PELAKITA.ID – Pertemuan itu terjadi tanpa rencana. Namun bagi Rustan Rewa, Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemda Tolitoli, momen tersebut meninggalkan kesan yang mendalam—sebuah perjumpaan singkat dengan sosok yang ia sebut sebagai “dokter inovatif,” yang membawa semangat pengabdian dan gagasan besar di bidang kedokteran.
“Alhamdulillah, secara tidak sengaja kami dipertemukan,” ujar Rustan membuka ceritanya setelah bertemu dr. Mujahid.
Ia mengaku, sosok dokter tersebut ternyata bukan orang yang sepenuhnya asing.
Sekitar dua dekade lalu, saat masih kecil, Rustan kerap berkunjung ke Kantor Kehutanan Tolitoli—tempat di mana ibu dari sang dokter juga bekerja.
Dari sanalah, benang masa lalu dan masa kini seakan terhubung kembali dalam pertemuan yang tak direncanakan itu.
Menurut Rustan, dokter tersebut merupakan lulusan dari Tiongkok dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius, dengan akar budaya Bugis yang kuat.
Nilai-nilai itu, menurutnya, membentuk karakter sang dokter—tidak hanya sebagai profesional di bidang medis, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki visi pengabdian untuk masyarakat.
“Dari pertemuan singkat itu, kami menangkap bahwa beliau memiliki gagasan yang luar biasa untuk pengabdian di bidang kedokteran,” ungkap pria asal Jeneponto yang juga baru saja menghadiri wisuda anaknya dr. Yosfiah Asrizal Rewa, M.Biomed: di Unhas sebulan lalu.
Dalam diskusi singkat mereka, sang dokter bahkan sempat mengajak Rustan melihat langsung konsep dan ruang kerja yang ia gagas.
Beberapa di antaranya meliputi pengembangan *Digital and Precision Medicine*, kolaborasi berbasis teknologi dengan pendekatan *hands-on*, sistem layanan kesehatan integratif, hingga pemanfaatan telemedicine dan monitoring jarak jauh.
Bagi Rustan, ide-ide tersebut bukan sekadar konsep, melainkan cerminan dari visi besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih adaptif, modern, dan menjangkau lebih luas.
“Sang dokter punya gagasan besar untuk negeri,” tegasnya.
Di akhir pertemuan, Rustan menyampaikan harapan dan doa. Ia mendorong sang dokter untuk terus melangkah tanpa ragu dalam mengabdikan diri bagi kemaslahatan umat.
“Doa kami untuk kesuksesan beliau. Jangan takut melangkah demi kebaikan yang lebih luas. Sandarkan semua kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan awali setiap langkah dengan Bismillah,” tutupnya.
Pertemuan singkat itu mungkin telah usai, namun gagasan dan semangat yang tertinggal menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap berawal dari percakapan sederhana—dan keberanian untuk mewujudkannya.









