Iqbal Djawad | Belajar dari Petambak Udang Tradisional di Tengah Perubahan Iklim

  • Whatsapp
Prof Iqbal Djawad (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang petambak udang tradisional yang kisahnya menyimpan pelajaran penting tentang ketahanan dan adaptasi.

Ia adalah salah satu pelanggan awal benur produksi PT Sulawesi Agro Utama pada akhir 1980-an, dan telah mengelola tambak selama lebih dari tiga dekade.

Pengalamannya menjadi cermin bagaimana praktik tradisional yang diwariskan turun-temurun kini diuji oleh perubahan zaman—terutama oleh tekanan perubahan iklim yang semakin nyata.

Pada masa lalu, ia mengandalkan pengetahuan lokal untuk menentukan waktu terbaik menebar benur, yakni di peralihan musim hujan ke kemarau.

Logika di balik praktik ini sederhana namun kuat: berkurangnya curah hujan akan meningkatkan stabilitas salinitas air tambak, yang sebelumnya cenderung fluktuatif selama musim hujan.

Pendekatan ini terbukti efektif selama bertahun-tahun, menghasilkan siklus produksi yang relatif stabil. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pola tersebut mulai terganggu.

Perubahan iklim menghadirkan ketidakpastian baru. Fenomena seperti El Niño yang diprediksi terjadi pada 2026 membawa implikasi serius: suhu air meningkat, pola hujan tidak menentu, dan ekosistem tambak menjadi tidak stabil.

Udang yang dibudidayakan pun mengalami stres fisiologis, terutama pada sistem pencernaan yang menjadi titik lemah utama. Dalam kondisi stres, udang menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit, baik dari bakteri maupun virus yang kerap menjadi penyebab kematian massal.

Ilustrasi tambak dalam dua kondisi (dok: Ilustrasi oleh AI)

Petambak ini sempat mengalami kebingungan menghadapi situasi yang berubah drastis. Air tambak bisa sangat panas di siang hari, lalu tiba-tiba menjadi dingin saat hujan deras datang.

Dampaknya langsung terasa: nafsu makan udang menurun, pertumbuhan tidak optimal, dan tingkat kematian meningkat. Namun, dari rangkaian kegagalan itu, ia tidak menyerah.

Ia mulai mencatat, mengamati, dan memahami pola-pola baru yang muncul. Ia menyadari bahwa perubahan iklim bukan sesuatu yang bisa dilawan, melainkan harus dipahami dan diantisipasi.

Dalam dua tahun terakhir, ia mulai menerapkan berbagai penyesuaian sederhana namun berdampak signifikan. Ia menanam pohon bakau di sekitar tambaknya untuk membantu menstabilkan suhu air dan meredam angin kencang.

Ia juga memperdalam sebagian area tambak agar udang memiliki ruang berlindung dari suhu ekstrem. Selain itu, ia mulai rutin memantau kualitas air—seperti suhu dan pH—menggunakan alat sederhana. Langkah-langkah ini terbukti mampu menekan risiko stres dan kematian udang.

Perubahan juga dilakukan dalam manajemen pakan. Jika sebelumnya ia memberi pakan dalam jumlah tetap, kini ia menyesuaikannya dengan kondisi cuaca dan perilaku udang.

Saat suhu tinggi, ia mengurangi pakan untuk mencegah pencemaran air. Ia juga menurunkan padat tebar dan memilih benur yang telah melalui proses adaptasi (penggelondongan) sebelum ditebar ke tambak pembesaran.

Upaya ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan sistem pencernaan udang, yang sangat berperan dalam ketahanan terhadap stres. Selain itu, ia mulai menggunakan probiotik alami untuk menjaga kesehatan ekosistem tambak.

Hasilnya mulai terlihat. Udang yang dibudidayakan menjadi lebih tahan terhadap kondisi ekstrem, dan tingkat keberhasilan panen meningkat, meskipun belum sepenuhnya kembali seperti masa lalu.

Ia juga memahami bahwa daya dukung tambak secara alami hanya memungkinkan siklus produksi sekitar 60 hari untuk mencapai hasil optimal.

Menariknya, praktik yang ia terapkan sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan oleh sejumlah akademisi dan praktisi, termasuk sahabat saya, Saenong, yang telah lama mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknik budidaya modern.

Pendekatan ini menekankan bahwa inovasi tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi, tetapi bisa lahir dari pemahaman mendalam terhadap alam dan pengalaman lapangan.

Kini, praktik-praktik yang ia terapkan mulai diikuti oleh petambak lain di desanya.

Mereka saling berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mencari solusi bersama. Dari sinilah muncul kekuatan kolektif yang menjadi modal sosial penting dalam menghadapi ketidakpastian.

Kisah ini menunjukkan bahwa petambak tradisional pun memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kunci utamanya bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada keterbukaan untuk belajar, keberanian untuk berubah, dan kesediaan untuk berdamai dengan dinamika alam.

Di tengah tantangan iklim yang semakin kompleks, semangat seperti inilah yang menjaga harapan tetap hidup di tambak-tambak sederhana di pesisir Sulawesi Selatan—wilayah yang sejak 1970-an telah menjadi bagian penting dari sejarah awal budidaya udang di Indonesia.

___
Editor Denun