Orang Dekat: Kekuasaan Sunyi di Balik Panggung

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh: Mustamin Raga
(Penulis Buku Nepotisme*)*

PELAKITA.ID – Ada jabatan yang tidak pernah tertulis dalam struktur organisasi, tidak diumumkan dalam surat keputusan, dan tidak memiliki ruang kerja resmi.

Dalam praktik kekuasaan, posisinya sering kali jauh lebih menentukan dibanding mereka yang duduk di kursi formal. Jabatan itu bernama: orang dekat.

Ia tidak selalu hadir dalam rapat. Tidak selalu memiliki tanda pengenal kekuasaan. Namanya mungkin tidak pernah muncul dalam notulensi. Tetapi pengaruhnya hidup di ruang-ruang sunyi—mengalir melalui kedekatan, menetap lewat kepercayaan, lalu perlahan ikut menentukan arah keputusan.

Dalam banyak kekuasaan, orang dekat adalah arsitek yang bekerja tanpa panggung. Ia pembisik, penafsir situasi, sekaligus penyaring informasi. Dari mulutnya, seseorang bisa diangkat ke posisi terhormat.

Dari bisikannya pula, seseorang dapat disingkirkan tanpa pernah tahu kesalahan apa yang sebenarnya dituduhkan kepadanya.

Di titik inilah kekuasaan menjadi sangat senyap, tetapi juga sangat berbahaya.

Sebab tidak ada mekanisme resmi yang bisa memeriksa bisikan. Tidak ada sidang yang menguji motif di balik rekomendasi. Tidak ada notulensi untuk percakapan yang berlangsung di ruang privat. Semua bergerak di wilayah abu-abu antara loyalitas dan kepentingan.

Kedekatan, yang awalnya lahir dari kepercayaan, perlahan dapat berubah menjadi alat pengaruh. Yang tidak satu lingkaran mulai tersisih. Yang tidak cukup dekat perlahan kehilangan akses. Bukan semata karena tidak layak, tetapi karena tidak berada dalam orbit yang sama.

Maka keputusan pun mulai kehilangan kejernihan.

Ia tampak logis di atas meja rapat, tetapi janggal ketika dijalankan. Terlihat rapi dalam dokumen, tetapi pincang di lapangan. Karena keputusan itu tidak lahir dari pandangan yang luas, melainkan dari gema suara yang terus berulang dalam lingkaran kecil orang-orang dekat.

Di sini, yang diuji sebenarnya bukan orang dekat, melainkan pemimpinnya.

Seorang pemimpin sejatinya tidak diukur dari banyaknya orang yang ingin mendekat, tetapi dari kemampuannya menjaga kejernihan di tengah kedekatan itu. Sebab kedekatan tanpa keteguhan berpikir akan melahirkan ketergantungan. Dan ketergantungan adalah pintu masuk manipulasi.

Pemimpin yang sehat harus tetap memiliki kompasnya sendiri: nilai, pengetahuan, pengalaman, serta keberanian untuk meragukan bahkan orang yang paling dipercayainya sekalipun. Ia harus mau mendengar tanpa kehilangan kendali. Terbuka tanpa menjadi mudah diarahkan. Karena ketika semua pertimbangan diserahkan kepada orang dekat, maka yang terjadi bukan lagi kepemimpinan, melainkan penyerahan diam-diam atas independensi berpikir.

Ironisnya, lingkar kedekatan itu sering kali tetap dipertahankan meski dampaknya mulai terasa. Bukan karena tidak disadari, tetapi karena sudah terlalu dibutuhkan. Dari sinilah lahir rantai yang sulit diputus: kedekatan melahirkan pengaruh, pengaruh melahirkan ketergantungan, dan ketergantungan perlahan menutup pintu bagi suara-suara lain yang mungkin lebih jujur.

Padahal pertanyaan paling penting sesungguhnya sederhana: apakah orang dekat mendekatkan seorang pemimpin pada kebenaran, atau justru menjauhkannya?

Karena orang dekat yang baik bukanlah mereka yang selalu membenarkan. Bukan pula mereka yang terus membuat pemimpin merasa benar. Orang dekat yang sehat justru adalah mereka yang berani menyampaikan hal-hal yang tidak nyaman, yang tidak menjual informasi demi kepentingan pribadi, dan yang tidak menggunakan kedekatan untuk mengatur nasib orang lain secara sepihak.

Sayangnya, tipe seperti ini justru jarang dicari.

Yang lebih sering diinginkan adalah mereka yang menyenangkan telinga. Yang selalu menguatkan ego. Yang menghadirkan rasa nyaman. Dan ketika kenyamanan lebih penting daripada kejujuran, maka keputusan tidak lagi menjadi alat pelayanan, melainkan sarana mempertahankan lingkar pengaruh.

Pada akhirnya, orang dekat hanyalah cermin. Ia memantulkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang yang ia dekati. Jika yang dicari adalah kebenaran, maka kedekatan akan melahirkan kejujuran. Tetapi jika yang dicari adalah pembenaran, maka kedekatan hanya akan menjadi ruang aman bagi manipulasi yang dibungkus loyalitas.

Karena itu, persoalan tentang orang dekat sesungguhnya bukan sekadar soal siapa yang berada di sekitar kekuasaan. Persoalannya adalah siapa yang memberi ruang bagi kedekatan itu tumbuh tanpa batas.

Sebab dalam kekuasaan, tidak semua yang dekat itu baik. Dan tidak semua yang jauh itu salah.

Kadang, justru jaraklah yang menjaga kejernihan.

Sering kali, suara paling jujur datang dari mereka yang tidak memiliki kepentingan untuk terlalu dekat.