!
PELAKITA.ID – Di Kota Makassar, politik sering lahir dari ruang-ruang yang sederhana: percakapan di warung kopi, obrolan di pelataran masjid, hingga sapaan hangat di lorong-lorong kota.
Dari ruang sosial seperti itulah nama Syamsul Rizal atau yang akrab disapa “Daeng Ical” tumbuh menjadi salah satu figur politik yang dikenal luas oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
Ia bukan tipe politisi yang membangun jarak dengan rakyat. Karakternya cair, komunikatif, dan dekat dengan denyut keseharian warga. Barangkali itulah sebabnya Daeng Ical selalu mudah diterima di banyak lapisan masyarakat Makassar. Politik baginya bukan sekadar ruang kekuasaan, melainkan ruang menjaga hubungan antarmanusia.
Perjalanan politiknya semakin menonjol ketika mendampingi Moh Ramdhan Pomanto sebagai Wakil Wali Kota Makassar periode 2014–2019. Masa itu menjadi fase penting transformasi Makassar menuju kota metropolitan modern di kawasan timur Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Danny Pomanto dan Daeng Ical, Makassar bergerak cepat membangun identitas baru sebagai kota terbuka, dinamis, dan berorientasi global.

Penataan ruang publik dilakukan secara masif, lorong-lorong kota disentuh pembangunan berbasis masyarakat, pelayanan publik diperkuat melalui inovasi pemerintahan, dan konsep “Makassar Kota Dunia” mulai diperkenalkan sebagai arah pembangunan jangka panjang.
Makassar perlahan berubah menjadi simpul ekonomi baru di Indonesia Timur—kota pelabuhan yang bukan hanya ramai oleh perdagangan, tetapi juga tumbuh sebagai pusat jasa, investasi, pendidikan, dan pergerakan manusia dari berbagai wilayah Nusantara.
Di tengah transformasi itu, Daeng Ical memainkan peran penting sebagai jembatan sosial-politik.
Ia aktif menjaga komunikasi lintas kelompok masyarakat, mulai dari komunitas pemuda, organisasi keagamaan, aktivis sosial, hingga pelaku usaha lokal.
Ia memahami bahwa modernisasi kota tidak boleh memutus hubungan emosional antara pemerintah dan rakyatnya.
Namun perjalanan Daeng Ical tidak berhenti di panggung politik lokal. Kini, sebagai anggota DPR RI dan bagian dari Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, hubungan luar negeri, komunikasi, dan intelijen, perannya memasuki dimensi yang lebih luas: konteks nasional dan global.
Di level ini, Daeng Ical tidak lagi hanya berbicara tentang pembangunan kota, tetapi juga tentang posisi Indonesia di tengah dinamika dunia yang terus berubah. Komisi I DPR RI merupakan salah satu komisi strategis yang berkaitan langsung dengan diplomasi internasional, geopolitik kawasan, keamanan nasional, hingga hubungan antarnegara.

Dalam konteks global yang penuh ketegangan geopolitik, konflik kawasan, persaingan ekonomi dunia, dan transformasi digital internasional, kehadiran figur dari daerah seperti Daeng Ical memiliki makna tersendiri.
Ia membawa perspektif Indonesia Timur ke dalam ruang-ruang pengambilan kebijakan nasional. Pengalaman sosial-politiknya di Makassar memberinya pemahaman bahwa hubungan internasional pada akhirnya harus tetap bermuara pada kesejahteraan masyarakat lokal.
Peran tersebut menjadi penting ketika Indonesia semakin aktif memainkan posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Diplomasi Indonesia hari ini tidak hanya berbicara soal hubungan antarnegara, tetapi juga mengenai ketahanan pangan, ekonomi maritim, keamanan kawasan, migrasi tenaga kerja, hingga peluang investasi global yang berdampak langsung ke daerah-daerah seperti Sulawesi Selatan.
Di titik itulah perjalanan Daeng Ical menjadi menarik: seorang figur yang tumbuh dari lorong-lorong Makassar kini ikut berada di ruang percakapan global Indonesia.
Putra Selayar ini membawa pengalaman lokal ke level nasional, sekaligus mencoba memastikan bahwa arah kebijakan luar negeri dan hubungan internasional tetap memiliki relevansi bagi masyarakat daerah.
Warisan politik Daeng Ical mungkin bukan hanya soal jabatan atau pembangunan fisik semata. Dia selalu nampak riang gembira, selalu ada di mana-mana saja, di kalangan kaum muda, kanak-kanan, orang dewasa hingga generasi tahun 60-an.
Legacy terbesarnya adalah kemampuannya menjaga politik tetap membumi di tengah dunia yang semakin kompleks dan global.
Bahwa dari kota pelabuhan seperti Makassar, ber-DNA ‘tu ha’le’, seorang politisi bisa belajar memahami dunia—tanpa kehilangan kedekatannya dengan rakyat kecil di lorong-lorong kota.
__
Denun, Tamarunang, 9 April 2026









