Beliau mengajarkan pentingnya integritas, kejujuran yang harus selaras dengan tindakan untuk menunjukkan kesejatian karakter manusia. Orang Bugis diajari kearifan leluhurnya oleh orang Sunda. Takut dan segan tadi seketika sirna dan beralih rasa menjadi kagum.
PELAKITA.ID – SAYA menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk “pelarian”, membaca buku tengah malam sambil mendengarkan musik Lo-fi sebagai background.
Dunia terlalu bising di layar handphone, otak membutuhkan ruang untuk jeda sebentar, dan cerita fiksi adalah kendaraan yang cukup baik untuk memperluas daya jelajah imajinasi. Saya sedang mengelilingi kota Praha bersama Robert Langdon.
Musik latar ini sebenarnya cara saya menipu telinga. Otak kita sering kali terlalu waspada pada suara mendadak yang memecah sunyi, dan dentum konsisten dari musik low fidelity ini berfungsi sebagai tirai.
Ia meratakan kebisingan di sekitar, membuat gangguan kecil tak lagi terasa mengejutkan, dan menciptakan ruang hening yang stabil di dalam kepala.
Di balik rasa nyaman yang dihasilkan, muncul pertanyaan yang mengusik, “Kok mood saya bisa setenang ini ya? Apa bedanya kalau saya membaca tanpa musik latar?”
Saya terhisap mesin waktu, terlempar ke kejadian dua puluh empat tahun silam.
***
KALAU bisa bicara, otakmu mungkin akan teriak. Siapa pula yang menyusun jadwal mata kuliah Mekanika Analisis pukul dua siang?
Kenyataan berkata lain, suasana kelas sudah diatur sedemikian rupa oleh dosen pengampu menjadi “ruang aman”. Kami, mahasiswa tingkat dua sudah mendengar nama besarnya dari para senior, nama yang kalau disebut bisa menimbulkan efek getar, takut, segan dan respect secara bersamaan. Orang Makassar menyimpulkannya dalam satu kata, kata yang terkategori menjadi kata kerja sekaligus kata sifat: Nekkere’.
Prof. Dr. Dadang Ahmad Suriamihardja berhasil menciptakan efek “Auditory Warmth” di dalam kelas. Suasana hangat itu dipicu oleh lagu-lagu Kitaro yang keluar dari loudspeaker laptopnya. Disetel dengan volume yang pas sebagai musik latar, mengusir semua ketegangan, kesan kaku dan intimidatif.
Alih-alih menjabarkan persamaan matematika dengan simbol-simbol dan rumus-rumus rumit, beliau memulai kuliahnya dengan pendekatan naratif.
Cerita-ceritanya diambil dari sesuatu yang cukup dekat. Karena paham mahasiswa yang ada di depannya mayoritas berasal dari suku Bugis-Makassar, maka dengan sadar beliau menyisipkan tema yang berangkat dari nilai-nilai budaya dan tradisi lokal.
Ada pepatah Bugis yang kerap beliau kutip ketika berdiri di depan kelas, “Sadda mappabati’ ada, ada mappabati’ gau’, gau’ mappabati’ tau,” yang artinya “Suara/bunyi mewujudkan kata, kata mewujudkan perbuatan, perbuatan mewujudkan manusia.”
Beliau mengajarkan pentingnya integritas, kejujuran yang harus selaras dengan tindakan untuk menunjukkan kesejatian karakter manusia. Orang Bugis diajari kearifan leluhurnya oleh orang Sunda. Takut dan segan tadi seketika sirna dan beralih rasa menjadi kagum.
Prof. Dadang membuka gerbang imajinasi dan memastikan materi kuliah mendarat dengan baik di otak mahasiswanya dengan menerapkan teknik optimasi fokus yang sangat efektif. Beliau menyisihkan potensi gangguan dengan menggunakan Kitaro sebagai “sound masking”.
Lagu-lagu Kitaro mempunyai nuansa megah namun tenang. Mendengarkannya sayup-sayup bisa membangun suasana hati yang positif.
