Judy Rahardjo: Ada Paradoks Gaya Hidup pada Isu Kesehatan di Wilayah Urban

  • Whatsapp
Aktivis NGO Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sulawesi Selatan, Judy Rahardjo (ujung kanan) saat memberi masukan pada perancangan penyusunan buku Probelamtika Kesehatan Warga Urban Kota Makassar (dok: Pelakita.ID)
  • Tren minuman rempah di warung kopi yang tampak sehat dan tradisional, tetapi bersanding dengan konsumsi gula berlebihan.
  • Jika dilihat dari perspektif antropologi dan sejarah, gula adalah warisan kolonial. Perkebunan tebu, industri gula, dan pola konsumsi yang diwariskan telah menciptakan kecanduan, terutama pada anak-anak.

PELAKITA.ID – Judy Rahardjo, alumni Komunikasi Unhas angkatan 1985 dan berpengalaman di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sulawesi Selatan menyebut jika mengupas pengalaman panjang dalam isu kesehatan—kita akan sampai pada satu benang merah: isu kesehatan telah lama menjadi ruang pergulatan, terutama ketika bersinggungan dengan perempuan dan kesehatan reproduksi.

”Pada masa-masa awal, isu ini bahkan mulai mendapat tempat dalam agenda global. Namun kebijakan yang berjalan kala itu sangat sempit,” ucap Judy pada acara Ngopi Bareng Judy Rahardjo dan Sudirman Nasional ‘Problematika Kesehatan Masyarakat Urban’ yang digelar oleh Pelakita.ID kerja sama FKM Universitas Hasanuddin, di Cafe Red Corner, 15 Februari 2026.

Dikatakan, perempuan diposisikan sebatas objek program, misalnya dengan kewajiban penggunaan alat kontrasepsi seperti spiral, bahkan dalam praktiknya sering disertai pendekatan represif, termasuk keterlibatan militer.

Menurutnya, perspektif hak asasi manusia memang mulai masuk, tetapi sudut pandang perempuan belum seperti sekarang—belum inklusif, belum memandang perempuan sebagai subjek penuh.

”Perempuan hanya diperlakukan sebagai bagian kecil dari skema pembangunan, sering kali dibingkai dalam narasi domestik semata, seperti melalui peran “ibu-ibu”.” sebutnya.

Saat ini, ujar Judy, fokus advokasi bergeser pada isu kesehatan yang juga berdampak luas, salah satunya adalah soal minuman berpemanis.

”Kami sedang mendorong advokasi cukai minuman berpemanis, seiring meningkatnya kasus diabetes. Secara konsep, cukai ini mirip dengan cukai rokok—berbeda dari pajak biasa—di mana dana yang dihimpun seharusnya dikembalikan untuk kepentingan kesehatan publik,” kata dia.

Seperti halnya cukai rokok yang idealnya dialokasikan untuk promosi kesehatan, pengobatan penyakit paru-paru, atau mendukung petani tembakau, cukai minuman berpemanis pun seharusnya diarahkan untuk pencegahan dan penanganan diabetes.

”Apalagi, kelompok yang terdampak bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Konsumsi gula berlebih telah menjadi masalah serius, sementara informasi pada kemasan sering kali tidak cukup jelas bagi konsumen,” sebutnya.

”Banyak orang tidak benar-benar memahami berapa takaran gula yang dianjurkan,” tegasnya.

Menariknya, lanjut Judy, dorongan cukai ini sudah mulai menunjukkan dampak. Beberapa produsen minuman—terutama minuman berkarbonasi—telah menurunkan kadar gula dan mulai menggunakan label seperti less sugar. Secara teknis ini langkah positif, meski tentu belum cukup.

Namun, bagi Judy, yang lebih penting adalah memperluas cara pandang ilmu kesehatan itu sendiri.

“Ilmu kesehatan tidak boleh berhenti pada aspek klinis. Ia harus dilihat secara lintas disiplin. Saya teringat diskusi tentang nasionalisme dan sejarah pendidikan kedokteran—misalnya sekolah kedokteran yang didirikan pada masa kolonial Belanda, tetapi justru melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional,” sebutnya.

”Bahkan partai politik pertama di Indonesia didirikan oleh seorang dokter. Ini menunjukkan bahwa kesehatan selalu berkelindan dengan politik, sejarah, dan kesadaran sosial,” tambahnya.

Menurutnya, pertanyaan pentingnya: apakah ilmu kesehatan turut berkontribusi dalam perencanaan kota?

Mengapa di ruang-ruang tertentu konflik sosial seperti tawuran mudah terjadi?

Apakah ini semata persoalan sosial, atau ada kaitannya dengan kesehatan mental, lingkungan fisik, dan kualitas ruang hidup? Permukiman padat tanpa ventilasi, ruang kumuh tanpa udara sehat—ini bukan hanya soal bakteri dan virus, tetapi juga soal martabat hidup manusia.

Paradoks gaya hidup

Judy menilai, di sisi lain, ada paradoks gaya hidup di wilayah perkotaan. Misalnya, tren minuman rempah di warung kopi yang tampak sehat dan tradisional, tetapi bersanding dengan konsumsi gula berlebihan.

”Gula sendiri, jika dilihat dari perspektif antropologi dan sejarah, adalah warisan kolonial. Perkebunan tebu, industri gula, dan pola konsumsi yang diwariskan telah menciptakan kecanduan, terutama pada anak-anak. Kita bisa melihatnya dengan mudah—anak-anak sangat menyukai makanan dan minuman manis karena gula memang bersifat adiktif,” ungkapnya.

Ditambahkan, kajian kesehatan semestinya juga masuk ke wilayah sejarah perkotaan dan politik ekonomi.

”Mengapa industri farmasi begitu kuat? Mengapa banyak klinik dan dokter menggunakan obat yang sama dari jaringan apotek yang sama? Di sini, kesehatan bertaut erat dengan kebijakan, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi,” imbuh Judy.

Karena itu, sebut Judy, menulis tentang kesehatan seharusnya tidak dibatasi oleh disiplin tertentu.

”Ia bisa ditulis dari perspektif antropologi, sosiologi, ilmu politik, ekonomi, wilayah, bahkan sejarah lokal.” lanjutnya.

”Misalnya, siapa yang mempromosikan kesehatan di Makassar pada masa kolonial? Wabah apa yang pernah terjadi di kerajaan-kerajaan Makassar? Apakah kita bisa belajar dari migrasi besar seperti migrasi Wajo dan dampaknya terhadap penyebaran penyakit?” tanya Judy.

Baginya, semua itu memang membutuhkan penelitian serius. Tetapi arah besarnya jelas: kesehatan harus dipahami dari banyak sudut, hingga ke hal-hal yang sangat teknis sekalipun—seperti rumah-rumah baru yang dibangun developer tanpa ventilasi yang memadai.

”Jika tulisan ini nantinya dibaca oleh wali kota atau anggota dewan, maka pendekatannya memang harus luas dan reflektif. Kita perlu bertanya: bagaimana perspektif komisi yang membidangi kesehatan?” tanya dia.

“Apa yang mereka bicarakan saat reses? Apakah isu kesehatan benar-benar dipahami secara utuh atau hanya sebatas urusan teknis?” ucapnya.

”Itulah sebabnya, bagi saya, kesehatan adalah ruang dialog lintas disiplin, lintas kebijakan, dan lintas sejarah,” kunci Judy.

Redaksi