Kolom Mulyadi Opu Andi Latadampali: Robert Filmer dan Pengkhianatan Kaum Intelektual

  • Whatsapp
Robert Filmer (dok: Istmewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Inilah seorang filsuf besar yang memilih berseberangan jalan dengan para pendahulunya yang menjaga jarak dengan kekuasaan.

Namanya Robert Filmer, seorang filsuf politik asal Inggris yang cukup kesohor.

Namanya sedikit bertambah panjang setelah raja menganugerahinya Sir, gelar bangsawan sosial yang diterima setelah menjadi pembela kekuasaan despotis. Saya persilakan kepada anda untuk menelusuri sketsa biografinya.

Read More

Melalui filsafat politiknya yang mumpuni, Filmer mendekati gerbang istana untuk mendapatkan belas kasihan dari mahkota raja.

Filmer yang tidak tahan hidup dalam kesederahanan berusaha mencari cara untuk meninggalkan nasibnya yang dirasakannya hidup dalam kemalangan.

Lewat buku tipisnya, Partiarcha, yang padat argumentasi tentang perlunya Raja harus berkuasa seumur hidup dan turun temurun, Filmer berasil mengambil hati raja.

Sebagai imbalan atas dukungan filsafat politiknya kepada raja, istana memberinya gelar Sir disertai kekayaan berlimpah yang membuat parlemen puluhan kali menjarahnya.

Saat itu parlemen memang diisi oleh para bangsawan asli, yakni orang-orang yang mengabdi pada bangsanya.

Meski mendapat gelar bangsawan Sir, Filmer tetap dianggap bukan bangsawan lantaran sikap politiknya yang mendukung raja tidak sejalan dengan nada umum pertanyaan anggota parlemen, “jika kalian harus kaya mengapa kami mesti miskin?”

Bukan hanya parlemen yang menyerang keberpihakan politik Filmer. John Locke, filsuf paling berpengaruh saat itu, juga menyerangnya tanpa ragu.

Lewat dua jilid bukunya dengan judul yang sama, Two Treatises of Government: In the Former, The False Principles, and Foundation of Sir Robert Filmer, and His Followers, Are Detected and Overthrown, John Locke membantah habis argumen Filmer yang ditulisnya dalam Patriarcha.

Sosok yang ditampilkan Filmer itu hanya duplikasi dari sikap salah jalan dari murid durhaka Socrates, Critias.

Lalu diteruskan oleh para intelektual pencari keuntungan berikutnya, yang oleh Julien Benda ditulisnya dalam judul padat, “Penghianatan Kaum Intelektual”.

Berangkat dari duplikasi hidup Critias, Robert Filmer dan para intelektual Indonesia pencari keuntungan, sayapun memperkuatnya dengan istilah bandit politik dalam konstruksi teori saya, teori Oligarki Kembar Tiga.

Intelektual inilah yang menjadi musuh dalam selimut para intelektual pengabdi terutama yang ada di perguruan tinggi karena mereka lebih memilih menjadi penjaga gerbang oligarki politik (badut politik) dan oligarki ekonomi (bandar politik) dari pada berjuang untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Salam,
Mulyadi (Opu Tadampali)

Related posts