Otak akan jauh lebih mudah menyerap informasi baru ketika berada dalam kondisi emosional yang stabil dan tidak terancam.
Belajar fisika adalah belajar tentang gerak alam semesta. Rumus matematika adalah bahasa lain untuk menjelaskannya. Yang terpenting di balik itu semua adalah pemahaman konseptual yang matang.
Saya merasa memiliki anomali. Karena kewalahan dengan rumus matematika, saya mundur ke belakang menelusuri ke tempat di mana dan bagaimana rumus-rumus itu lahir, yang berhulu ke satu induk ilmu lain, filsafat.
Ketertarikan saya justru lebih condong ke ilmu filsafat itu sendiri ketimbang ilmu fisika sebagai jurusan yang harusnya saya tekuni. Waktu kuliah akhirnya banyak terbuang demi mengakomodir rasa ingin tahu yang muncul berlebihan dari porsi yang seharusnya.
Karena teknik mengajarnya yang mengesankan, di pertemuan selanjutnya, saat sesi kuliah berakhir, saya menyandingi beliau ketika hendak kembali ke kantor jurusan. Saya mengajukan permintaan yang mungkin tidak pernah beliau dengar dari mahasiswa lain, “Pak, bolehkah saya masuk menyimak kuliah ke kelas manapun yang bapak ajar?” Beliau tersenyum dan menjawab, “Boleh, silakan.”
Saya tahu beliau mengajar mata kuliah lain seperti Metode Penelitian, Oseanografi, dan Ilmu Lingkungan. Jadilah saya sebagai orang asing di ruang kuliahnya, lintas program studi dan lintas angkatan.
Meskipun Metode Penelitian itu ditujukan untuk mahasiswa tingkat akhir, namun saya tahu bahwa materi di dalamnya mencakup tema tentang Filsafat Ilmu.
Saya palum, dahaga terpuaskan. Saya abai pada tatapan aneh penuh tanya dari peserta lain, “Ini dia hadir sebagai apa? Kenapa ikut di dalam kelas?” Soalnya, kedua mata kuliah itu tidak ada di dalam daftar kredit SKS yang saya ambil untuk semester yang sedang berjalan.
Belakangan baru saya ketahui, ada jenjang dalam metode belajar mandiri. Level autodidaktisme tidak sesederhana perkara “bisa atau tidak bisa”.
Salah satu puncaknya adalah ketika seseorang belajar bukan untuk mengejar nilai, gelar, atau tuntutan pekerjaan, melainkan murni didorong oleh “intellectual curiosity”.
Saya baru menyadari, alasan saya menjadi ‘penyusup’ adalah karena lingkungan kognitif yang dibangun Prof. Dadang mampu memberikan kepuasan intelektual yang tidak didapatkan di tempat lain.
Hingga lulus kuliah, saya tidak pernah mendengar istilah “Epistemologi” keluar dari mulut satu orang pun dosen fisika kecuali Prof. Dadang.
Sebagai penggemar filsafat, bagaimana mungkin matamu tidak berbinar?
***
“BAYANGKAN, bumi kita dilubangi dari kutub utara tembus hingga ke kutub selatan membentuk sebuah lorong. Dari atas, dijatuhkan sebuah benda, gravitasi pada pusat bumi menarik benda tersebut dengan kecepatan tertentu. Apa yang terjadi? Jelaskan dengan persamaan matematik!”
Prof. Dadang hanya masuk sebentar, menyampaikan soal mid-test dan berpesan untuk mengumpulkan lembar jawaban kepada Laboran jika sudah selesai, kemudian beliau pergi. Respons peserta ujian seragam: mata melotot, mulut menganga. Sebagian menunggu tubuh Bapak sempurna melewati pintu keluar baru kemudian melengkapinya dengan tawa.
Saya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan lembar jawaban. Saya dengan penuh keyakinan mengembalikannya dalam keadaan kosong. Saya tidak tahu sama sekali harus menulis apa di situ.
