Palu pernah mengalami bencana besar yang mengubah wajah kawasan perkotaan sekaligus kehidupan masyarakatnya. Karena itu, melihat perkembangan ruang publik dan aktivitas ekonomi hari ini menghadirkan perspektif tersendiri tentang bagaimana sebuah kota membangun kembali kenyamanan dan kepercayaan warganya.
PELAKITA.ID — Kota tidak berubah hanya karena jalan diperlebar, taman dipercantik, lampu dipasang, atau bangunan baru bermunculan. Perubahan yang lebih mendasar terlihat ketika warganya mulai merawat ruang bersama, pelaku usaha memahami tanggung jawabnya, dan pemerintah mampu menghadirkan lingkungan yang nyaman bagi aktivitas sosial maupun ekonomi masyarakat.
Kesan itulah yang mengemuka dalam perjalanan menyusuri sejumlah sudut Kota Palu bersama Arief Sutte dan Lisa Bangkele, dua sahabat penulis yang merupakan warga Kota Palu.
Sabahat penulis, Rustan Rewa yang saat ini sebagai Asisten 3 Pemda Tolitoli menyampaikan kalau Kota Palu saat ini telah berubah dengan nyata, lebih tertata dan menjadi hub untuk layanan lintas daerah termasuk Tolittoli.
“Palu ini kota jasa yang terus berbenah,” kata Rustan Rewa via Whatsapp.
Pembaca sekalian, perjalanan yang berlangsung dalam suasana santai itu menjadi semacam bincang lepas, percakapan di antara kunjungan ke pusat kuliner, ruang publik, kawasan perdagangan, hingga tempat yang mempromosikan produk lokal dan cendera mata khas Palu.
Bagi seseorang yang pernah datang ke Palu pada 2015, perubahan kota ini terasa cukup mencolok.
Palu pernah mengalami bencana besar yang mengubah wajah kawasan perkotaan sekaligus kehidupan masyarakatnya. Karena itu, melihat perkembangan ruang publik dan aktivitas ekonomi hari ini menghadirkan perspektif tersendiri tentang bagaimana sebuah kota membangun kembali kenyamanan dan kepercayaan warganya.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kebersihan kawasan kuliner.
Di tengah aktivitas perdagangan dan kunjungan masyarakat, area yang disinggahi terlihat relatif bersih. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan sederhana, tetapi penting: bagaimana kebersihan dapat dipertahankan ketika pedagang dan pengunjung datang silih berganti, terutama pada malam akhir pekan ketika pusat keramaian biasanya dipadati orang?
Jawabannya tidak semata-mata terletak pada petugas kebersihan yang bekerja setelah aktivitas perdagangan selesai. Ada pola pengelolaan yang melibatkan pedagang, pembagian tanggung jawab, dan aturan yang harus dipatuhi bersama.
Muncul gambaran bahwa pedagang memiliki kewajiban membersihkan area usahanya, termasuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal ketika mereka menutup lapak.
Di kawasan kuliner yang dikunjungi, kebersihan tampak menjadi bagian dari tata kelola tempat usaha. Pedagang tidak cukup hanya datang, berjualan, memperoleh keuntungan, lalu meninggalkan lokasi dalam keadaan kotor. Mereka perlu ikut menjaga ruang yang setiap hari menjadi sumber penghidupan sekaligus tempat masyarakat berkumpul.
Ketegasan aturan dan tanggung jawab bersama
Percakapan itu juga menyinggung praktik pengelolaan kebersihan di Jepang, terutama mengenai penerapan aturan dan sanksi bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan. Dalam ilustrasi yang disampaikan, pelanggaran kebersihan dapat berujung pada penghentian aktivitas usaha untuk jangka waktu tertentu.
Dua sahabat kita itu adalah pemukim di Jepang bertahun silam.
Perbandingan tersebut membuka ruang refleksi mengenai pentingnya aturan yang tidak berhenti sebagai tulisan atau imbauan. Ketentuan yang jelas, pengawasan yang konsisten, dan konsekuensi yang diterapkan secara adil dapat membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan ruang publik.
Namun, ketegasan saja tidak cukup. Kebersihan kota juga membutuhkan sistem kerja yang berjalan setiap hari, petugas yang memiliki tanggung jawab jelas, serta partisipasi masyarakat yang tidak bergantung sepenuhnya pada kehadiran pemerintah.
Ketika pedagang menyadari bahwa lingkungan yang bersih turut menentukan kenyamanan pelanggan, kepatuhan terhadap aturan dapat berkembang menjadi kepentingan bersama.
Dalam perbincangan tersebut, muncul pula gambaran mengenai warga yang terlibat dalam pekerjaan kebersihan dan memperoleh imbalan dari aktivitasnya. Angka pembayaran untuk pekerjaan tertentu, tetapi rincian keseluruhan skema dan besaran pendapatan tidak cukup jelas untuk disimpulkan sebagai sistem resmi yang berlaku di seluruh Kota Palu.
