Dari Gowa untuk Indonesia: Dialog Kebangsaan, Jejaring Alumni, dan Kegelisahan tentang Masa Depan Bangsa

  • Whatsapp
Lebih dari sekadar agenda diskusi formal, acara ini menghadirkan kesan mendalam tentang bagaimana jejaring intelektual alumni masih hidup dan bekerja menjaga kesadaran kebangsaan di tengah perubahan zaman.

PELAKITA.ID – Di tengah situasi global yang semakin tidak menentu, ruang-ruang dialog publik menjadi semakin penting.

Dunia bergerak cepat: rivalitas geopolitik antarnegara besar menguat, perang informasi meluas ke ruang digital, dan perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja, berpikir, bahkan membangun opini politik.

Dalam konteks itulah IKA Unhas Gowa menggelar Dialog Kebangsaan bertema “Gejolak Geopolitik Global dan Dampaknya terhadap Kedaulatan dan Pertahanan Negara” di Kedai Dewi, Sungguminasa.

Forum yang juga disiarkan oleh Radio Rewako FM tersebut menghadirkan Syamsu Rizal dan Adi Suryadi Culla sebagai narasumber.

Lebih dari sekadar agenda diskusi formal, acara ini menghadirkan kesan mendalam tentang bagaimana jejaring intelektual alumni masih hidup dan bekerja menjaga kesadaran kebangsaan di tengah perubahan zaman.

Dialog Kebangsaan dan Kekuatan Jejaring Alumni

Kesan pertama yang sangat terasa dari forum ini adalah betapa kuatnya jejaring alumni Universitas Hasanuddin, khususnya dari lingkungan FISIP Unhas. Alumni dari berbagai generasi hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai simpul penghubung gagasan, pengalaman, dan semangat kebangsaan.

Suasana diskusi terasa hangat, cair, tetapi tetap sarat refleksi intelektual. Forum tidak berhenti pada pembahasan teoritis tentang geopolitik global, melainkan menyentuh kegelisahan nyata tentang masa depan Indonesia di tengah perubahan dunia yang semakin cepat dan kompleks.

Atmosfer kekeluargaan juga begitu terasa. Ketua IKA Unhas Gowa, Irwansyah Sukarana, melontarkan satu kalimat sederhana yang justru terasa paling membekas: “Denun, pesanmaki, apa saja.”

Kalimat pendek itu menghadirkan nuansa persaudaraan khas Bugis-Makassar yang sulit dijelaskan hanya dengan bahasa formal. Ada rasa saling membuka ruang, saling menopang, dan saling percaya di antara sesama alumni.

Di forum seperti inilah terlihat bahwa jaringan alumni bukan hanya soal nostalgia kampus, tetapi juga tentang solidaritas sosial dan intelektual dalam menjaga kesadaran kebangsaan.

Geopolitik, Kedaulatan, dan Ancaman Disrupsi Baru

Dialog tersebut menghasilkan satu kesadaran penting: ancaman terhadap bangsa hari ini tidak lagi hadir hanya dalam bentuk agresi militer atau sengketa wilayah, tetapi juga melalui perang informasi, pengaruh teknologi, manipulasi opini publik, hingga intervensi ekonomi dan digital.

Daeng Ical, anggota DPR RI dari Komisi I Fraksi PKB menyebut Indonesia dipandang sedang berada dalam pusaran rivalitas global yang semakin kompleks.

Asia Tenggara menjadi kawasan strategis perebutan pengaruh kekuatan besar dunia, sementara perkembangan teknologi digital menghadirkan ancaman baru yang sering kali tidak kasatmata.

Dalam forum itu, para narasumber yaitu Dr Adi Suryadi Culla dan Daeng Ical, menegaskan pentingnya menjaga prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif agar Indonesia tidak terseret menjadi alat kepentingan negara lain.

Kedaulatan bangsa harus tetap menjadi prioritas utama di tengah keterbukaan kerja sama internasional.

Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran generasi muda terhadap ancaman modern seperti artificial intelligence, manipulasi data, perang siber, dan disrupsi sosial-politik berbasis teknologi digital.

Para peserta diskusi (dok: Pelakita.ID)

Menuju Dialog Lanjutan: AI dan Masa Depan NKRI

Menariknya, percakapan ternyata tidak berhenti setelah dialog selesai. Justru muncul gagasan tindak lanjut untuk menggelar forum kedua dengan tema yang jauh lebih futuristik sekaligus mengkhawatirkan: “Magic AI dan Ancaman Disrupsi Sosial Politik NKRI.”

Tema ini terasa sangat relevan dengan situasi hari ini. Kecerdasan buatan tidak lagi sekadar alat bantu teknologi, tetapi mulai menjadi kekuatan baru yang mampu memengaruhi demokrasi, perilaku sosial, hingga stabilitas politik.

Disinformasi berbasis AI, manipulasi opini publik, perang algoritma, dan semakin kaburnya batas antara fakta dan rekayasa digital menjadi tantangan serius bagi negara-negara modern, termasuk Indonesia.

Karena itu, forum seperti yang digelar IKA Unhas Gowa menjadi penting bukan hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai ruang menjaga kesadaran kolektif bangsa.

Di tengah banjir informasi dan percepatan teknologi, masyarakat membutuhkan ruang untuk berpikir lebih dalam tentang arah Indonesia ke depan.

Dialog kebangsaan semacam ini memperlihatkan bahwa menjaga Indonesia tidak hanya dilakukan di ruang kekuasaan atau institusi negara.

Ia dimulai dari ruang-ruang sederhana: kedai kopi, forum alumni, percakapan intelektual, dan keberanian untuk terus mempertanyakan masa depan bangsa.

Dari Gowa, percakapan kecil itu sedang menyalakan kembali kesadaran besar tentang pentingnya menjaga kedaulatan, identitas, dan martabat Indonesia di tengah dunia yang terus berubah.

___
Denun, 9 Mei 2026