Kenangan atas kejadian itu tersimpan begitu kuat. Saya sampai ingat soal ujiannya. Pengalaman yang tertinggal di “core memory” tentu lahir karena cara Prof. Dadang mengajar yang melibatkan kognisi, emosi dan sensorik secara bersamaan.
Kemarin malam, saya mencoba memahami soal itu dengan bantuan Gemini. Ternyata, itu adalah soal klasik dalam kajian Mekanika Analisis.
Dianggap cukup elegan, karena bukan sekadar menguji kemampuan matematika, tetapi juga imajinasi tentang bagaimana gravitasi bekerja di dalam sebuah benda pejal. Fenomena ini dikenal sebagai “The Gravity Tunnel”.
Di dalam Terowongan Gravitasi, benda jatuh itu akan bergerak naik turun selamanya, seperti bermain Yo-yo abadi. Gerak bolak-balik itu disebut sebagai osilasi.
Jika ada bentuk gerak yang paling efisien dalam alam semesta, itu adalah osilasi—sebuah tarian yang menunjukkan bahwa perubahan dan keabadian bisa eksis secara bersamaan dalam satu pola yang berulang.
Saya membayangkan benda jatuh itu seperti deretan nada yang bergerak melintasi tangga nada, dari Do kembali ke Do. Do-Re-Mi-Fa-Sol-La-Si-Do — Do-Si-La-Sol-Fa-Mi-Re-Do.
Dari tanah kembali ke tanah. Satu siklus getaran yang menggambarkan hukum kekekalan energi dengan sangat cantik. Saya mengingat lagu-lagu Kitaro yang sering kali memiliki struktur melingkar, membawa pendengarnya “pergi” jauh ke alam imajinasi lalu menuntunnya “pulang” kembali ke titik tenang, titik kesetimbangan, “The Point of Stillness.”
Osilasi juga mengingatkan kita bahwa berada di bawah bukanlah sebuah akhir, melainkan fase akumulasi energi untuk kembali naik. Dalam konsep terowongan gravitasi tadi, kecepatan maksimal justru terjadi saat benda berada di titik terdalam. Secara filosofis, momen-momen tersulit atau terdalam dalam hidup sering kali menjadi karet ketapel yang mengantarkan kita melenting lebih jauh dan lebih tinggi.
***
PADA mulanya saya bertanya. Hanya gara-gara musik low-fidelity yang mampu mengaktifasi dopamin ringan ketika menemani saya membaca. Menelisik dampak yang ditimbulkan ke otak, saya mengayuh jauh, mengungkit memori-memori lama tentang perjalanan hidup yang di dalamnya dihiasi sentuhan lembut kecemerlangan buah pikiran Prof. Dadang.
Ternyata teknik belajar mengajar yang dulu beliau sajikan bukan hanya sekadar pilihan estetika, beliau sudah menerapkan teknologi kognitif di masa ketika kita masih buta terhadap bidang neurosains.
Bukan cuma sekadar ilmu pengetahuan dan laku integritas yang beliau wariskan, tetapi nilai-nilai filosofis terhadap fisika yang beliau ajarkan tetap relevan hingga masa sekarang. Saya cuma petik satu buahnya, dan menjadi tulisan sepanjang ini.
Sejak saya meninggalkan kampus hingga beliau meninggal 2022 lalu, saya tidak pernah lagi bertemu. Saya hanya mendengar kabarnya lalu lalang di media sosial.
Padahal, seandainya ada sempat, saya ingin bersalaman dan mencium punggung tangannya. Ketika saya bersisian dengannya dalam perjalanan menuju kantor jurusan siang itu, saya menghidu wangi parfumnya yang beraroma kayu. Terlalu berkesan, bahkan gangsi itu pun tertinggal di dalam memoriku.
Aroma itu meruap, melangit bersama tujuh ayat surat Al-Fatihah, Surga ki’ Orang Bae’. []
—
Sumber foto: Ahmad Yasir Baeda
Penulis Kaysan dapat ditemui di laman ini









