Kondisi Tambak Udang Sulsel: Produksi, Tantangan, dan Pendekatan Tata Kelola

  • Whatsapp
Kadis KP Sulsel Muhammad Ilyas

PELAKITA.ID – Sektor budidaya udang di Sulawesi Selatan (Sulsel) tengah berada di persimpangan penting antara mempertahankan pendekatan tradisional dan beralih ke sistem berbasis teknologi.

Dalam paparannya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Muhammad Ilyas, menegaskan bahwa transformasi tata kelola menjadi kebutuhan mendesak jika daerah ini ingin tetap kompetitif dalam produksi udang nasional maupun global.

Produksi: Dominasi Udang Vaname atas Windu

Dalam lima tahun terakhir, terjadi pergeseran signifikan dalam struktur produksi udang di Sulsel. Udang vaname kini mendominasi jauh di atas udang windu. Padahal, luas tambak tradisional di Sulsel mencapai sekitar 120.000 hingga 156.000 hektare.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: sistem budidaya tradisional yang selama ini identik dengan udang windu tidak lagi mampu mengejar produktivitas.

Bahkan, uji coba tambak tradisional menunjukkan produksi yang sangat rendah—tidak mencapai 100 kg per hektare, jauh dari target ideal.

Kondisi ini mempertegas bahwa masa depan budidaya udang tidak bisa lagi bergantung pada pola lama. Transformasi menuju sistem berbasis teknologi menjadi keniscayaan.

Program dan Intervensi: Dari Pandawa 1000 ke Kekosongan Kebijakan

Pemerintah daerah sebenarnya pernah menjalankan program strategis seperti “Pandawa 1000” pada periode 2021–2023 yang mencakup pengembangan tambak hingga 1.000 hektare. Selain itu, bantuan benur kepada pembudidaya tradisional juga menunjukkan hasil yang cukup baik.

Saat ini program-program tersebut telah berhenti, sehingga tidak ada lagi intervensi khusus dari pemerintah daerah. Kekosongan ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan sektor budidaya udang.

Tantangan Utama: Dari Benur hingga Infrastruktur

Sejumlah tantangan krusial masih membayangi pengembangan tambak udang di Sulsel:

  • Kualitas benur yang belum kompetitif, terutama untuk udang windu
  • Perubahan lingkungan dan iklim, yang menuntut adaptasi teknologi budidaya
  • Penyakit udang dan kualitas air yang semakin kompleks
  • Keterbatasan infrastruktur, termasuk saluran air primer hingga tersier
  • Akses pembiayaan rendah, terlihat dari minimnya penyaluran KUR sektor perikanan
  • Kapasitas SDM dan hatchery yang stagnan, bahkan cenderung menurun

Menariknya, beberapa hatchery milik pemerintah justru mengalami kemunduran. Alih-alih memproduksi induk unggul, mereka kini lebih memilih membeli benur (nauplius) untuk dibesarkan, akibat keterbatasan teknologi dan sumber daya.

Dilema Pendekatan: Tradisional vs Teknologi

Diskursus yang berkembang saat ini memperlihatkan dua pendekatan:

  1. Pendekatan berbasis lingkungan (environmental-based)
    Seperti yang didorong oleh berbagai pihak, termasuk organisasi seperti Blue Forest, yang menekankan rehabilitasi ekosistem seperti mangrove dan praktik budidaya tradisional ramah lingkungan.
  2. Pendekatan berbasis teknologi (intensif dan semi-intensif)
    Seperti yang diterapkan pada udang vaname dengan padat tebar tinggi, penggunaan sistem monitoring digital, hingga rekayasa genetik.

Menurut Ilyas, kedua pendekatan ini tidak harus saling meniadakan. Budidaya windu tetap bisa dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan, tetapi jika targetnya adalah peningkatan produksi, maka teknologi menjadi kunci.

Arah Masa Depan: Modernisasi dan Kolaborasi

Ke depan, penguatan sektor tambak udang di Sulsel membutuhkan beberapa langkah strategis:

  • Peningkatan kualitas benur, termasuk kemungkinan pengembangan rekayasa genetik
  • Modernisasi tambak, melalui digitalisasi dan smart aquaculture
  • Revitalisasi hatchery daerah, dengan dukungan SDM dan teknologi
  • Penguatan ekosistem industri dari hulu ke hilir
  • Pengembangan model percontohan lintas kabupaten, sebagai basis kebijakan

Ilyas juga mendorong peran aktif alumni, akademisi, dan praktisi untuk terlibat langsung dalam merancang solusi konkret. Salah satu gagasan yang muncul adalah membangun tambak percontohan berbasis kolaborasi yang dapat menjadi model bagi pemerintah daerah maupun pusat.

Dampak Ekonomi dan Urgensi Aksi

Sektor tambak udang memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, khususnya di wilayah pesisir. Permintaan pasar global, termasuk dari Jepang, masih sangat tinggi dan stabil.

Namun, jika tantangan tidak segera diatasi, risiko yang muncul adalah penurunan produktivitas, meningkatnya gagal panen, hingga peralihan petambak ke komoditas lain seperti bandeng atau nila yang dianggap lebih aman.

Saatnya Berani Berubah

Paparan ini menegaskan bahwa Sulawesi Selatan memiliki potensi besar dalam budidaya udang, tetapi membutuhkan perubahan paradigma. Tidak cukup hanya mengandalkan program jangka pendek atau pendekatan parsial.

Diperlukan desain kebijakan yang terstruktur, berbasis data, dan melibatkan kolaborasi multipihak. Transformasi dari tambak tradisional menuju sistem yang adaptif, modern, dan berkelanjutan menjadi kunci untuk menjawab tantangan sekaligus menangkap peluang di masa depan.