PELAKITA.ID – Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Di wilayah pesisir, dampaknya sudah dapat dilihat secara langsung, salah satunya melalui abrasi pantai yang terus mengubah garis pantai.
Fenomena itu menjadi ancaman nyata bagi masyarakat pesisir, termasuk petani rumput laut dan pembudidaya perikanan.
Dalam diskusi lapangan bersama wartawan, Kepala Pusat Kebencanaan Universitas Hasanuddin, Ilham Alimuddin, S.T., M.GIS., Ph.D, menjelaskan bahwa abrasi pantai merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang paling mudah diamati di wilayah pesisir.
Menurutnya, perubahan garis pantai sangat dipengaruhi oleh dinamika laut atau hidrodinamika, yang mencakup arus laut, pasang surut, tekanan angin, serta faktor cuaca ekstrem.
“Perubahan garis pantai itu sangat ditentukan oleh hidrodinamika pantai. Arus laut, pasang surut, tekanan angin, hingga curah hujan yang tinggi dapat memperkuat proses abrasi,” jelas Ilham.
Ketika faktor-faktor tersebut terjadi bersamaan, energi gelombang laut yang menghantam daratan menjadi semakin kuat. Kondisi ini menyebabkan garis pantai terus terkikis, terutama di wilayah pesisir yang rentan.
Di beberapa lokasi, tanda-tanda abrasi bahkan dapat dilihat dengan jelas melalui tanggul-tanggul sederhana yang dibangun masyarakat setempat untuk menahan gelombang laut. Namun, Ilham mengingatkan bahwa upaya tersebut sering kali bersifat sementara.
“Tanggul yang dibuat masyarakat memang membantu, tetapi kalau hanya bersifat sementara biasanya dua atau tiga tahun kemudian bisa rusak lagi karena terus digerus arus laut,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah perlu memperhitungkan pembangunan struktur perlindungan pantai yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Mitigasi dan Adaptasi
Dalam pengelolaan risiko bencana pesisir, Ilham menjelaskan bahwa terdapat dua pendekatan utama yang dapat dilakukan, yaitu mitigasi dan adaptasi.
Mitigasi sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural. Mitigasi struktural mencakup pembangunan infrastruktur fisik seperti tembok penahan ombak, tanggul pantai, atau seawall untuk melindungi daratan dari hantaman gelombang laut.
Namun pembangunan struktur ini membutuhkan investasi besar agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Kalau hanya dibangun secara sementara, biasanya beberapa tahun kemudian rusak lagi. Karena itu diperlukan perencanaan dan investasi yang lebih kuat agar perlindungan pantai bisa lebih tahan lama,” kata Ilham.
Sementara itu, mitigasi non-struktural lebih menekankan pada upaya sosial dan lingkungan, seperti edukasi masyarakat, peningkatan literasi kebencanaan, serta rehabilitasi ekosistem pesisir.
Penanaman vegetasi pantai seperti mangrove sering disebut sebagai salah satu solusi alami untuk meredam energi gelombang laut. Namun Ilham menegaskan bahwa tidak semua wilayah pantai cocok untuk ditanami mangrove.
“Karakter setiap pantai berbeda. Ada pantai yang cocok untuk mangrove, ada juga yang tidak. Karena itu solusi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat,” ujarnya.
Adaptasi dari Masyarakat Pesisir
Selain mitigasi, masyarakat pesisir juga mengembangkan berbagai bentuk adaptasi untuk menghadapi perubahan lingkungan.
Salah satu contohnya dapat dilihat pada praktik budidaya rumput laut. Dalam kondisi cuaca ekstrem atau curah hujan tinggi, sebagian petani menggunakan jaring tambahan atau waring pada tali budidaya agar rumput laut tidak lepas atau hanyut terbawa arus.
Menurut Ilham, inovasi sederhana seperti ini merupakan bentuk adaptasi lokal yang lahir dari pengalaman masyarakat sendiri.
“Ini contoh adaptasi yang sangat menarik. Masyarakat belajar dari kondisi lingkungan yang berubah, lalu menemukan cara untuk menyesuaikan diri,” katanya.
Ia menilai praktik-praktik lokal seperti ini penting untuk dikaji lebih lanjut oleh para peneliti dan pengambil kebijakan agar dapat dikembangkan menjadi solusi yang lebih luas.
Pentingnya Literasi Kebencanaan
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, literasi kebencanaan bagi masyarakat pesisir menjadi semakin penting.
Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko, baik melalui mitigasi maupun adaptasi.
“Yang penting tidak hanya melihat dampaknya, tetapi juga mencari solusi yang bisa diterapkan sesuai dengan kondisi lokal,” ujar Ilham.
Melalui pemahaman yang lebih baik tentang abrasi dan perubahan garis pantai, diharapkan masyarakat, pemerintah, dan para peneliti dapat bekerja bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir Indonesia.
Redaksi









