Dua Sosok “Klaners” di Puncak Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan

  • Whatsapp

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membangun rasa superioritas disiplin tertentu. Justru sebaliknya, ia ingin menegaskan bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah permukaan: sebuah upaya lama, bahkan bisa disebut cita-cita sunyi, untuk menempatkan Ilmu Kelautan sebagai arus utama dalam pembangunan akademik dan nasional.

PELAKITA.ID – Hampir tiga dekade terakhir, kepemimpinan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan—baik yang menggunakan nomenklatur FIKP maupun FPIK—lebih sering dipegang oleh alumni dari disiplin Ilmu Perikanan.

Itu bukan hal yang keliru, melainkan cermin sejarah perkembangan keilmuan di Indonesia, ketika perikanan menjadi pintu masuk utama bagi pengelolaan sumber daya laut. Ada dinamika menarik yang mulai tampak dalam beberapa tahun terakhir.

Dua kampus utama kelautan dan perikanan di Indonesia—Universitas Hasanuddin dan IPB University—kini dipimpin oleh dekan yang sama-sama berlatar belakang disiplin Ilmu Kelautan.

Di Universitas Hasanuddin, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) kini dipimpin oleh Prof. Dr. Mahatma Lanuru, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan angkatan 1989.

Sementara di IPB University, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) berada di bawah kepemimpinan Dr. Beginer Subhan, akademisi kelautan yang juga tumbuh dari tradisi Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Pertemuan dua “klaners”—sebutan akrab penulis bagi mereka yang berasal dari disiplin kelautan—di puncak kepemimpinan fakultas bukan sekadar kebetulan administratif, melainkan penanda zaman yang patut dibaca dengan jernih.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membangun rasa superioritas disiplin tertentu.

Justru sebaliknya, ia ingin menegaskan bahwa ada sesuatu yang sedang bergerak di bawah permukaan: sebuah upaya lama, bahkan bisa disebut cita-cita sunyi, untuk menempatkan Ilmu Kelautan sebagai arus utama dalam pembangunan akademik dan nasional.

Sebuah keyakinan bahwa laut tidak boleh hanya hadir sebagai sumber daya, tetapi sebagai sistem kehidupan, ruang budaya, dan fondasi masa depan bangsa maritim Indonesia.

Mahatma Lanuru dan Laut sebagai Sistem yang Bergerak

Prof. Mahatma Lanuru tumbuh sebagai akademisi kelautan dengan fondasi kuat pada teknik dan sains laut.

Kepakarannya di bidang oseanografi dan dinamika sedimen menempatkannya pada disiplin yang menjelaskan bagaimana laut bekerja secara fisik: arus, gelombang, sedimentasi, dan perubahan bentang pesisir.

Dalam perspektif ini, laut bukan ruang statis, melainkan sistem dinamis yang terus bergerak dan memengaruhi kehidupan manusia di sekitarnya.

Kontribusi keilmuannya relevan langsung dengan persoalan-persoalan kebangsaan: abrasi pantai, perubahan garis pantai, mitigasi bencana, hingga perencanaan wilayah pesisir.

Ketika ia dipercaya sebagai Dekan FIKP Unhas periode 2025–2029, Mahatma Lanuru membawa pengalaman ilmiah itu ke ranah kepemimpinan akademik.

Ia memimpin fakultas yang strategis bagi Indonesia timur, dengan visi memperkuat mutu akademik sekaligus memastikan riset dan pendidikan kelautan tidak terputus dari realitas pesisir dan kebutuhan masyarakat.

Dalam sosok Mahatma Lanuru, Ilmu Kelautan hadir sebagai disiplin yang menawarkan ketahanan ruang—kemampuan bangsa ini memahami, mengelola, dan bertahan di wilayah pesisir yang terus berubah.

Beginer Subhan dan Laut sebagai Ruang Kehidupan

Sementara itu, Beginer Subhan merepresentasikan wajah lain dari Ilmu Kelautan. Berangkat dari biologi laut dan ekologi pesisir, ia memandang laut sebagai ruang kehidupan yang rapuh namun menentukan. Seingat penulis,

Beginer adalah bagian dari generasi awal yang aktif mendorong konservasi terumbu karang, termasuk di Bali, Pemuteran—sebuah pengalaman lapangan yang membentuk pandangannya tentang pentingnya merawat laut dari hulu pengetahuan hingga hilir kebijakan.

Spesialisasinya pada terumbu karang, keanekaragaman hayati, genetika molekuler, hingga pendekatan mutakhir seperti eDNA, menunjukkan wajah Ilmu Kelautan yang berpihak pada keberlanjutan dan etika ekologis.

Sebagai scientific diver, ia menggabungkan ketelitian akademik dengan pengalaman langsung di bawah permukaan laut—tempat data ilmiah dan realitas ekologis bertemu tanpa sekat.

Sebagai Dekan FPIK IPB University, Beginer Subhan tidak hanya mengelola institusi, tetapi juga merawat visi besar: menjadikan pendidikan dan riset kelautan sebagai kekuatan strategis bangsa maritim.

Di tangannya, Ilmu Kelautan tampil sebagai disiplin yang tidak berhenti di jurnal, melainkan hadir untuk menjaga laut, manusia, dan masa depan bersama.

Bertemunya Dua Arah, Satu Agenda

Bertemunya Mahatma Lanuru dan Beginer Subhan di puncak kepemimpinan fakultas kelautan dan perikanan sesungguhnya adalah pertemuan dua pendekatan Ilmu Kelautan yang saling melengkapi.

Yang satu menekankan dinamika fisik dan ketahanan ruang, yang lain menegaskan keberlanjutan ekologis dan etika perawatan laut.

Keduanya bertemu pada satu agenda besar: menjadikan Ilmu Kelautan relevan, berdaya guna, dan mampu membentuk literasi bangsa.

Di sinilah Ilmu Kelautan sedang diuji. Bukan hanya untuk eksis secara institusional, tetapi untuk memberikan layanan maksimum bagi kesadaran publik dan arah pembangunan nasional.

Jika pertemuan dua “klaners” ini mampu melahirkan kolaborasi gagasan, maka Ilmu Kelautan berpeluang keluar dari pinggiran dan menempatkan dirinya sebagai pusat narasi bangsa maritim Indonesia—bukan sebagai romantisme, melainkan sebagai agenda perubahan yang nyata dan terukur.

___
Makassar, 5 Januari 2026