Meski demikian, pokok persoalannya menarik: kebersihan bukan hanya urusan estetika kota, melainkan juga pekerjaan, tanggung jawab sosial, dan bagian dari kegiatan ekonomi. Pengelolaan yang baik berpeluang mempertemukan kepentingan pemerintah, pekerja kebersihan, pedagang, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Dari pusat kuliner hingga ruang publik
Perjalanan berikutnya memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat memberi pilihan bagi warga untuk beristirahat, bertemu, dan menikmati suasana kota.
Kawasan kuliner yang bersih, taman, pencahayaan, serta fasilitas yang tertata memberikan pengalaman berbeda dibandingkan ruang perkotaan yang hanya berfungsi sebagai jalur lalu lintas dan tempat transaksi ekonomi.
Sejumlah taman dan kawasan terbuka turut menjadi perhatian, termasuk Lasoso Park yang disebut memiliki pencahayaan, air mancur, layar videotron, serta elemen lanskap yang menarik perhatian pengunjung. Kehadiran fasilitas seperti ini memperlihatkan bahwa ruang publik dapat menjadi bagian penting dari pengalaman warga terhadap kotanya.
Akan tetapi, kualitas ruang publik tidak semestinya hanya diukur dari keindahan pada malam hari atau kemegahan fasilitas yang dibangun. Pemeliharaan, keamanan, aksesibilitas, kebersihan, dan keberlanjutan anggaran menjadi unsur yang menentukan apakah fasilitas tersebut benar-benar bermanfaat dalam jangka panjang.
Ruang publik yang hidup juga memberi peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi di sekitarnya. Orang yang datang untuk berjalan-jalan dapat berbelanja, menikmati makanan, bertemu teman, atau mengenal produk lokal. Dengan demikian, penataan kota dan pengembangan ekonomi masyarakat tidak harus dipisahkan sebagai dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri.

Buah lokal, usaha warga, dan cerita tentang nilai tambah
Di sela-sela perjalanan, percakapan beralih pada aktivitas perdagangan buah, khususnya mangga yang ditanam dan dijual oleh Lisa.
Cerita tentang pohon yang dirawat, buah yang dipanen, serta harga jual pada musim panen menghadirkan sisi lain dari kehidupan ekonomi Palu yang tidak selalu terlihat dari jalan-jalan utama.
Diceritakan Lisa, dia mengelola usaha yang berkaitan dengan hasil kebun sendiri. Pada musim yang baik, pendapatan dari penjualan mangga disebut dapat mencapai sekitar Rp6 juta, meskipun periode, biaya produksi, dan penghitungan keuntungan bersihnya tidak dijelaskan secara terperinci dalam percakapan.
Kisah pedagang buah ini melengkapi gambaran Kota Palu sebagai ruang yang mempertemukan berbagai kegiatan ekonomi. Di satu sisi terdapat pusat kuliner dan ruang publik yang menjadi tempat berkumpul masyarakat, sementara di sisi lain ada produsen dan pedagang yang menggantungkan pendapatan pada hasil kebun serta permintaan konsumen.
Identitas kota dan kebanggaan terhadap produk lokal
Kunjungan ke Baruga yang mempromosikan produk dan cendera mata Kota Palu menambahkan dimensi lain dalam perjalanan tersebut.
Di tempat itu, pengunjung dapat melihat berbagai produk yang berkaitan dengan identitas lokal, termasuk fesyen, furnitur, dan barang yang berpotensi dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Kehadiran ruang promosi semacam ini penting karena identitas kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan, taman, dan jalan, tetapi juga oleh karya, produk, serta kreativitas masyarakatnya. Produk lokal dapat menjadi penghubung antara pengalaman berkunjung dan ingatan tentang suatu daerah, sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar.
Bincang lepas sepanjang perjalanan itu memperlihatkan bahwa perubahan sebuah kota sesungguhnya dapat dibaca melalui hal-hal sederhana: tidak adanya sampah yang tertinggal di lapak, kesediaan pedagang membersihkan tempat usaha, taman yang dapat digunakan warga, serta produk lokal yang mendapat ruang untuk diperkenalkan.
Hal-hal tersebut memang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh persoalan perkotaan telah terselesaikan. Tantangan mengenai pengelolaan sampah, konsistensi pengawasan, kualitas pelayanan publik, dan pemerataan manfaat ekonomi tetap perlu dilihat melalui data serta pengalaman warga yang lebih luas. Namun, pengalaman lapangan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami praktik baik yang layak dipelajari dan dikembangkan.

Dalam suasana perjalanan yang santai, muncul kesan bahwa Palu telah mengalami perubahan berarti dibandingkan dengan pengalaman kunjungan pada 2015.
Kesan itu melahirkan komentar spontan bahwa kota ini layak memperoleh apresiasi atas upaya penataan lingkungannya, meskipun penilaian resmi mengenai penghargaan kebersihan tentu memerlukan rujukan tersendiri.
Palu, dalam perjalanan singkat ini, menghadirkan pelajaran tentang hubungan antara kebersihan, ruang publik, dan penghidupan warga. Sebab, kota yang nyaman bukan semata-mata kota yang terlihat indah dari kejauhan, melainkan kota yang mampu membuat orang betah berada di dalamnya, pedagang memperoleh kesempatan berusaha, dan masyarakat merasa memiliki tanggung jawab untuk merawatnya bersama.
Redaksi









